CERITA MUDIK MENEGANGKAN

Wednesday, 11 January 2017


Salah satu hal yang paling menyenangkan bagi para perantau adalah bisa pulang kampung dan merayakan lebaran bareng keluarga besar di sana. Ini pulalah yang senantiasa ditanyakan keluarga besar kami setiap kali kami harus kembali ke perantauan....


"Lebaran nanti pulang kan......" 
"Mau...mau bangets...tapi......"

Salah satu cerita mudikku pernah kutuliskan di sebuah buku antologi. Waktu itu kami adalah keluarga perantauan di sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 400 km dari pusat ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. 
Ini ceritanya.....

Senangnya bisa kembali mudik tahun ini. Mulanya kupikir hari raya tahun ini akan kami rayakan di daerah tugas suami karena kesibukan suami yang seperti tak ada habisnya. Ternyata kesibukan itu bisa diselesaikan sesaat sebelum hari raya tiba. Suami kemudian  memutuskan untuk mudik tepat di hari raya. Meski tak mendapatkan hari raya pertama bersama keluarga besar tapi setidaknya suasana lebaran masih terasa, keluarga besar yang dari daerah lain juga masih berkumpul.

Keesokan harinya, usai shalat ied serta bersilaturrahmi ke beberapa rumah orang yang kami tuakan, kami pun bergegas pulang untuk segera menyiapkan keperluan mudik. Aku yang selalu kebagian tugas packing untungnya telah terbiasa bekerja secara mendadak. Tanpa kesulitan berarti dua buah tas besar,sebuah tas berukuran sedang dan beberapa kardus bekas mie instant berisi hasil bumi pemberian teman kami bawa sebagai oleh-oleh telah siap untuk dibawa.

Malamnya kami sekeluarga telah bersiap untuk berangkat. Selama ini kami selalu  memilih perjalanan malam. Dengan demikian,  anak-anak bisa tidur dengan tenang tanpa diganggu rasa panas dan bosan.  Maklum, jarak yang akan kami tempuh sekitar 400 kilometer yang biasanya memakan waktu sekitar sembilan jam. 

Setelah semua dirasa cukup, kami pun segera meninggalkan rumah.Dengan ditemani beberapa orang kawan suami, kami diantar keluar menuju jalan propinsi yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat kediaman kami. Di sanalah rencananya kami akan menunggu bis yang biasanya melewati jalan tersebut menuju kota kelahiran kami.
 
Sumber Gambar; Pixabay


Cukup lama kami menunggu bis yang lewat. Aku dan ketiga anakku menunggu di depan sebuah gudang beras sementara suamiku menunggu di pinggir jalan untuk mencegat bis yang  lewat. Beberapa orang kulihat juga melakukan hal yang sama. Menunggu bis di pinggir jalan ketimbang mengambil di terminal.

Mungkin alasan mereka sama dengan kami. Memilih tak mengambil bis di terminal selain karena jarak terminal  cukup jauh harganya pun standard.Sementara bila menunggu di pinggir jalan maka kami tak perlu repot ke terminal terlebih dahulu dan juga dari segi harga lebih murah karena bisa menego  dengan supir dan kernet.

Sayangnya setelah beberapa lama menunggu, bis yang kami harapkan tak kunjung datang. Beberapa bis yang lewat ternyata telah penuh sehingga tak ada yang berhenti untuk mengambil kami.  Ternyata kami salah perhitungan, jumlah penumpang mudik tetap membludak meski kami telah memilih hari tepat di hari raya. Kami pikir, hari ini jumlah penumpang berkurang karena hari raya telah lewat dan mereka belum saatnya balik.

Entah berapa lama kami menunggu.Alhamdulillah anak-anakku tergolong anak yang sangat mudah menyesuaikan diri. Mereka bisa enjoy di mana saja termasuk saat berada di pinggir jalan seperti saat ini. Kedua anakku yang salah satunya masih balita itu malah terlihat menikmati suasana malam.Mereka tak henti-hentinya becanda dan sesekali berkejar-kejaran.Tentu saja kami terus mengingatkan agar mereka tak lari menuju ke jalan.

Sementara bayi kecilku justru pulas berada di balik kerudung lebarku.Hembusan angin malam tak mengusiknya malah beberapa kali aku harus mengusap keringat muncul di dahinya.Sesekali aku mengeluarkannya agar ia tak sesak berada di tempat pengap.

Ternyata bukan anak-anak yang kemudian merasa jenuh menunggu seperti ini justru aku yang merasa bosan.Suami yang berdiri di tepi jalan   pun kulihat sudah gelisah dari tadi.Sepertinya ia juga mulai bosan sepertiku. Beberapa kali ia menoleh ke arah kami untuk  meminta kesabaran kami.

Sumber Gambar; Pixabay

Saat itulah sebuah mobil angkutan pedesaan jenis MPV kulihat menghampiri suamiku.Sepertinya sang supir sedang menawarkan mobilnya untuk kami pakai mudik. Setelah berbicara beberapa lama, suami kemudian menghampiriku dan meminta pendapatku apa masih ingin menunggu bis yang belum tentu datangnya atau memutuskan untuk menggunakan kendaraan ini saja.

Kami berembuk sejenak.Rasanya kami tak punya pilihan lain saat itu. Menunggu bis yang masih menyisakan kursi penumpang rasanya semakin mustahil apalagi malam bertambah larut. Sementara  memilih mobil MPV ini  juga bukan pilihan menyenangkan, selain  karena kurang nyaman  biasanya supirnya juga ugal-ugalan.

Akhirnya kami memilih opsi yang kedua. Sepertinya pilihan itu yang terbaik saat ini. Tak lama berselang kami telah berada di dalamnya bersama para penumpang yang lain.                 Sebelumnya suami telah membooking tempat duduk di “bagian kelas”, istilah yang diberikan untuk tempat duduk memanjang yang berada di tengah, agar kami bisa sedikit merasa nyaman.

Pelan-pelan mobil mulai meninggalkan tempat kami menunggu sedari tadi.Kedua anakku seperti biasa berebut tempat duduk, mencari posisi yang  mereka rasa nyaman.Semuanya ingin duduk dekat jendela agar bisa menikmati angin yang berhembus kencang.Maklum, mobil yang kami tumpangi tidak difasilitasi dengan AC sehingga hawa terasa cukup panas.

Tentu saja kami tak mengabulkan permintaan mereka.Untungnya anak-anak mau mengerti,sebagai gantinya aku menawarkan bekal yang kubawa. Keduanya pun kini tenang sambil menikmati snack kesukaan mereka.

Alhamdulillah setelah merasa kenyang dan ngantuk, kedua anakku kemudian tertidur.Sementara si kecil sejak tadi anteng dalam gendonganku,mungkin guncangan mobil dirasa seperti sedang diayun.

Setelah anak-anak nyaman dalam tidurnya, tinggallah aku dan suami yang justru tidak bisa tidur. Seperti yang kami duga, mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali kami hampir terpental ke depan gara-gara supir menginjak rem secara mendadak.Himbauan kami agar supir membawa mobil lebih pelan hanya diikuti sesaat karena tak lama kemudian mobil kembali ngebut.  

Untungnya anak-anakku tetap nyenyak dalam tidurnya. Untuk meredam kecemasan, sepanjang jalan aku tak henti-hentinya berdzikir memohon perlindungan agar kami bisa tiba dengan selamat.

Ternyata bukan hanya itu “kejutan” yang diberikan supir. Saat jarak perjalanan tersisa sepertiga  tiba-tiba sang supir menghentikan mobil di pinggir hutan yang gelap dan sunyi. Mulanya kupikir mobil mengalami kerusakan.Tapi ternyata aku keliru, rupanya sang supir merasa sangat mengantuk sehingga memutuskan untuk tidur terlebih dahulu.

Entah apa yang ada dalam pikiran sang supir sehingga nekad berhenti di tempat seperti ini. Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang jahat yang kemudian merampok kami?Apalagi saat ini sedang marak mobil maupun bis antar propinsi yang dirampok ditengah jalan.Kalau mau tidur, kan bisa memilih tempat yang ramai sehingga lebih aman.

Tapi semua protesku hanya bisa kusampaikan pada suamiku. Menurut suamiku, biarlah dia beristirahat daripada membawa mobil dalam keadaan mengantuk.Tentu akibatnya bisa lebih fatal.

Menyadari mobil tak lagi bergerak, satu persatu anakku mulai bangun. Mereka mulai gelisah dan merasa tak nyaman karena hawa panas dan sempitnya ruang gerak. Tiba-tiba bayi mungilku menangis kencang, segala upayaku tak juga berhasil membuatnya diam. Suaranya yang melengking tentu saja sangat menganggu.

Salah satu yang merasa terganggu adalah pak supir yang sedang tidur dan tepat berada di bangku depanku. Akibatnya pak supir tidak bisa melanjutkan tidurnya.Untungnya, karena dengan begitu mobil kembali melaju meski aku agak ngeri karena sepertinya pak supir menjadi kesal karena tidurnya terganggu dan melampiaskannya dengan melajukan mobil lebih kencang.

Seiring dengan lajunya mobil, ketiga anakku kembali melanjutkan tidurnya.Termasuk bayi mungilku yang kembali anteng dalam pangkuanku. Semilir angin yang berhembus dari jendela mobil yang tidak rapat serta guncangan mobil membuat mereka nyenyak kembali.

Tentu saja, aku tegang banget sepanjang sisa perjalanan ini. Kembali doa dan dzikir dikencangin. Aduh Pak Supir, kayaknya dirimu enakan ikut balapan F1 aja deh. Kemungkinan menangnya besar lho...... 

Alhamdulillah, Sesuai perkiraan, kami tiba tepat waktu dengan selamat hingga di depan rumah mertua.Usai membereskan barang dan membayar ongkos mobil kami pun segera masuk ke rumah yang sudah ramai dipadati oleh saudara serta para keponakan. Alhamdulillah, kami tetap bisa merasakan suasana lebaran meski harus berjibaku terlebih dahulu.Alhamdulillah ala kulli hal.

Sst, mau tahu cerita-cerita seru lainnya seputar mudik. Dapatkan di sini, di buku ini....








10 comments:

  1. Ngeri banget mbak berhenti di hutan. Saya pernah kejadian sih, tapi bukan pas mudik. Gegara salah perkiraan jam dan lokasinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah yg saya gak habis pikir. Kalau mau berhenti kan bisa cari tempat lain, yang lebih aman. Mba ivon sendiri kok bisa berhenti di area hutan juga?

      Delete
  2. ih ngeri sekali ya, aku mah pasti takut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga takut, Mba. Untung si kecil nangis kenceng jadi bapak supirnya terbangun.

      Delete
  3. Ya ampun, begitu sulitnya kisah mudikmu. Ke manakah kalian ini mudik? *sambil buka peta Sulawesi Selatan*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya salah perhitungan sih mba. Rencana mau naik bus tp ternyata full ya udah naik apa aja deh yg penting bisa mudik.

      Delete
  4. Di buku itu ada kisah Mbah Haeriah juga? 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada mba. Buku ini berisi kisah2 mudik dari beberapa penulis. Buku antologi.

      Delete
  5. Ngeri banget mbak ceritanya, alhamdulillah bisa sampai dengan selamat. Kalau aq mungkin uda jantungan

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...