Prank, Lucu-lucuan yang Dilarang Dalam Islam

By HAERIAH SYAMSUDDIN - Tuesday, August 06, 2019



Beberapa hari yang lalu, saya sempat melihat tayangan video di YouTube. Video tersebut menanyangkan adegan nge-prank, yakni ngerjain seseorang dengan tujuan lucu-lucuan. Nge-prank itupun tentang seorang anak yang mengerjai orang tuanya. 

Ceritanya si anak menelpon orang tuanya dan mengabarkan kalau ia mengalami kecelakaan. Tentu saja si orang tua (dalam hal adalah mamanya) sangat terkejut. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan si mama yang mendapatkan kabar seperti ini. Setelah beberapa saat sukses membuat si mama panik bukan kepalang, akhirnya si anak mengaku kalau ia hanya bercanda. Mamanya telah sukses di-prank!!!!

Usai menyaksikan video ini, saya langsung tidak suka dengan semua jenis nge-prank seperti ini. Apa coba untungnya mengerjai orang tua dengan cara seperti ini? Supaya viewer-nya naik dan ujung-ujungnya si pembuat video bisa mendapatkan uang banyak dan terkenal? 

TERLALU.

Iya, sungguh keterlaluan kalau menurut saya, mah. Andai dia tahu bagaimana panik dan tersiksanya hati  orang tua ketika tiba-tiba mengetahui kalau anaknya kecelakaan. Saya saja, yang tiga anakku berada jauh di tanah air, ketika mendengar ada yang sakit, merasa lapar, atau kurang nyaman dengan tempat barunya, rasanya hati mendadak tidak tenang. Apalagi, sampai mendengar berita anaknya mengalami kecelakaan?

"Tapi, ini kan  sekadar lucu-lucuan, masa ngelucu aja gak boleh."

What? Emang gak ada cara melucu yang lain? Memangnya harus bikin orang lain susah supaya kalian senang telah berhasil dengan proyek nge-prank-nya? Apalagi, yang dikerjain adalah orang tua sendiri. Orang tua yang seharusnya dihormati dan senantiasa diberi kabar gembira tentang diri anak-anaknya agar mereka tenang. 

Nah, bagaimanakah sebenarnya prank itu? Kalau saya pribadi, memang tidak suka. Lalu, bagaimana pandangan Islam tentang lucu-lucuan ini? Ternyata, Islam telah memberikan aturan dalam urusan candaan seperti ini. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.

Dari Abdurrahman bin Abi Laila, bahwa beliau mendapatkan berita dari beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa mereka pernah melakukan perjalanan di malam hari bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ada salah satu sahabat yang tidur, lalu beberapa sahabat menggendongnya ke atas bukit dan langsung membangunkannya. Orang yang tertidur tersebut kaget sehingga  banyak sahabat yang tertawa.
Melihat ini, Nabi shallalahu alaihi wa sallam bersabda, Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam dalam hadits yang lain bersabda, "Tidak boleh seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik bercanda maupun serius." (HR Abu Dawud)

Berdasarkan hadits di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa prank yang banyak dibuat saat ini termasuk dalam kategori bercanda yang dilarang dalam Islam.
Sekalipun hal tersebut hanya sekadar bermain-main dan tidak serius yang bertujuan untuk membuat orang tertawa ketika melihat korbannya kaget atau takut, tetap saja  ini semua dilarang. Karena berdasarkan hadis di atas bahwa  menakut-nakuti seorang muslim tidak dihalalkan dalam Islam.

Selain itu, di balik lucu-lucuan sebuah prank, ada lho beberapa dampak buruk prank yang bisa menimpa. Berikut ini beberapa di antaranya.

1. Kehilangan Kepercayaan

Ingat kisah “Sang Pengembala Biri-Biri” dalam kartun anak “Upin dan Ipin”? Dikisahkan bahwa ada seorang pengembala biri-biri yang bosan dengan rutinitas pekerjaannya. Untuk membunuh rasa bosan tersebut, si pengembala kemudian mendapat ide untuk nge-prank penduduk. Si pengembala kemudian berteriak-teriak minta tolong karena  ada  serigala yang akan memangsa biri-biri miliknya. Penduduk yang mendengar teriakan si pengembala, bergegas datang menolong. Namun, apa yang terjadi? Ternyata, tidak terjadi apa-apa. Jangankan serigala, justru si pengembala tertawa senang karena berhasil memperdaya orang banyak. Tentu saja, penduduk merasa sangat kesal. Apalagi, prank ini dilakukan kembali meski saat melakukan pertama si pengembala telah meminta maaf.

Usai melakukan prank kedua, si pengembala memang benar-benar minta maaf dan berjanji tidak akan nge-prank lagi. Sialnya, saat itu seekor serigala ternyata hadir dan siap menyantap biri-biri yang digembalakannya. Si pengembala panik dan langsung berteriak meminta pertolongan. Sayangnya, para penduduk yang mendengar teriakan itu hanya berdiam diri dan tidak datang membantu. Tentu saja, para penduduk tak ingin menjadi korban prank untuk yang ketiga kalinya, meski ternyata kali ini si pengembala tidak sedang nge-prank. 

Inilah gambaran yang bisa saja menimpa para pembuat prank. Karena keisengan, bisa jadi saat itu kita benar-benar membutuhkan bantuan, tetapi orang-orang justru mengira semua itu hanya candaan. Alih-alih dibantu, yang ada malah orang akan cuek atau langsung ngeloyor pergi. Dibohongi itu sakit, Bo....

2. Menimbulkan Trauma

Mengisengi orang lain dengan cara menakut-nakutinya dengan sesuatu yang tidak disukai bahkan ditakutinya itu bisa berakibat fatal, lho. Memang sih, ada yang mengatakan bahwa untuk menghilangkan sebuah phobia, salah satu caranya dengan berhadapan langsung dengan sumber trauma tersebut. Misalnya, kamu takut dengan gelap, serangga, atau balon. 

Namun, dengan cara nge-prank, yang terjadi bisa sebaliknya. Alih-alih phobianya hilang, yang ada malah phobia si korban bisa semakin parah. Kasihan, kan? 

3. Bisa Mengundang Bahaya



Prank yang bertujuan untuk menjahili seseorang, ternyata juga bisa berakibat membahayakan nyawa diri sendiri maupun orang lain. Boleh jadi, saat sedang nge-prank dengan cara menjadi hantu untuk menakut-nakuti orang lain, reaksi orang tersebut justru sebaliknya. Bukannya takut, si korban justru melawan dengan cara memukul menggunakan benda-benda yang berbahaya. Ini bisa berbalik membahayakan diri sendiri jadinya.

Atau saat sedang nge-prank, si korban menjadi sangat ketakutan sehingga sangat terkejut, padahal ia memiliki riwayat sakit jantung. Nah, kebayang, kan, berabenya kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?  

Jadi, pikir seribu kali kalau mau mengisengi orang lain. Pastikan, keisengan kita bukanlah sesuatu yang berbahaya dan terlarang. 


*

  • Share:

You Might Also Like

25 komentar

  1. Iya ini sejenis April mop gitu yaaa mbak memang seharusnya nggak begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya seperti itu, Mba. Ngerjain orang lain buat lucu-lucuan.

      Delete
  2. setuju banget ini bun akunyaaaaaaa, heu. kadang suka gemes sama prank-prank gitu. manfaatnya apa kitu? mending nulis kan, di blog atau di buku, dapat duit. bisa beli makanan enak, kan lebih manfaat, ya kan? *eh kenapa ujung-ujungnya bahas makan, heu ~

    ReplyDelete
  3. Ya banget, suka kesal kalau lihat video prank²an gitu, aku pikir lebih banyak sisi negatifnya dibanding positif, sayang sekali banyak publik figur yang sering ekspos video kayak ginian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mba. Nge-prank ini ngetren boleh dibilang karena mereka juga.

      Delete
  4. Sama mba, saya juga ga pernah suka konten2 ngeprank apalagi yg dikerjain orang tua. Suka sebel malah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar banget, meski hanya bercanda tapi kok jadinya gak hormat sama orang tua.

      Delete
  5. Bener mba, nggak banget nge-prank nge-prank begitu. Dalam islam boleh becanda tapi gak boleh bohong. Ini jg yg aku terus tanamkan ke anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mba.Anak-anak harus diberitahu dan diingatkan agar mereka tidak ikut-ikutan. Apalagi,kalau banyak temannya yang bikin prank-prank kayak gini.

      Delete
  6. Aku pribadi emang ga suka mbak prank gitu, apa ya kesel aja pernah nonton. Cuma sayangnya emang di masyarakat sukanya yang gitu kebanyakan alhasil konten macam prank ini banyak dan melejit.

    ReplyDelete
  7. Sepakat sama tulisannya bunda. Aku juga gak suka sama yang suka prang preng prang preng kayak gitu. Kalo kata anak sekarang mah itu kegiatan yang unfaedah. Ngelucu gak lucu, ngerjain tapi dianya sendiri kayak gak ada kerjaan.

    ReplyDelete
  8. Agree. Saya juga tidak suka ngeprank ini. Apalagi sasarannya orangtua sendiri. Mendengar kita sakit batuk saja sudah deg degan dan tidak karuan, apalagi kalau mendengar anaknya kenapa kenapa... Naudzubillah min dzalik.

    ReplyDelete
  9. Aq juga suka melihat prank, kasihan orang yang dikerjain, terlebih memang dilarang dalam Islam

    ReplyDelete
  10. Anakku sempat suka nonton prank. Habis gimana, youtuber pada bikin semua. Tapi aslinya aku juga sebel. Bolak-balik kubilang itu nggak boleh. Takutnya kan anak niru ya, Mbak. ALhamdulillah sejak puasa gadget jadi nggak pernah nonton lagi, meskipun ibunya juga ikutan puasa gadget, hehe.

    ReplyDelete
  11. Akupun males liatin orang ngeprank mba. Nirfaedah, bikin kesel ajh

    ReplyDelete
  12. Nah ini, yuni mah juga rada sebel sama prank - prank itu. suka berlebihan. hehehe

    ReplyDelete
  13. Saya juga termasuk yang gak suka dengan acara prank-prank yang bikin orang lain gak nyaman. Kadang ada yang bisa membahayakan keselamatan jiwa.

    ReplyDelete
  14. Bener banget nih mbak..Saya juga setuju banget. Satu kalimat untuk prank adalah dosa. Itu yang utama belum lagi soal bahaya, kesia-siaan, dan kurang menghargai orang lain. Saya sampai sebal sama seseremaja yang ngepranknya keterlaluan. Semoga anak ini dapat hidayah untuk memperbaiki diri

    ReplyDelete
  15. Aku juga kesal tuh Mbak sama aksi-aksi ngeprank. Hal pertama yang paling kutakutkan adalah bagaimana kalau yang dijadikan korban punya penyakit jantung lalu tiba-tiba mendapatkan serangan karena terkejut lalu koma bahkan meninggal dunia? Duh ...

    ReplyDelete
  16. Anak Micin tu Mah, Bercanda boleh, tapi jangan dg orang tua, hia kalau orang tua sehat2 kalau jantungan bagaimna?

    aya aya wae anak jaman sekarang :)

    ReplyDelete
  17. naaah aku juga ngga suka mbak, aku bilang ke anak2ku kalau mereka ngga boleh ikutan ngeprank dan aku bilang bakalan aku caci maki teman2nya yang ngeprank anak2ku. Kegiatan unfaedah bin ngeselin... T_T

    ReplyDelete
  18. Wahhh bener banget, ak juga sering banget di prank tp mungkin karena ak gak terlalu menanggapinya, karena yaa info banyak yang masuk ke ak jadi hepi hepi ajaa wueheh.. Tp memang gak bagus banget prank cuma buat lucu lucuan gitu, kalo udah panik kan bahaya banget, apalagi kalau sampe pingsan waduh

    ReplyDelete
  19. Bener banget tuh Mak. Akhirnya saat orang butuh pertolongan, orang lain jadi malas nolong krna fikirnya, aaahh prank lagi pasti tuh.

    ReplyDelete
  20. Setuju mbaa, prank enggak berfaedah kayak gini yang justru bikin orang kehilangan rasa percaya. Aku pun kalau digituin pasti kzl banget

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang baik. Happy Blogging