Inginku, Bisa Berhijrah Pada Semua Sudut Kehidupan

By HAERIAH SYAMSUDDIN - Thursday, May 16, 2019



Bang bing bung, yok kita ke bank
Bang bing bung, hei kita nabung
Tang ting tung, hei,jangan dihitung
Tahu-tahu kita nanti dapat untung

Dari kecil kita mulai menabung
Supaya hidup kita beruntung
Mau keliling dunia ada uangnya
Juga untuk membeli istana

Ada yang ingat lagu anak-anak  di atas? Yes, lagu di atas judulnya "Ayo Menabung" ciptaan Ibu Titiek Puspa. Bagi saya lagu "Ayo Menabung" itu memberi kesan tersendiri bagi saya saat itu, seorang anak kecil dengan segudang mimpi dan keinginan. Sejak kecil, saya memang sudah memiliki banyak mimpi. Salah satu mimpiku adalah bisa keliling dunia. Dan, karena kedua orang tuaku bukan orang kaya, maka menabung adalah solusinya. Karenanya, dari lagu di atas, saya paling terkesan dengan kalimat "dari kecil kita mulai menabung" dan "mau keliling dunia ada uangnya.".  

Kecil-Kecil Sudah Menabung

Saya sudah mengenal tabungan sejak SD. Bukan menabung lewat celengan ayam, lho, ya. Alhamdulillah, kedua orang tuaku care banget masalah ini. Mereka yang mengajarkanku membuka tabungan di sebuah bank yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan orang tua memilih bank ini, karena dekat dari rumah. Jadi, transaksi-transaksi yang akan dilakukan bisa lebih mudah, cepat, dan praktis.

Pertama kali membuka rekening, saya ditemani Mama, selanjutnya semua kulakukan sendiri. Alhamdulillah, sejak kecil saya sudah terbiasa mandiri. Apalagi, sebagai anak sulung, saya selalu ingin menunjukkan kepada Bapak dan Mama kalau anaknya ini bisa diandalkan.

Sumer gambar di sini

Saat itu, keren banget rasanya  punya buku tabungan sendiri. Ada yang kenal buku tabungan di atas? Namanya TABANAS (Tabungan Pembangunan Nasional). Buku tabungan ini dikeluarkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI). Namun, pembukaan tabungan serta transaksi menabung maupun penarikan uang bisa dilakukan di kantor pos. Btw, ada yang pernah punya buku tabungan jadul ini, gak?

Terkadang kalau lagi iseng, saya sering memamerkan buku tabungan tersebut ke teman-teman. Biasanya, teman-temanku mendadak ngiler dan pengen punya juga. Namun, ketika tahu kalau sejumlah uang yang tertera di sana adalah kumpulan uang jajanku, mereka langsung melipir.

"Aih, mendingan duitnya buat jajan."

Hu hu hu 

Qadarallah, uang tabunganku tersebut tidak bisa mewujudkan cita-citaku keliling dunia. Kondisi Bapak yang saat itu sakit-sakitan, membuat seluruh harta dan tabungan terkuras habis untuk biaya pengobatan beliau. Dan, di tahun 1991, Bapak pun meninggalkan kami untuk selamanya. 

Saya kembali menabung ketika duduk di bangku kuliah. Waktu itu, saya sudah aktif menulis dan tentu saja sudah mendapatkan honor menulis. Meski tak banyak, tetapi lumayanlah buat anak kuliahan saat itu.

Satu kesyukuranku, sejak kecil orang tua selalu mengajarkanku untuk menabung. Sekecil apa pun uang yang kumiliki, selalu ada yang dianjurkan untuk ditabung. Kebiasaan ini yang saya teruskan ke anak-anak. Mengajarkan mereka menabung dan senantiasa berhemat dalam segala hal.

Kisah Hijrahku


Saya memutuskan mengenakan hijab secara kaffah ketika berada di semester akhir. Boleh dibilang, kisah hijrahku lumayan menguras air mata jika diingat. Tak seorang pun dari keluargaku yang mendukung keputusan hijrahku tersebut. Bahkan, saya sempat akan dibawa ke "orang pintar" gara-gara keluargaku khawatir saya terkena hipnotis aliran sesat.

Saya memaklumi, sikap yang diambil keluargaku. Tentu saja, keputusanku tersebut diambil di "waktu yang tidak tepat". Waktu itu, saya tinggal selangkah lagi untuk menyelesaikan kuliahku dan kebetulan sudah ada beberapa tawaran pekerjaan menarik datang menghampiriku berkat koneksi keluarga dan teman.

Di tengah keterbatasan ekonomi karena sang nakhoda keluarga telah pergi untuk selamanya, tentu saja harapan keluarga bergantung padaku. Tak ada yang salah dengan semua itu. Sayangnya, tawaran pekerjaan yang datang  tidak sesuai dengan konsep syariat sebagaimana yang telah saya pelajari dalam pengajian dan tarbiyah yang saya ikuti.

"Pekerjaan A mengharuskanku terlibat dengan riba"

"Pekerjaan B mengharuskanku membuka jilbab, sehelai kain yang telah kuputuskan untuk menjadi penutup aurat dan bukti ketaatanku kepada perintah Rabbku."

Kedua tawaran pekerjaan itu kuanggap sebagai ujian atas jalan yang telah saya pilih. Ujian atas keimananku. Ujian untuk mengetahui sejauh mana ke-istiqomahanku berhijrah.

Dengan mantap saya menolak semua tawaran waktu itu. Tentu saja, keluargaku semakin marah. Sebelumnya, keputusanku berhijab syar'i telah ditentang habis-habisan, tetapi saya nekad. Kini, saya kembali "menantang" dengan menolak pekerjaan yang diimpikan banyak orang. Pekerjaan yang tidak saja akan memberiku materi yang tidak sedikit, tetapi juga akan mendongkrak posisiku di masyarakat.

Alhamdulillah, saya mampu melewati semua itu. Kini, semuanya menjadi kenangan dan semoga semua ujian tersebut menjadi amalan shalih dan penggugur dosa-dosaku selama ini.

Lalu, apa hubungannya dengan tabungan? Jadi begini. Yang namanya hijrah, pastinya kita ingin total mengislamkan semua aspek kehidupan, termasuk dengan urusan tabungan. Qadarallah, sampai saat ini saya masih berurusan dengan bank konvensional yang notabene di dalamnya masih bergerak secara konvensional.

Inginku, satu hari nanti, saya bisa kaffah berhijrah. Saat ini saya mempunyai 3 rekening tabungan, dua masih di bank konvensional dan satu sudah di bank syariah. Mudah-mudahan, saat pulang kampung nanti, saya bisa segera mengurus semuanya agar nantinya tabunganku juga sudah berhijrah.

Aamiin.

  • Share:

You Might Also Like

34 komentar

  1. Semoga terwujud mimpinya saat pulang kampung nanti ya, Mbak. Saya juga sudah mulai mengajarkan menabung pada anak nih

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah, semoga bisa mencapai berhijrah dengan lancar dan istiqomah ya mbak...

    ReplyDelete
  3. Aamiin, semoga ya mba dimudahkan langkah hijrahnya di segala aspek kehidupan termasuk urusan perbankan.

    ReplyDelete
  4. Sayangnya saya tidak bisa betul-betul berhijrah dengan tabungan, hiks

    Sebagai ASN, semua pendapatan atau gaji masuk ke rekening konvensional, tidak ada lagi diterima langsung dari bendahara kantor

    ReplyDelete
  5. Lihat gambar buku Tabanas jadi inget dulu punya juga...
    Nabungnya di kantor pos kecamatan , naik sepeda ke sananya. Duh, seneng bener

    Semoga dimudahkan rberhijrahnya termasuk dalam mengubah rekening ke bank syariah ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyik, ada yang dulu punya Tabanas juga. Seru ya, kecil-kecil udah punya tabungan sendiri.

      Delete
  6. Semoga dimudahkan langkah berhijrah total ya Mbak, termasuk mengurus tabungan. Dipindahbukukan saja ke tabungan di bank syariah.

    ReplyDelete
  7. Masya Allah, salut saya mbak. Pasti tidak mudah melewati hari hari saat menolak pekerjaan karena alasan hijrah. Semoga tetap istikomah ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga kita selalu istiqomah di jalan-Nya.

      Delete
  8. Aku juga masih menggunakan bank konvensional, Mbak. Sementara ini hijrahnya baru menghindari utang riba dan cicilan. Semoga bisa istiqomah.

    ReplyDelete
  9. Hijrah secara menyeluruh pasti butuh proses juga ya mbak. Semoga istiqomah ya, saya baru mau buka juga tabungan yang syariah setelah melunasi riba, dan semoga tidak terjerumus lagi kepada riba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Proses itu sesungguhnya adalah saringan, apakah kita kuat atau tidak.

      Delete
  10. Semoga diberi kelancaran dan kekuatan untuk menjalani proses hijrahnya dengan baik ya mba...

    ReplyDelete
  11. He he he ingat waktu SMP, setiap hari Jum'at, sambil menunggu shalat Jum'at di sekolah, benabung uang jajan seminggu ke kantor pos dekat sekolah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu, kita bisa menabung Tabanas lewat kantor pos. Kira-kira, sekarang masih seperti itukah?

      Delete
  12. Tabanas mah tabungan saya pas masih kelas 4 SD. Jadi throwback nih.
    Hijrah memang meliputi segala aspek hidup ya, Mbak. Pekerjaan saya dulu juga ada bersinggungan dengan riba. Alhamdulillah, sudah good bye.
    Sekarang saya hanya punya 1 rekening bank syariah. Tentram :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, mba sudah bisa keluar dari lingkaran riba. Semoga istiqomah dan hasil yang didapat sekarang lebih berkah dunia akhirat.

      Delete
  13. Hijrah, berubah ke arah yang lebih baik memang akan mendatangkan banyak pertentangan ya, Mbak. Terutama bagi mereka yang hanya memikirkan soal duniawi saja.
    Semoga niat hijrahnya tetap istiqomah dan bisa segera menyelesaikan urusan yang ada di kampung ya, Mbak

    ReplyDelete
  14. Dulu saya juga punya buku tabungan pas SD. Semoga istiqamah berhijrah, ya, Mbak. Ini harapan untuk diri saya juga.


    Memang cerita tentang hijrah menggunakan hijab ada saja ujiannya, dulu saya juga gitu. Ibu malah bilang kalau pakai jilbab nanti takutnya ini dan itu. Alhamdulillah sekarang malah ibu saya juga udah berhijab. Meski belum sempurna, belum bisa syar'i seperti kebanyakan orang, tapi saya sedang berproses, sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, orang-orang yang dulu menentang kini telah terbuka hatinya. Semoga kita semua dimudahkan segala urusannya dan senantiasa diberi keistiqomahan.

      Delete
  15. Aamiin semoga tetap istiqomah ya, Mbak. Berat memang perjalanan hijrah. Bukan semata-mata ganti kostum saja, tapi perubahan atas segala aspek kehidupan juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar banget, Mba. Hijrah bukan semata berganti kostum karena ada yang tidak kalah penting dari itu.

      Delete
  16. Maa syaa Allaah kisah hijrahnya menginspirasi sekali Mbak. Memang nggak mudah ya apalagi sampai ditentang keluarga gitu. Tapi alhamdulillaah Mbak bisa melewati fase berat itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, semua sudah berlalu dan kalau diingat-ingat justru menjadi kenangan yang tak terlupakan.

      Delete
  17. Aamiin
    Saya berharap juga dapat istiqomah.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang baik. Happy Blogging