KISAH CINTAKU

Monday, 6 May 2013


Aku jatuh cinta pertama kali pada dunia kepenulisan waktu kelas enam SD. Saat itu ada salah seorang teman sekelasku, namanya Verni, jago buat puisi dan puisinya itu sering dimuat di harian Pedoman Rakyat (salah satu koran daerah di Makassar yang kini sudah tidak terbit lagi). Hampir tiap senin, Verni memamerkan karyanya yang dimuat di hari Ahad. Dan yang bikin iri, Verni sekalian memproklamirkan honor yang diterimanya. Rp 500/puisi. Jumlah yang cukup banyak untuk anak SD di tahun 1986. (hehehe, ketahuan umurnya deh...)

Alhamdulillah, Verni anaknya baik hati dan tidak sombong. Dengan penuh semangat ia selalu 'ngompori' kami, teman sekelasnya untuk mengikuti jejaknya. Alhasil, setiap hari jumat kami mengumpulkan hasil karya yang siap untuk diantar ke kantor redaksi koran PR tersebut sepulang sekolah. Biasanya kalau ada uang, kami naik pete-pete ke kantor redaksi. Tapi kalau lagi kere, jadilah kami berjalan kaki menuju kantor redaksi yang berjarak sekitar 1 kilometer dari sekolah kami. 

Tapi rupanya, keberuntungan belum berpihak padaku. Hampir setahun, selama setiap kamis atau jumat, aku ikut rombongan "para penulis cilik" tapi tak satupun karya puisiku dimuat. Akhirnya, aku hanya bisa gigit jari melihat kegirangan beberapa orang kawanku yang tulisannya berhasil dimuat. Impianku untuk menikmati honor Rp 500/puisi tak juga kesampaian. 

Setelah tamat SD, aku tak lagi bersentuhan dengan dunia tulis menulis. Aku sudah menetapkan dalam hati. "Ria, kamu tidak ditakdirkan untuk menjadi sastrawan" 

Meski demikian, hobi membacaku tetap kulakoni. Kegiatan mengunjungi tempat penyewaan buku dari satu tempat ke tempat yang lain menjadi rutinitasku. Meski tak lagi bermimpi menjadi sastrawan yang jago menulis puisi tapi aku tak bisa menghentikan kebiasaanku menulis diary. Yah, setidaknya aku jadi sastrawan diary aja deh.

Ketika menginjakkan kaki di bangku kuliah, aku yang tersasar di fakultas sastra padahal sebelumnya telah jatuh cinta pada dunia akuntansi, seakan menemukan dunia lama yang telah kutinggalkan. Pergaulan dengan para senior yang beberapa diantaranya sok nyastra membuatku teringat pada cinta pertamaku. Ya,cinta pertamaku pada dunia kepenulisan.

Gairah cinta pertamaku timbul kembali. Meski dunia puisi telah membuatku patah hati tapi bukankah masih ada dunia lain disana. Aku kan suka menulis diary. Katanya, orang yang suka menulis diary biasanya juga bisa menulis cerita.

Akhirnya, dengan mengerahkan segenap kemampuanku. Aku kembali menata cinta pertamaku. Aku kembali menulis. Tidak muluk-muluk. Tidak berat-berat. Aku menulis cerita anak dua halaman dengan mengambil ide adik-adikku yang sedang lucu-lucunya.

Hasilnya, tulisan yang kuantar dimuat dua hari kemudian. Senang? tentu saja. Bangga? itu pasti. Yang jelas rasanya seperti orang yang sedang jatuh cinta dan rasa cintanya itu tidak bertepuk sebelah tangan. Aku bahagia........

Setelah itu aku terus menulis, menulis dan menulis. Menulis itu ternyata seperti orang yang jatuh cinta. Bila tulisan kita dimuat serasa cinta kita terbalaskan. Senang dan bahagia. Bila tidak dimuat....yah, seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sakit dan perih. Huhu.....













Tiga dari sekian banyak cintaku yang terbalaskan.



16 comments:

  1. alhamdulillah tauwwa akhirnya terbalas, z dulu suka kah gang kirim cerpen dak pernah ada lo2s, mungkin dak bakat kali, tapi tidak ada mimpi yang tidak terkabulkan apabila kita berusaha dan berdo'a...bewe en join jg d blogku dih www.unekunekaty.blogspot.com :D

    ReplyDelete
  2. iye, kukira juga tidak bakatma ka ditolak berkali2. Tapi karena mimpi itu terus ada maka keinginan untuk mewujudkan mimpi itu juga tetap ada. So, keep dreaming....oke, jalan2 ma ke sana.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. akhirnya usahanya dih, berarti z juga butuh usaha keras, hihihi biar jadi penulis punya buku juga :D

      Delete
    2. ayo kita sama2 terus berusaha mba Aty....

      Delete
  3. wuiiih keren mba, mantab cintanya bener2 terealisasikan, salam kenal mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, tapi jangan salah lho, yang gak terealisasi juga banyak kok.....salam kenal juga. terima kasih udah datang.....

      Delete
  4. salam kenal mbak ria,
    waaaa... dari SD udah rajin ya dan sekarang udah bisa menghasilkan pula...pengeeeenn

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah ala kulli hal. salam kenal juga. terima kasih kunjungannya. semoga gak bosan....

      Delete
  5. wah seneng dong ya tulisannya sering dimuat di media massa.. lha saya belum mbak... baru satu kali itupun media lokal :( tapi setidaknya dengan menulis mengencerkan otak saya :D
    nice posting, Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju mba, menulis memang bisa mengencerkan otak. terima kasih juga udah berkunjung......

      Delete
  6. Pengen juga sesekali "cinta" saya terbalaskan.. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuk, mari menulis biar cintanya kesampaian.....

      Delete
  7. Aiiiih seumuran ki'. SAya juga kelas 6 SD di tahun 86 (masuk SDnya tahun 80). Di mana kah SD ta'? Saya di SD Mangkura *hilang fokus mi inie*

    Btw, saya baru akhir2 ini saja jatuh cinta dengan dunia menulis. Kita' dari kecil memang di. Mungkin tidak saya sadari juga. Kalo ada pelajaran mengarang atau soal mengarang, kertasku biasanya penuh, semaksimal yang diminta.

    Eh, saya juga jadi kontributor di buku Terapi Menulis itu tapi sampai sekarang belum datang2 pi bukunya. Ribet urusannya ... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ternyata kita satu generasi, hehehe. saya dulu di SD Mattoanging I, kebetulan dekat rumah. waktu sekolah justru saya tdk suka mapel bhs indonesia apalagi mengarang, saya sukanya sejarah(kayaknya dulu namanya PSPB) tapi sejak kecil memang sudah gila membaca.

      urusan buku terapi menulis memang ribet, tapi bagiku itu buku berarti sekali bela soalnya buku itu adalah tonggak sejarah kembalinya kepercayaan diriku menulis (cie bahasaku)jadi kayaknya harus kumiliki.....

      Delete
  8. Sama Kak.. saya juga punya kisah pertama ketika SD dengan yang namanya dunia menulis. lomba mengarang yang nggak menang, ngirim naskah cerpen yang ga dimuat. akhirnya banting setir nulis surat kepada beberapa sahabat pena, dan dibalas, hehehe. ketika kuliah lama terpendam dan akhirnya CLBK, cinta lama bersemi kembali, setelah mempunyai 2 orang buah hati. hehehe...
    Apapun yang terjadi cinta pertama takakan pernah mati :-)
    Aisyah Prastiyo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga dulu suka berkirim surat dengan sahabat penaku. Waktu itu saya punya banyak sahabat pena, alhasil uang jajanku habis buat beli perangko, kertas surat, amplop dan kartu pos. Tapi semuanya terbayarkan ketika melihat tumpukan surat tersebut. Senang dan bangga rasanya.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...