Alhamdulillah, tanggal 29 November 2019 kemarin, Khaulah, anak ketigaku mulai memasuki masa baligh. Ya, Khaulah mendapatkan haid pertamanya tepat ketika kami liburan di Bogor. Agak panik juga sih saat itu, apalagi situasinya lumayan tidak mendukung. Suami sedang ke kampus karena ada rapat hingga malam, si anak bujang yang sedang di kampus tidak bisa datang karena sedang ada kuliah dan saat akan datang ke penginapan, hujan turun dengan sangat deras (hujan Bogor, gitu lho!).

Adapun saya, tidak bisa keluar membeli pembalut karena lokasi penginapan yang tepat berada di depan rumah orang tua Mba Princess, Syahrini (yaelah, apa hubungannya) eh maksudnya, di sekitaran situ gak ada warung atau toko. Warung terdekat ada di jalan besar yang berjarak sekitar 500 meter. So, paling bijak adalah menunggu sang pahlawan keluarga datang, hehehe.

Alhamdulillah, selain drama pembalut, tak ada drama lain yang berarti. Sebelumnya, Khaulah telah paham tentang haid karena selama ini saya sering memberitahukan akan hal tersebut dan juga ia telah melihat bagaimana kakaknya yang usianya hanya berjarak dua tahun dengannya saat mendapatkan haid pertamanya di rumah.

Edukasi tentang haid dan permasalahannya merupakan hal yang penting untuk dibahas bersama anak agar kelak ketika haid itu datang, mereka bisa menghadapinya dengan tenang.

Baca Juga: Haid, Tanda Kamu Sudah Dewasa, Nak

Terbayang dulu saat saya mendapatkan haid pertama. Saya mendapatkan edukasi tentang haid justru dari bacaan karena orang tuaku termasuk penganut paham tabu untuk membicarakan hal tersebut. Saya malah tahu cara memakai pembalut dari teman sekolahku yang telah haid terlebih dahulu. Waktu itu, kami berdua ngumpet agar temanku bisa mempraktikkan langsung cara pemakaian pembalut di pakaian dalam. Kebetulan, saat itu ada teman lelaki yang kepo. Mungkin dikiranya kita lagi ngapain gitu. Karena kesal, temanku malah nyodorin tuh pembalut ke dia. Akhirnya, teman lelaki itu yang ngacir karena malu. Hihihi.

Kembali ke soal haid, secara umum, menstruasi terjadi pada anak umur 12-14 tahun (btw, adikku malah haid di usia 15 tahun). Namun, disebabkan banyaknya pola hidup dan pola makan yang kurang baik  sehingga berpengaruh kepada pertumbuhan hormon,  bisa saja anak-anak mengalami haid lebih awal.

Tips bagi orang tua saat haid pertama anak datang berdasarkan pengalamanku dengan Khaulah

1. Berikan Ucapan Selamat

Haid merupakan tanda akil baligh seorang anak perempuan

Ketika Khaulah memberitahu kalau ia telah haid, yang pertama kali kulakukan adalah memberinya selamat karena kini ia telah beranjak dewasa. Ini juga berarti bahwa organ reproduksinya sudah bekerja sempurna sehingga ia harus bisa menjaga diri dengan baik.  

Selama ini, saya juga telah memberikan gambaran bahwa haid merupakan tanda akil baligh bagi anak perempuan. Artinya, dalam Islam ia bukan lagi anak-anak karena hukum syariat telah dibebankan kepadanya.

2. Berikan Edukasi

Alhamdulillah, Khaulah mendapatkan haid pertamanya saat kami berada bersama di rumah, meski bukan rumah sendiri karena lagi  di penginapan. Khaulah yang mendapatkan haidnya di siang hari terpaksa harus merasakan ketidaknyamanan selama beberapa jam sembari menunggu si Abah datang membawa pembalut.

Segera setelahnya, saya mengajarkan pemakaian pembalut serta cara membersihkan pembalut serta pakaian dalam maupun pakaiannya yang sekiranya nanti terkena noda darah.  

Sebenarnya sebelum ini, saya telah mengedukasi Khaulah akan hal tersebut. Terlebih, ia juga menyaksikan sendiri peristiwa ketika kakaknya mendapatkan haid pertama di rumah. Namun, dengan mempraktikkan dan merasakan sendiri pengalaman mengenakan pembalut saat haid tentu berbeda dengan sekadar melihat pengalaman kakaknya.

Tak lupa juga saya memberitahukan beberapa hal yang biasa terjadi pada perempuan yang sedang haid, seperti kram perut, nyeri punggung, atau payudara mengeras sebelum atau selama menstruasi.

. Redam Kekhawatiran dan Ketidaknyamannya


Redam kekhawatiran dan ketidaknyamanan anak selama haid

Saat haid, Khaulah senantiasa mengeluh mual dan sakit kepala. Akibatnya, beberapa agenda liburan terpaksa dibatalkan karena ia tidak kuat bepergian. Bahkan, Khaulah sempat diserang sakit kepala yang hebat, badannya demam, serta mual.

Alhamdulillah, saya membawa  obat-obatan dari Malaysia karena beberapa hari sebelum ke Bogor, saya sempat kurang enak badan selama dua pekan. Kemungkinan, rasa sakit yang diderita Khaulah juga mungkin disebabkan fisiknya yang memang lebih lemah dibanding kakaknya sehingga haid pertama ini membuat badannya menjadi lemas.

Alhamdulillah, haid pertama Khaulah berhasil dilaluinya dengan baik. Insya Allah ke depan, ia bisa menjalani masa-masa ini dengan lebih baik dan tenang.
*


Perhatikan Hal-Hal Berikut Ketika Anak Pertama Kali Haid
1. 
Batasi anak mengonsumsi  makanan dan minuman dingin untuk meningkatkan sirkulasi darah di punggung bagian bawah dan perut bagian bawah anak. Selain itu, jauhkan juga anak dari lingkungan yang terlalu dingin. 
2. 
Larang anak melakukan olahraga yang berat.
3. 
Biarkan anak beristirahat lebih lama agar ia dapat terbantu untuk beradaptasi dengan kondisi barunya yang bisa saja ikut memengaruhi fisik dan emosinya.
4. 
Terkadang, ada anak yang lebih memilih untuk menahan buang air kecil dan malas ke kamar kecil karena harus ribet gonta-ganti pembalut. Ajarkan anak untuk menghindari hal ini.
5. 
Perbanyak mengonsumsi makanan yang sehat, seperti sayuran hijau, telur, kacang-kacangan, dan rumput laut.
6. 
Jauhkan anak dari stres.
7. 
Selama anak menjalani masa haid pertamanya, beri perhatian lebih pada kondisi kesehatannya. Hal ini disebabkan banyak masalah kesehatan wanita berawal saat haid pertama datang.
Namun, jangan memberikan suplemen nutrisi  secara sembarangan tanpa resep atau anjuran dokter dan sekiranya  haid pertama anak berbeda dengan yang pernah Anda alami, konsultasikan dengan bidan atau dokter supaya tidak bingung. 
Hindari mempercayai  saran ataupun mitos dari orang lain yang tidak memiliki pengetahuan medis yang  memadai.  

Referensi:
popmama.com



17 Comments

  1. Saat anak perempuan saya mendapat haid pertama kali, kebetulan sekali dia dapatnya lagi di rumah, jadi gak begitu repot.
    Pengetahuan seputar haid sendiri sudah dia dapatkan di sekolah dan teman dekatnya. Anak saya banyak belajar dari sahabatnya itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, anaknya mba Nurul dapatnya pas lagid di rumah. Kebayang kalau lgi di luar dan kebetulan tidak dengan kita. Huah, bisa agak runyam...

      Delete
  2. Yuni pas haid pertama, saat Yuni sedang ada kegiatan MOS di sekolah. Waktu itu ada acara nginep di sekolahnya segala. Duh nano-nano. Emak kan nggak ada waktu itu. Baru pas pulang, emak ngajarin ini-itu-ono yang kurang lebih sama lah sama yang diajarkan ke Khaulah. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. kebayang paniknya mba Yuni waktu itu, lagi asyik berkegiatan tiba-tiba berlumuran darah, hehehe

      Delete
  3. Wahhh bekal buatku banget ini. Secara dulu pas haid pertama datangnya awal banget dibanding teman seusia. Jadilah ketanam di otak kalau haid itu sesuatu yang menyeramkan, menyebalkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaan mba, saya juga dapat haidnya dulu lebih awal dibanding teman-teman yang lain.

      Delete
  4. Wah jadi ingat lagi haid pertamaku dulu. Alhamdulillah pas di rumah juga. Dan sama Bun karena keluargaku termasuk tabu dgn hal ini, jadi aku malah sedikit takut dan akhirnya tahu sendiri. Semoga kelak anakku lebih siap , terima kasih tipsnya ya Bun

    ReplyDelete
  5. Memang benar Mbak. Peran orang tua dalam mendampingi anak saat baliq itu sangat besar sekali. Kebetulan anak saya yang pertama laki-laki. Jadi saya harus melakukan pendekatan dengan ngobrol tentang masa baliq itu, karena kalau anak laki-laki tidak kelihatan tandanya kayak anak perempuan. Ilmu ini berguna bagi saya nanti untuk anak perempuan saya kelak, jika sudah memasuki usia baliq. Sekarang masih 6 tahun.

    ReplyDelete
  6. Nambah insight lagi buat bekal, punya anak perempuan 2 ini. Masih jauh sih, yg sulung aja masih 5th, hehe.

    ReplyDelete
  7. Masyaallah, Khaulah sudah dewasa bentar lagi mantu ya. Tak terasa aku akan punya cucu, laah, wkwkwk. Wah baca kisah pertama Khaulah haid kaya aku haid dulu wkwkwk. bikin geger satu rumah jadi inget lagi kan, lucu ya. Welcome to the club Khaulah ~

    ReplyDelete
  8. Wah aku gak punya anak cewek, jd nggak punya pengalaman dengan hal spt ini. Hanya saja dulu pas aku remaja, inget banget dpt haid pertama di rumah. Dan sama sepertinha ortuku tergolong agak tabu membicarakan hal ini sebelumnya. Jd aku agak takut. Dan banyak tahu jg justru dari oranglain.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah Khaulah sudah akil baligh ya Mbak Ria..
    Bagus sekali ini tipsnya, meski anakku laki-laki semua pasti bermanfaat juga buat wawasan.
    Karena akupun juga dulu tahu tentang haid dari teman-teman. Meski setalah ngasih tahu Ibu, dijelaskan juga. Kalau sekarang anak-anak kita lebih beruntung karena pendidikan seksual sudah langsung diberikan orang tuanya.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah, Khaulah sudah akil baligh. Di sekolah, anak-anak kelas 6 ada pelajaran tentang haidh ini mbak. Kebetulan ngajar di kampung, yang informasi begini ortunya kurang peduli. Saya selalu menjelaskan dengan detail kepada anak-anak tentang haidh pertamanya nanti. Di rumah, alhamdulillah, waktu anak pertama mendapatkan haid pertama kalinya, dia juga sudah saya edukasi. Tinggal anak kedua nih. Makasih tipsnya ya mbak, jadi nambah wawasan saya.

    ReplyDelete
  11. Alhamfulillah dek Khaulah sdh haid pertama. Alhamdulillah bundanya juga sdh sigap menghadapi dek Khaulah yg mengalami haid pertama.

    Sehat terus ya dek, mulai mawas diri mulai hari ini.
    Moga nanti jadi anak yg sholeh.
    Aamiin

    ReplyDelete
  12. Jadi ingat si bungsu waktu haid pertama, dia datang dengan muka pucat terus bilang.
    "Ma, sekarang nda bisama lagi bolos salat." Hahaha...

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah ya mb putrinya sdh msk fase berikutnya, bkn anak2 lg tp remaja menuju dewasa awal. Smg kita sll bs mmberi edukasi positif bgi mereka.aamiin..

    ReplyDelete
  14. Aku jadi flashback, mba. Waktu pertama haid dan sama orangtuaku juga merasa tabu membicarakan hal tersebut. Sempat nangis karena aku pikir aku akan meninggal. Ya ampun rasanya gemeteran

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang baik. Happy Blogging