KETIKA BACAAN MERACUNIKU

Saturday, 12 November 2016


Entah sejak kapan persisnya saya kecanduan buku atau lebih tepatnya bacaan. Kecanduan bukan sekadar suka, lho.  Sedetik saja tanpa kehadiran bacaan maka serasa hidupku tidak berwarna (monochrome dong). Apapun aku baca. Buku, majalah, koran bahkan koran bekas pembungkus kacang tidak langsung aku buang begitu menghabiskan isinya. Koran itu aku baca dulu bahkan sekiranya isinya menarik maka aku simpan sebagai arsip.  


Sayangnya, kecanduanku ini tidak terlalu diapresiasi oleh orang tuaku terutama Bapak. Untuk menuntaskan kehausanku akan bacaan, Bapak senantiasa membelikanku buku-buku cetak untuk keperluan sekolah.  

“Cukup baca buku sekolah saja itu akan membuatmu pandai. Selain buku sekolah tidak perlu dibaca, hanya bikin bodoh saja” demikian doktrin Bapak.

As a good girl, saya menurut. Aku pun hanya membaca buku-buku cetak yang diwajibkan di sekolah. Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PMP, PSPB, kesenian serta matematika. (Itu semua pelajaranku waktu zaman SD lho).

Dari kesemuanya, saya paling suka membaca buku sejarah. Tak heran, saya sampai hapal nama-nama pahlawan, peristiwa-peristiwa penting, kebudayaan maupun keunikan suatu daerah, dan sebagainya. Buku kesayanganku saat itu adalah buku pintar yang tebalnya melebihi tebalnya bantal tipisku.

Nyatanya semua itu tak bisa menuntaskan hasrat membacaku.  Apalagi ketika di sekolah beberapa teman “meracuniku” dengan majalah anak, buku cerita maupun komik. Aku yang mulanya “lurus” hanya membaca bacaan “bermutu” pelan-pelan ikut terkontaminasi. Girang sekali rasanya saat dipinjamkan bacaan-bacaan tersebut. Namun sayangnya, si empunya buku lebih banyak pelitnya daripada baiknya. Buku atau majalah miliknya hanya dipamerkan kepada kami tanpa boleh dipinjamkan. Huhuhu rasanya sangat menyebalkan.

Rasa kesal sekaligus penasaran itu membuatku kemudian “melenceng” saat ke toko buku untuk membeli buku-buku keperluan sekolah. Kebetulan di dekat rumahku ada beberapa toko buku dengan koleksi buku yang lumayan lengkap.
Usai membeli buku keperluan sekolah, aku kemudian  memberanikan diri melongok bagian buku cerita  dan majalah anak. Tentu saja aku perginya seorang diri atau bersama teman.  Meski masih SD tapi saya kemana-mana sudah berani seorang diri baik itu untuk membeli kebutuhan sekolah maupun ke rumah teman dengan naik pete-pete (angkot). Alhamdulillah, situasi saat itu masih aman terkendali tentu saja berbeda dengan sekarang.

Satu dua kali saya hanya berani melongok dan membuka-buka halaman demi halaman majalah anak tersebut. Bukannya puas, saya justru semakin penasaran. Rasanya tidak puas hanya melihat. Ingin rasanya bisa memiliki bacaan-bacaan tersebut. Hingga kemudian, entah keberanian dari mana aku kemudian nekad membeli majalah anak pertamaku.

“Aih, abis beli majalah ya? Saya lapor Bapak lo….” Saat tengah asyik membaca majalah secara sembunyi-sembunyi rupanya salah seorang adikku memergokiku.

“Bukan beli. Ini minjam, kok….” Elakku. Aku terpaksa berbohong. Aku tahu konsekuensi apa yang akan aku dapatkan kalau sampai Bapak melihatku membaca majalah apalagi sampai tahu aku membeli majalah.

Adikku bersiap menjerit kembali ketika seketika aku menutup mulutnya erat-erat. Adikku sempat menjerit kesakitan.

“Ada apa itu?” teriak Mama yang rupanya mendengar suaranya.

“Tidak ada apa-apa kok, Ma. Ini si Adek digigit semut..” sahutku segera. Tentu saja adikku tidak berani menjawab. Sebuah ancaman telah kuhadirkan dengan mengepalkan tangan kananku jika ia berani buka mulut. Maaf ya, Dik.

Puas….puas rasanya usai menamatkan membaca majalah yang baru saja kubeli. Tapi kemudian….. majalah ini mau disembunyikan di mana seusai aku membacanya? Aku tahu, jika bapak yang menemukannya pasti akan dirobek dan saya kena marah. Bahkan tidak menutup kemungkinan sepotong kayu multi guna bakalan mampir mengelus betis dan *a*ta*ku.

Akalku pun berjalan. Majalah tersebut aku titipkan di rumah salah seorang temanku. Temanku tidak keberatan. Ia malah senang karena dapat membaca majalah tersebut.

Demikianlah caraku mengatasi kecanduanku akan bacaan tanpa diketahui orang tuaku. Uang jajanku kupakai untuk membeli majalah anak terbaru. Namun kehadiran majalah anak yang berkala itu tetap saja tidak mampu menuntaskan kecanduanku. Aku butuh bacaan setiap hari, setiap saat.

Aku kemudian mulai melirik keberadaan taman bacaan yang menyewakan buku-buku cerita. Kebetulan letaknya dekat dengan rumah temanku yang kutitipi majalah serta dekat dari Pasar Senggol, pasar tempatku sering membeli keperluan toko kelontong kami di rumah. Jadi, aku bisa ke tempat itu saat ke rumah teman atau saat membeli keperluan toko.

Dan, setelah sekian lama mengamati, suatu hari aku memberanikan diri memasuki taman bacaan itu dan mendaftar menjadi member sebagai syarat untuk bisa meminjam buku. Tentu saja sebelumnya aku memastikan  bahwa tidak ada orang yang mengenalku yang melihatku masuk ke tempat tersebut.


Aman…..Semuanya berlangsung aman dan aku puas membaca semua koleksi buku taman bacaan tersebut hingga kemudian taman bacaan tersebut tutup. Alhamdulillah, saat itu saya sudah semakin besar sehingga berani mendatangi tempat yang lebih jauh. Aku pun mulai berkenalan dengan perpustakaan daerah dan perpustakaan wilayah. Meski tidak banyak namun koleksi bukunya lumayan bisa mengurangi dahagaku akan bacaan. Apalagi kini bacaanku tidak terbatas bacaan anak meski bacaan genre tersebut masih menjadi prioritas utama bacaanku.

Baca juga kisahku .... http://www.haeriahsyam.com/2016/10/perjalanan-buku-nabi-muhammad-real.html

Kebiasaan menitip majalah yang kubeli juga tetap berlanjut. Tentu saja dengan teman yang berbeda. Namun titip menitip hanya sampai SMA. Qadarallah, Bapakku meninggal dunia saat aku SMA. Sejak itu tak ada lagi yang menghalangiku membaca apa saja yang kumau. Alhamdulillah, Allah senantiasa menjagaku. Meski beberapa kali ditawarkan atau menemukan bacaan-bacaan merusak (you know lah what I mean) tapi aku tidak menyukainya. Sempat sih beberapa kali membacanya, terutama yang horor-horor. Namun saat tiba dibagian itu tuh (tau lah) bagian itu saya skip. Jijik rasanya. Aku pun akhirnya hanya senang membaca buku dan majalah terhormat, hehehe.

Alhamdulillah, kegilaanku membaca berbuah ketika aku kuliah. Tanpa pernah belajar khusus bagaimana menulis, aku berhasil menjadi seorang penulis secara otodidak. Bahkan saat masih kuliah aku sangat produktif. Hampir setiap hari Ahad tulisanku menghiasi koran lokal Kota Makassar. Bahkan tak jarang dua sampai tiga tulisan sekaligus.

Oh ya, hampir lupa. Sekadar info……ternyata teman-teman yang kutitipi majalah-majalahku semuanya tidak amanah.  Saat aku menangih majalahku, katanya sudah tidak ada. Sudah hilang. Entah di mana. Duh……




    

8 comments:

  1. Perjuangan ya Mba untuk bisa baca majalah aja..hehe.. Saya juga hobi baca sejak kecil, tapi ngga punya dana untuk beli majalah. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perjuangan banget mba. Alhamdulillah saya memetik hasilnya sekarang. Waktu kecil saya beli majalah dari hasil mengumpulkan uang jajan. Prinsipku lebih baik tidak jajan daripada tidak membaca.

      Delete
  2. Jd inget dulu sejak TK sudah dilanggani majalah anak-anak, sampai akhirnya terkumpul satu lemari penuh dan kita jejer2in depan teras rumah, dijadikan penyewaan majalah, hehehehe ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya Neng Gya udah difasilitasi sejak kecil pantas sekarang jadi penulis hebat, keren euy....

      Delete
  3. wah asyik ya perjuangannya ,kalau aku sih didukung banget oleh ibuku malah ibuku bikin perpus juga bt anak2 tetangga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senangnya kalau aktivitas kita didukung orang tua. Saat ini saya juga pengen punya perpustakaan buat teman anak-anak tapi karena saat ini masih nomaden jadi masih sebatas rencana aja. Kalau buku, alhamdulillah sudah banyak tapi di rumah mertua.

      Delete
  4. Enak banget baca tulisannya, Mbak 😘
    Buah rajin membaca nih yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, alhamdulillah ternyata membaca banyak sekali manfaatnya.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...