Tulisan Perdana Di Harian Amanah

Thursday, 22 October 2015

Salah satu kebahagiaan seorang penulis adalah ketika tulisannya diapresiasi dengan dimuat di tempat yang dituju. Hal itu pula yang kembali kurasakan ketika sebuah tulisan singkat dimuat di Harian Amanah tanggal 15 Oktober 2015. Harian Amanah merupakan  sebuah koran lokal Makassar yang berprinsip “no fitnah no ghibah” dengan menggusung misi dakwah islam di dalamnya.
Ketika Para Ibu Menulis



Tulisanku tersebut berjudul “Ketika Para Ibu Menulis”. Tulisan ini merupakan salah satu jawaban atas tantangan yang diberikan Bapak Ir. Firmansyah selaku pemimpin Harian Amanah. Saat itu kami dari IIDN Makassar berkunjung ke kantor redaksi harian tersebut. Alhamdulillah kedatangan kami disambut dengan hangat dan sangat baik. Dan diakhir kunjungan itulah, Bapak Firman memberikan tantangannya agar kami mengirim sebanyak-banyaknya tulisan ke media cetak yang dipimpinnya sebagai bukti kalau kami memang para ibu yang suka menulis.  

Berikut naskah asli tulisanku.

Ketika Para Ibu Menulis
Mendengar kata ibu, lumrah yang terbayang dalam benak kita adalah gambaran seorang perempuan dengan sejumlah anak, setumpuk pekerjaan rumah dan seabrek aktivitas harian yang tak ada habisnya. Waktu 24 jam sehari rasanya tak cukup untuk menyelesaikan semuanya. Terlebih jika seorang ibu harus menyelesikannya seorang diri tanpa bantuan ART. Untuk semua aktivitas tersebut, masihkah seorang ibu mempunyai waktu untuk mengerjakan hal-hal produktif lainnya?Ternyata masih bisa.

Setidaknya keraguan itu terjawab ketika sekelompok ibu (meski ada sebagian yang belum menjadi ibu) kemudian bergabung dalam sebuah komunitas ibu menulis. Beberapa komunitas tersebut seperti Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), Ibu Rumah Tangga Menulis (IRUTA) atau Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB). Sesuai dengan namanya, para ibu yang tergabung dalam komunitas tersebut adalah mereka yang senang dan tertarik untuk menulis. Apalagi saat ini zaman telah canggih, menulis tak harus melulu dengan kertas dan pena.

Dengan bermodalkan hp, seorang ibu juga dapat menulis di sela-sela kesibukannya. Menulis apa saja, termasuk menulis status di sosial media sebagai sarana latihan menulis yang paling mudah.Kehadiran komunitas menulis ini setidaknya dapat memberi warna baru akan sosok seorang ibu. Dengan menulis seorang ibu akan terlihat lebih cerdas. Setidaknya itu gambaran sebagian besar orang akan sosok seorang penulis. Bukankah untuk bisa menulis, seseorang harus bisa, biasa dan senang membaca terlebih dahulu. Aktivitas ini tentu saja mencerdaskan. Dan kecerdasan itu akan bertambah ketika seseorang mampu menulis atau menuangkan dari apa-apa yang telah dibacanya.

Dan yang penting, semua aktivitas mencerdaskan ini tidak hanya akan bermanfaat bagi ibu-ibu itu sendiri namun juga bagi anggota keluarganya yang lain. Dan jangan salah, aktivitas menulis juga bisa dijadikan side income. Dengan mengirimkan tulisan ke media cetak, menjadi blogger, kontributor media atau pun menulis buku maka sejumlah rupiah dapat berpindah ke rekening pribadi.

Bagaimana para ibu? Sudahkah kita menulis hari ini?

(Haeriah Syamsuddin, Ibu 5 Anak)

Semoga bermanfaat

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...