Siang itu, saya dan tiga orang kerabatku, sebut saja namanya Lira, Luna, dan Lita berkunjung ke rumah salah seorang kerabat kami. Sebagai manusia perantauan, setiap kali pulang kampung, salah satu hal yang akan kulakukan adalah menyambung tali silaturrahim. Berkunjung  ke rumah kaum kerabat yang memiliki pertalian darah dan mempunyai banyak kenangan manis bersama di masa-masa dahulu.

Sebenarnya, berkunjung ke rumah kerabat, sebut saja namanya Mba Kenanga, bukanlah tujuan awal kami. Awalnya kami ingin berkunjung ke rumah Mas Brewok dan keluarga. Qadarallah, Mas Brewok tidak berada di rumah. Rencana pun berubah. Atas usulan salah seorang Lira, kami pun memilih ke rumah Mba Kenanga, apalagi rumahnya memang lebih dekat di titik tempat kami  ngumpul, rumah Lira.

Lira kemudian menelpon Mba Kenanga untuk memberitahu kalau kami akan ke rumahnya. Mba Kenanga yang masih berada di kantor, dengan senang hati menyambutnya dan meminta kami menunggu di rumahnya sekiranya kami yang lebih dahulu tiba.

Baca Juga Kisah tentang Tetangga yang Aneh

Mulanya, saya merasa kurang enak. Gak nyaman rasanya masuk ke rumah orang sementara tuan rumahnya tidak ada. Tapi Lira kemudian menyakinkanku bahwa tidak apa-apa. Meski Mba Kenanga tidak ada, toh di rumah ada ketiga anaknya. ku memang sudah terbiasa ke rumah Mba Kenanga dan hubungan keduanya lebih rapat dibanding saya.

Maka, berangkatlah kami semobil. Alhamdulillah, arus lalu lintas tidak terlalu macet meski tetap menyisakan kesesakan menyaksikan banyaknya orang berkendaraan di jalan raya. (Maklum, orang kampung dari Terengganu ini telah terbiasa dengan suasana serba teratur dan rada lapang di jalanan negeri tersebut). Kami pun sempat nyasar sesaat karena Lira agak lupa posisi rumah Mba Kenanga yang kini perumahannya semakin dipadati penduduk sehingga membuatnya harus berusaha mengingat kembali jalan-jalan yang harus dilaluinya.

"Assalamu alaikum...." tanpa tedeng aling-aling, Lira si ceriwis itu "menerobos" masuk ke rumah Mba Kenanga. Pintu pagar yang tidak terkunci dan pintu rumah yang terbuka lebar membuat kami tidak menunggu dipersilahkan masuk. Begitu lepas sendal, kami langsung mengambil posisi masing-masing di ruang tamu. Saya dan Lira memilih duduk di sofa berukuran sedang yang berada tepat di depan pintu masuk. Karena salah satu sofa itu ditutupi selimut, Lira langsung menarik selimut itu dan mempersilahkanku duduk di sana. Sementara itu Luna dan Lita masuk ke bagian lebih dalam, ruang keluarga yang masih terhubung dengan ruang tamu.

"Tempat b*r*k dan kencingnya  kucing di situ. " seru suami Mba Kenanga yang kemudian keluar menyambut kami. 

Mendengar seruan itu, saya buru-buru berdiri dan menyibak gamisku serta membauinya. Iya, sih, saya sempat menangkap ada dua helai bulu kucing di sofa tersebut, tapi gamis dan jilbabku tidak tercium bau apa pun. Meski saya tidak tercium bau apa-apa (atau karena saya pakai cadar jadi tidak bisa membauinya), saya pun berpindah ke kursi yang lain. Sementara Lira tetap di posisinya semula. 



"Biasanya kalau ada orang datang, duduknya di sini bukan di situ..." ujar suami Mba Kenanga lagi.  Seharusnya, ini adalah  isyarat meminta saya dan  Lira agar berpindah tempat duduk sebagaimana Luna dan Lita.   Sayangnya, saya gak mudeng. 

Namun, karena Lira bergeming, saya pun tetap berada di posisiku. Lagipula, rasanya lebih nyaman berada di sini sembari menunggu Mba Kenanga pulang. Hingga beberapa saat kemudian, Mba Kenanga pun muncul dan menyapa kami dengan sangat ramah. 

Suasana menjadi riuh rendah. Suara kami yang sahut menyahut ngobrol ngalor ngidul memenuhi ruangan rumah besar tersebut. Mba Kenanga kemudian menyuruh anak sulungnya untuk membeli kuih muih untuk menjamu kami. (Kuenya mah dirikues sama tamunya sendiri, hehehe).

"Lha, kamu kenapa duduk di sana. Di sini aja, lebih nyaman..." Mba Kenanga kemudian menyadari posisi dudukku yang nyempil. Ia pun menyuruhku pindah ke tempat dudukku semula.

"Lho, tadi kata Mas Fulan, kursinya dibeolin kucing. Makanya, saya pindah ke sini...." ucapku menirukan apa yang disebutkan suami Mba Kenanga tadi.

"Beol? Gak ah. Tidak ada kucing yang buang air di situ..." sanggah Mba Kenanga yang langsung disanggah oleh suaminya. Suaminya ngotot kalau di sofa itu sudah dikotori oleh kucing-kucing peliharaannya.

"Gak kok, kucing tidak main di situ..." gerutu Mba Kenanga lirih. 

"Oalah Mas Fulan kok bilang kursinya dibeolin kucing ...." celutuk Lira sembari terbahak. Celutukan Lira membuat Mas Fulan masuk ke bagian dalam rumahnya.

Meski sudah dipersilahkan, saya tetap memilih duduk di tempatku sekarang. Kebetulan, posisinya menghadap tembok, jadi aman buat membuka cadar dan menikmati suguhan pisang dan sukun goreng serta apem panas. Hm...nyamanna.

Menjelang Maghrib, kami kemudian pamit. Tak lupa, Mba Kenanga mengingatkan kami agar datang kembali pekan depan. Kebetulan, Mba Kenanga ada acara jadi kami bisa "numpang makan". Asyik, makan-makan....

"Mentong itu Mas Fulan. Pake acara bohong segala, padahal intinya kita dilarang duduk di sofa mahalnya ..." celutuk adikku di mobil.

"Memang benar sofa itu harganya 14 juta?" saya malah bertanya dan berharap salah dengar dengan harga sofa yang tadi sempat diinfokan Lira  sewaktu masih di rumah Mba Kenanga tadi.

"Iyalah, harganya 14 juta. Lihat aja tadi ada kok mereknya. Itu merek furniture mahal." Jelas Lira.

Saya mah mana ngerti soal merek. Barang-barangku yang penting nyaman dan sesuai isi kantong tanpa melihat merek yang ada.

"Nah lho, makanya ditutup selimut biar gak ada yang duduk di sana. Kamu, malah membuka selimutnya dan duduk dengan santainya di sana..." ujar Luna yang bertindak sebagai driver. 

"Hahaha..." adikku malah ngikik diberitahu seperti itu.

Kami pun menuju rumah Lira yang super cerewet itu untuk numpang shalat Maghrib sebelum kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Alhamdulillah, saat masuk waktu Shalat Isya, saya dan kedua anakku telah tiba kembali di rumah.

Baca Juga kisah tentang Kebaikan yang Berbalas

Sungguh, kejadian yang baru saja kualami itu membuatku harus mengakui kebenaran berita-berita miring seputar suami Mba Kenanga. Tentu saja, saya tidak akan menyebutkannya di sini karena khawatir akan menjadi ghibah. Cukuplah tulisan ini menjadi pengingat, terutama bagiku.



Terus terang, seumur hidupku, baru kali ini saya dilarang duduk di kursi mahal, kursi yang justru diletakkan di bagian paling depan dari rumah tersebut. Kalau memang tidak boleh diduduki, harusnya ..... Ah, sudahlah, itu kan hak si tuan rumah mau meletakkan di mana saja barang-barang milik mereka. Ngapain, saya sebagai orang luar harus turut campur?????

Saya pun bertekad, sekiranya nanti diberi rezeki bisa membeli sofa set seharga 14 juta rupiah atau lebih, tolong tonjok saja saya kalau tiba-tiba belagu. Kalau saya melarang tamuku duduk mahal milikku tersebut. Benar, tolong tonjok saya karena itu berarti saya sudah kelewatan jadi harus segera disadarkan.....

*

Disclaimer : Semoga ini tidak termasuk ghibah, tetapi sebagai pengingat diri agar kelak terhindar dari sifat seperti ini.

0 Comments