Ibu Bahagia, Kunci Melahirkan Anak-Anak Hebat

By HAERIAH SYAMSUDDIN - Thursday, December 26, 2019


Al ummu, madrasatul ula, idza a'dadtaha a'dadta sya'ban thayyibal a'raq. Mungkin, kita sudah sangat akrab dengan syair Arab tersebut. Syair yang artinya  adalah ibu adalah sekolah utama, bila engkau menyiapkannya, engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Syair di atas  menunjukkan betapa besarnya peranan seorang ibu dalam kesuksesan anak-anaknya. Terbukti, banyak kita lihat orang-orang yang sukses ternyata memiliki orang tua, khususnya ibu yang selalu mendukung dan mendoakan setiap langkah-langkahnya menuju sukses.

Tentu saja, semua orang tua menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat serta kelak sukses dalam kehidupannya. Segala upaya pun dilakukan, seperti memberi nutrisi yang cukup, memberi pendidikan yang terbaik, serta memberi materi sebanyak mungkin. Meski demikian, ada satu hal yang sering terlupakan, padahal dampaknya bisa sangat berpengaruh pada anak. Apakah itu? Memberikan anak seorang ibu yang bahagia.

Mengapa Ibu Harus Bahagia?

Dalam sebuah rumah tangga, ibu memegang peranan yang sangat penting. Bahkan, dalam keseharian, anak-anak cenderung lebih dekat kepada ibunya daripada ayahnya. Tak heran, karena selama sembilan bulan sepuluh hari, anak berada dalam rahim ibunya sehingga kedekatan itu sudah tercipta sejak dalam masa kandungan.

Karena besarnya pengaruh seorang ibu pada anaknya, tidak bisa tidak, ibu harus merasa bahagia. Tahukah kita bahwa ternyata kebahagiaan ibu membawa pengaruh besar bagi anak. Suasana hati ibu akan berpengaruh pada pola asuh yang diberikan kepada anak-anaknya. Ketika suasana hati ibu sedang bahagia, ia akan mengasuh anak-anaknya juga dengan penuh rasa kasih sayang dan lemah lembut. Anak pun dapat tumbuh dalam limpahan kasih sayang sehingga ia bisa menjadi anak yang hebat kelak.

Sering kali, ibu melampiaskan kemarahannya kepada anak

Sebaliknya, ibu yang sedang bermasalah dan tidak bahagia akan mengasuh anaknya dengan penuh kemarahan. Bahkan, bisa jadi anak dijadikan sasaran atas kemarahannya karena dianggap sebagai biang keladi permasalahan yang ada. Anak pun tumbuh dalam kondisi yang menyedihkan dan kelak semua itu dapat mempengaruhi kehidupannya kelak.

Lihat saja di sekeliling kita. Betapa banyak anak-anak yang bermasalah terlahir dari keluarga yang broken home. Orang tua mereka tidak bahagia dan ketidakbahagiaan itu menular kepada anak-anaknya. Anak pun mencari pelampiasan di luar sana, berbuat onar kiri kanan demi mencari kebahagiaan yang tidak diperolehnya di rumah.


Wahai Ibu, Bahagialah!

Nah, agar bisa merasakan kebahagiaan, ibu bisa melakukan beberapa hal sederhana berikut ini.

1. Lakukan Kegiatan yang Disukai (Hobi)


Hobi adalah kegiatan-kegiatan menyenangkan, meski dilakukan berulang-ulang. Dengan mengerjakan hobi yang disukai, ibu juga bisa merasa bahagia. Bagi ibu yang senang memasak, memasaklah. Selama proses memasak, akan lahir di tubuh ibu perasaan senang dan bahagia. Rasa ini akan menular kepada anggota keluarga yang lain. 

Begitu juga dengan ibu yang hobi membaca, berolahraga, membuat kerajinan tangan, berkebun, dan sebagainya. Lakukan kegiatan ini sebagai Me Time agar semangat ibu kembali joss. 

2. Turunkan Standar


Dulu, saat pertama kali menikah, saya memberikan standar yang lumayan tinggi pada sosok istri dan ibu yang akan saya perankan. Saya ingin menjadi sosok yang sempurna. Saya ingin menjadi istri yang selalu cantik dan wangi di hadapan suami serta menjadi ibu yang lembut dan jago masak buat keluarga kecilnya.

Qadarallah, saya tidak bisa memenuhi standar tersebut. Sebulan setelah menikah, saya hamil dan parahnya saya harus bed rest karena kehamilanku rentan mengalami keguguran. Saya sempat stres karena kondisi itu membuatku tak bisa memenuhi standar yang kutetapkan sebelumnya.

Alhamdulillah, suami memberikan dukungannya dengan selalu memahami kondisi yang saya alami. Pun, juga ketika anak-anak kami lahir satu per satu, suami tak pernah memaksaku harus bisa menyelesaikan semua pekerjaan domestik dalam satu masa. 

Ketika saya kerepotan mengurus satu anak, suami dengan cekatan mengurus anak yang lain. Ketika rumah dalam keadaan berantakan, suami dengan tangkas membantu membersihkan. Ketika saya tak sempat masak, suami segera keluar membeli makanan masak di luar.

Saat itu saya menyadari, standar hidup yang tinggi justru akan merugikan diri sendiri. Ketika satu standar tidak terpenuhi, saya bisa uring-uringan dan ujung-ujungnya bisa kena ke anak dan suami juga. Suami pun memintaku untuk berhenti memasang standar tersebut. Baginya, yang penting saya merasa bahagia. Urusan pekerjaan rumah bisa dinomorsekiankan.

Saya pun menurunkan standar tersebut. Tidak mengapa sesekali rumah berantakan, asalkan anak-anak bebas bermain. Tidak mengapa menikmati makanan dari luar, asalkan bersih dan sehat. Tidak mengapa hidup sederhana, asalkan kami bisa tertawa bahagia, tanpa takut dikejar debt collector. *Eh

Adapun omongan orang, dianggap angin lalu saja. Toh ketika kita susah, belum tentu mereka datang memberikan bantuan. Apa pun perkataan orang, kita sebagai ratu rumah yang paling tahu dengan keadaan istana kita.


3. Perbanyak Rasa Syukur

Salah satu kunci kebahagiaan dalam hidup adalah rasa syukur. Sungguh, betapa banyaknya nikmat Allah Azza wa Jalla yang telah diberikan kepada kita, hamba-hamba-Nya. Dengan kesyukuran itu, kita selalu merasa cukup dengan apa yang diberikan-Nya sehingga hidup tak habis hanya dengan sibuk memikirkan "keberuntungan-keberuntungan" orang lain. 

Bagaimana para ibu, sudahkah kita merasa bahagia hari ini?

*

(Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing Perempuan Menulis Bahagia)

  • Share:

You Might Also Like

18 Comments

  1. Yuk, jadi ibu bahagia agar anak-anak juga tertular kebahagiaan. Betul banget mbak, dulu aku juga suka pasang standart tinggi, lama-lama stres. Suami yang menyadarkan untuk santuy, dan akhirnya aku menikmati itu sekarang ini.

    ReplyDelete
  2. Ketiga tipsnya mantul.

    Turunkan standar dan selalu bersyukur adalah dua hal yang saling berkaitan. Sangat perlu dijaga.

    ReplyDelete
  3. Dulu sewaktu mau melahirkan sulung, detak jantungnya sempat menghilang. Waktu itu aku memang lumayan stress, mulas sudah 1x24 jam, tapi bukaan nggak kunjung bertambah. Pikiranku juga melayang-layang soal cutiku tinggal sebentar lagi, maunya bisa lama sama bayi di rumah. Tapi kalau sudah dua minggu aku cuti dan dia nggak kunjung lahir, nanti jatah cuti bareng bayi jadi sedikit dong. Hahaha, pikirannya sudah kemana-mana makanya jabang bayi di dalam perut ikutan stress sampai dia diam beberapa saat.

    Pikiran ibu memang sangat mengena ya sama anak-anaknya.

    ReplyDelete
  4. Sangat betul, suasana hati ibu akan mempengaruhi interaksinya dengan anak. Setuju Mba....bahagia ibu adalah bahagia seluruh keluarga.

    ReplyDelete
  5. Wah sepakaaat nih. Ibu yang bahagia biasanya akan tercipta suasana rumah termasuk anak2 yg bahagia juga.

    ReplyDelete
  6. Jadi ibu mano-nano. Harus bisa ini itu, harus kuat san tahan banting. Tapi pahalanya luar biasa.jadi, nikmati saja hehehe.. itu udah kodrat kita. Semangat ya mba!

    ReplyDelete
  7. Yups, di tempatku ini lagi heboh lho mbak. ada ibi-ibu, masih tergolong ibu muda malahan, nekat meracun dirinya sendiri, dan meracun kedua anaknnya melalui susu yg diminum saat sarapan. duh. padahal bukan dari keluarga miskin lho. mungkin lebih karena ke perasaan ibunya itu yg kurang bahagia.
    memang kadang kita lupa tentang kebahagian sebagai ibu. saking sibuknya kerja dan kegiatan rumah tangga. padahal anak hebat itu bukan hanya perlu pendidikan dan support dana saja ya ternyata. perasaan si ibu ternyata mempengaruhi juga

    ReplyDelete
  8. Sebelum jadi ibu, maka yuni harus jadi gadis bahagia dulu. Semangat.

    ReplyDelete
  9. Betul sekali ulasannya. Aku merasakan sejak menurunkan standart dan semakin selektif dalam mengatur skala prioritas, emosiku semakin stabil dan lebih bahagia. Iya memang, rasanya kayak ketinggalan banyak hal. Tapi jadi lebih happy aja ngurusin anak-anak.

    ReplyDelete
  10. Betul sekali Mbak..
    Happy Mommy Happy Family. Ibu adalah pusatnya, jika ia bahagia sekeluarga pun bakal sama. Dan menyempatkan waktu untuk enjalani hobi ini termasuk penting sekali. Biar galau hati lari ke hobi :)

    ReplyDelete
  11. Ketiga hal itu benar-benar aku lakuin sekarang dan alhamdulillah jadi lebih bahagia. Yang pertama tentu bersyukur dan menurunkan standar. karena kalo standarnya ketinggian justri bikin stress ketika kita tidak bisa mencapainya..

    ReplyDelete
  12. Bener banget Mbak, kalau kita maksain standar malah bisa stres. Yang penting banyak bersyukur supaya bisa selalu bahagia.
    Kasihan anak-anak kalau kita jadi ibu yang gak bahagia. Mereka bisa jadi imbasnya.
    Yuk, jadi ibu yang selalu bahagia.

    ReplyDelete
  13. Bersyukur banget, suami turun tangan dalam urusan rumah tangga. Bersyukur lagi, yg menetapkan standar kita sendiri, jadi bisa disesuaikan. Waduh...engga kebayang, kalau yg menetapkan standar adalah suami.
    Semoga selalu bahagia ya Mbak...

    ReplyDelete
  14. Bener ibu harus bahagia, tapi kadang keadaan nggak bisa membuat si ibu bahagia, bukan karena tidak pandai membahagiakan diri, namun bisa juga karena perbedaan tipe karakter orang yang membuat ia sulit menemukan kebahagiaannya

    ReplyDelete
  15. Aku daripada marah2 memang betul sekali harusnya dibuat banyak bersyukur. Banyak orang yang pengen punya anak, gak bs bs. Kita udah dikasih amanah harusnya mendidik dengan kasih sayang dan tentunya dengan hati yang bahagia :)

    ReplyDelete
  16. Bersyukur ya mbnurutku kuncinya. Jadi bahagia trus. Tiga tips myaantul. Semoga kita bagian dr obu yg bahagia.Aamiin

    ReplyDelete
  17. Jadi inget kasus-kasus kekerasan anak yang dilakukan oleh Ibunya sendiri. Yang nyatanya, kehidupan sang ibu lebih berat dan jauh dari kata bahagia. Rasanya sedih kalau faktanya ibu yang seperti itu minim dukungan dari keluarga dan teman terdekatnya. Huhuhu baca ini malah jadi flashback mulu. Semoga banyak Ibu yang mampu mencari kebahagiaan dengan cara sederhana

    ReplyDelete
  18. Setuju banget sama tipsnya. Kecemasan yang terlalu tinggi juga sdbabkan ibu hamil kurang bahagia. Intinya itu ya, Mbak.. Bersyukur dan terus berpikir positif. Makasih sharingnya Mbak😍

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang baik. Happy Blogging