Pengalaman Mencari Raudhah Saat Umroh Ramadhan 1443/2022

By HAERIAH SYAMSUDDIN - Sabtu, September 17, 2022

 

Alhamdulillah, Ramadhan tahun 2022 yang lalu, saya dan suami berkesempatan menunaikan ibadah umroh. Bersama dengan Travel Umroh Wahdah Makassar, kami berangkat pada 17 April 2022 dan kembali ke tanah air pada 7 Mei 2022. 

Meski sudah  berlalu beberapa bulan, rasanya tetap saja seperti baru kemarin kami memenuhi undangan-Nya. Saat menuliskan kembali sepenggal kisah saat di sana, mata ini tak henti-hentinya berkaca-kaca. Rasa rindu untuk kembali lagi ke sana bergelora di dalam dada. Semoga ini pertanda kami akan kembali ke sana. Aamiin. 

Tentu saja, selama melaksanakan umroh, banyak the unforgettable moments alias momen-momen tak terlupakan yang terjadi di sana. Salah satunya adalah pengalaman saat saya berupaya mencari Raudhah. 

Apa yang kamu rasakan ketika telah berada di Kota Nabi dan berada di Masjid Nabi, tetapi tak bisa berkunjung ke Raudhah? Raudhah merupakan area yang berada di bagian dalam Masjid Nabawi yang terletak di antara rumah dan mimbar yang beliau gunakan untuk berdakwah. Saat ini, tempat tersebut menjadi makam beliau bersama dengan 2 sahabat mulia, yakni Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiallahu anhuma

Baca Juga: Inilah 10 Waktu Terkabulnya Doa

Memang, saat pandemi, Raudhah termasuk bagian yang ditutup dan sangat dibatasi untuk dikunjungi. Namun, setelah pelan-pelan berlalunya pandemi, Raudhah mulai dibuka meski setiap yang diperbolehkan masuk haruslah memiliki tasrih atau surat izin masuk. 

Qadarallah, meski sudah memiliki tasrih, saya tetap tidak berkesempatan masuk ke Raudhah. Karena di  jadwal berkunjungku bertepatan dengan jadwal city tour travel, saya pun harus merelakan kesempatan emas itu melayang begitu saja. 

Sebenarnya, bisa saja saya nekad memilih Raudhah dan meninggalkan city tour. Namun, karena saya biangnya nyasar, saya tidak berani ke Raudhah seorang diri. Soalnya, saya senantiasa diwanti-wanti Mama agar jangan jalan sendiri karena takutnya nyasar. Mana saya tidak tahu di mana letak Raudhah. 

Saat itu informasi untuk masuk ke Raudah sangat simpang siur.  Jadinya, wajar saja jika pihak travel bingung karena ternyata info untuk memasuki Raudhah senantiasa berubah-ubah. Kadang sudah dijadwalkan jam sekian eh ternyata pada jam tersebut Raudah tidak dibuka dan justru terbuka di waktu yang lain. Pandemi memang membuat banyak perubahan di mana-mana.

 

Tasrih yang berisi jadwal kunjunganku

Nah, tepat di hari terakhir berada di Kota Madinah, saat sebagian besar jemaah berburu oleh-oleh di Toko Bos Ali (saya tidak ikut karena low budget, hehehe), saya dan  suami berencana untuk jalan-jalan berdua. Pacaran gitu, loh soalnya kita jarang-jarang bisa berduaan. Hehehe. 

Saat berada di selasaran hotel, tiba-tiba salah seorang jemaah mengabarkan kalau saat ini pintu Raudhah terbuka untuk perempuan.

"Betulkanki?' tanyaku kembali meyakinkan. 

"Iye, ini dari sanaka, tapi untuk perempuan saja."

Tentu saja, ini adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu. Saya pun memaksa suami untuk mengantarku ke sana. Meski suami juga tidak tahu jalan ke sana, suami tetap membawaku. Kami pikir nanti bisa bertanya-tanya kepada siapa saja di sana.


Kubah Hijau


Mencari jalan menuju Raudhah

"Dari Indonesia, Bu?" suamiku bertanya kepada salah seorang jemaah anggota travel lain. Meski di negeri orang, tidak sulit untuk mengenali saudara sebangsa dan setanah air, hehehe.

" Iya, kami mau ke Raudhah." jawab ibu tersebut ramah.

Suami pun segera menyuruhku bergabung dengan mereka karena tepat di depan kami sudah termasuk area wanita sehingga suami tidak boleh sampai ke sana.

"Saya boleh ikut rombongannya, Bu?" tanyaku setelah berada dekatnya.

"Silakan, tapi kami juga belum yakin apa bisa ke Raudhah." jawab ibu tersebut.

Saat akan bergabung dengan rombongan jemaah tersebut, tiba-tiba suamiku menarikku keluar dari barisan. Tentu saja, saya terkejut. Duh, ada apa lagi, nih? 

Suamiku segera memberitahuku kalau saat itu ada seorang ibu tua yang sedang mengamatiku. Saat tahu saya ingin ke Raudhah, beliau pun menawarkan bantuannya lewat suami karena kebetulan beliau juga mau ke sana. Saat menengok jemaah yang tadi, rupanya mereka sudah jauh meninggalkan saya. Ya udah, saya dengan ibu ini aja. (Maaf, saya lupa namanya)

Berdua, kami pun berjalan menuju salah satu pintu yang kata ibu itu adalah pintu menuju Raudhah. Si ibu bercerita kalau ia sudah 4 kali berumroh di bulan Ramadhan. Jadi, sudah hafal jalan menuju Raudhah.

Sementara itu, suami hanya bisa memandang dari kejauhan sembari terus mengingatkan agar saya menghubungi jika sudah selesai untuk dijemput.

 


Berjalan Menuju Raudhah


Berjalan menuju Raudhah

Kami pun berkenalan. Masya Allah, ternyata kami dari rombongan travel yang sama. Maklum, jumlah kami yang mencapai 169 orang membuat saya agak kesulitan mengenal teman-teman sesama jemaah. Jumlah kami yang cukup banyak itu kemudian dibagi menjadi 4 kelompok, bahkan tempat menginap pun dibagi menjadi 3 tempat.

Saat itu kami sama-sama tidak memakai atribut travel (padahal udah diwanti-wanti pihak travel agar senantiasa mengalungkan name tag agar mudah dikenali kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan). Eh, saya sih membawa tas selempang travel, tetapi gak kelihatan karena tertutup jilbabku yang lebar.

 


Pintu 25

Singkat cerita, kami pun tiba di pintu 25. Di sana sudah banyak jemaah perempuan yang menunggu di depan pintu. Sementara di seberang sana, juga banyak jemaah perempuan lainnya yang menunggu pintu terbuka. Mereka memilih bernaung di tempat yang teduh meski agak jauh dari pintu masuk karena tepat di depan pintu sudah penuh dengan orang dan juga cuaca agak panas.



Jemaah wanita yang menunggu pintu dibuka


Di seberang sana ternyata adalah Gate 338

"Hei, bukannya itu pintu gerbang 338?" saya berseru dalam hati usai melihat angka 338 yang tertera di salah satu gerbang.

Pintu 338 adalah meeting point, tempat para jemaah yang tadi pagi shopping ke Boss Ali. Masya Allah, ternyata pintu menuju Raudah berada tepat di depan pintu gerbang 338. 

Tiba-tiba saya teringat dengan Fulanah, teman sekamarku yang juga sangat ingin ke Raudah. Sebenarnya, kami tadi bertemu di depan lift. Dia dan suaminya baru pulang shopping di Boss Ali, sementara saya dan suami akan ke Raudhah. Saat itu saya mengajaknya, tetapi dia menolak. Rupanya, saat itu dia baru saja mendapat haid sehingga tidak bisa ke Raudah.


Pintu menuju Raudhah (katanya)
 

Setelah tiba di depan pintu, saya dan ibu itu kemudian mencari posisi yang ternyaman dan teraman. Awalnya, saya mendapat tempat yang berada tepat di depan pintu. Saat itu saya merasa beruntung karena jika pintu terbuka, saya bisa segera masuk. 

Namun, saya kemudian berpikir. Bukannya justru posisi saya termasuk berbahaya? Jika pintu terbuka, orang-orang akan menyerbu masuk. Dengan jumlah sebanyak itu, ditambah dengan badan mereka yang besar-besar maka bisa jadi saya malah akan tergencet, bahkan mungkin terinjak-injak. Wah, bahaya, nih.

 


Saya berada tepat di belakang  barisan ini

Saya pun pindah mengikuti si ibu yang sudah mendapat tempat yang aman. Saya sedang berdiri, tiba-tiba seorang ibu Mesir menyuruhku duduk dan melarangku berdiri. Si ibu kelihatan agak kesal, entah kepada siapa dan karena apa.

Sebenarnya sih, saya juga mau duduk. Namun, duduk di mana? 

"No space to sitting, Madam ..."   Refleks kalimat itu terucap. Maklum, gak bisa Arabic. Huhuhu. 



No space to sitting

Entah si Madam Mesir ngomong apa lagi mendengar ucapanku. Yang jelas saya gak ngerti, tetapi wajahnya terlihat kurang ramah. Huhuhu.

Setelah beberapa menunggu, tiba-tiba ada arahan kalau justru pintu sebelah yang terbuka. Seketika kami semua berdiri dan meninggalkan pintu 25 menuju pintu 29. 


Bergegas Menuju Pintu Sebelah

Setelah berada di dalam masjid, saya pun segera mengerjakan shalat sunat Tahiyatul Masjid sebanyak dua rakaat. Setelah itu, kami duduk menunggu. Yah, meski telah berada di dalam masjid, ternyata Raudah belum dibuka. Kami pun hanya bisa mengintip lewat celah-celah pembatas.

Menunggu dibukanya Raudhah



Hasil intip dari celah pembatas

Saat itu ada seorang ibu yang  berdoa dalam bahasa Arab dengan suara yang sangat kencang. Si ibu berdoa sembari menangis terisak-isak sehingga membuat suasana menjadi haru. Tak sedikit, yang juga ikut mendadak sendu.

Ya, di sini kami umatmu wahai Nabi Mulia, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.  Kami umatmu yang sangat mencintai dan sangat merindukanmu, wahai manusia terbaik di dunia. 

"Katanya, hari ini tidak ada ziarah," beritahu si ibu usai bertanya kepada salah seorang cleaning service yang rupanya orang Indonesia juga.


Sebagian jemaah yang menunggu dibukanya Raudhah

"Raudhah masih ke dalam lagi. Entah mengapa tidak dibuka hari ini, padahal banyak yang sudah menunggu sejak jam 2 pagi tadi. Saya sudah di sini sejak subuh tadi." beritahu seorang ibu yang merupakan teman satu travel. Rupanya, kami ada 4 orang yang berasal dari jemaah yang sama di dalam.

Saya masih mau menunggu meski kabar tidak ada ziarah sudah tersebar. Namun, sms dari suami menyuruhku segera kembali karena jemaah akan segera ke Makkah siang ini. Alhamdulillah, saya sudah packing dan koper juga sudah siap diangkut yang saya letakkan di depan kamar, sebagaimana instruksi dari travel. 

Saya pun mengajak ketiganya pulang. Namun, mereka masih ingin berada lebih lama di sini. Saya pun berniat pulang sendiri usai memastikan jalan mana saja yang harus saya lalui agar bisa kembali ke hotel tanpa nyasar.

"Gpp, saya antarki pulang. Kebetulan, saya belum packing." tiba-tiba si ibu berubah pikiran. 



Kami pun berjalan berdua menyusuri pelataran Masjidil Haram yang sangat luas. Saat itu beliau menunjukkan sesuatu yang selama ini saya cari. Beliau memberitahukan bahwa Raudah berada bawah menara dan kubah yang berwarna hijau. Tentu saja, sangat mudah menemukannya karena menara dan kubah lainnya berwarna putih. Masya Allah.   


Kubah dan Menara Hijau 

Oh ya, satu hal yang membuat saya penasaran adalah lantai Masjid Nabawi yang katanya mampu meredam panas sehingga hawa panas tak terasa. Nah, ini saatnya untuk membuktikan hal tersebut. Sepanjang jalan menyusuri pelataran Nabawi yang pagi itu sudah lumayan terik, saya hanya mengenakan kaus kaki. 

Masya Allah, lantai yang terkena sinar mahatari langsung tersebut memang tidak terasa panas. Bahkan, adem yang terasa. Malah, kakiku baru terasa panas justru saat menginjak karpet yang belum sempat digulung usai digunakan untuk shalat Subuh tadi.  

Alhamdulillah, kami tiba di hotel dengan selamat meski lumayan ngos-ngosan juga. Di lobi, sudah menunggu suami yang sejak tadi mengirim SMS karena khawatir istrinya hilang, hehehe.

Ternyata, masih banyak waktu untuk packing-packing. Saya dan si ibu pun berpamitan karena kami harus kembali ke kamar masing-masing. 

Qadarallah, rencana untuk berangkat ke Makkah rupanya molor dari pukul 12 siang menjadi pukul 8 malam. Otomatis, jadwal umroh juga berubah. Tadinya, kami direncanakan berangkat siang agar tiba di Makkah malam hari sehingga bisa mengerjakan ritual umroh dalam keadaan telah berbuka puasa. Nyatanya, kami berangkat malam sehingga nantinya akan mengerjakan umroh pada pagi hari dan dalam keadaan berpuasa.

 


Hotel Tempat Kami Menginap di Madinah

Yah, begitulah, manusia memang hanya bisa membuat rencana dan hanya Allah Ta'ala yang menentukannya.

Alhamdulillah, ibadah umroh sudah dilaksanakan. Semoga Allah Ta'ala menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang saleh/salihah. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. 

                                 *

  • Share:

You Might Also Like

12 Comments

  1. Masya Allah ikut deg2an bacanya mudah2an nanti bisa ibadah di raudhoh lagi ya kak. Aku juga pengen banget naik haji plus dan umroh plus eropa sama keluarga, bismillah berdoa dan berusaha saja sebaik mungkin, klo rezeki nggak akan kemana-mana ya kan

    BalasHapus
  2. masyaallah tabarakallah semoga suatu hari segera saya dapat mengunjungi rumah Allah yang mulia dan indah ini dan diberikan kemudahan serta kelancaran, aamiin. Nyes banget kak bacanya

    BalasHapus
  3. MasyaAllah, meski Raudhah tidak terbuka saat itu tapi sudah ada rasa haru dan bahagia sudah berjuang dan berada di tempat indah itu ya Bun, semoga suatu hari nanti bisa kesana juga, Aamiin.

    BalasHapus
  4. Ya allah, aku pengen banget loh bisa umroh mba, baca blogmu jadi tambah kepengen sampai ke baiytullah, pasti seru banget ya.

    BalasHapus
  5. MasyaAllah tabarakallah... ikut penasaran jadinya, hehe... Semoga next time bisa dipanggil menjadi tamu Allah lagi dan dapat beribadah di Raudhah ya, Bun Hae...

    BalasHapus
  6. Masyaallah tabarakallah, pengalaman yang berkesan tentunya ya... Mudah-mudahan saya dan keluarga berkesempatan merasakan ibadah di Raudhah.. Aamiin Yaa Robb

    BalasHapus
  7. MasyaAllah tabarakallah, semoga nantu suatu saat aku dan suami beserta keluarga juga diberikan rejeki untuk bertandang ke tanah Suci.. aamiin

    BalasHapus
  8. Semangattt Bun Haee.. Semoga bisa ke sana lagi merasakan sensasi salat di Raudhah ya, Aamiin. Benar-benar pecah tangisku waktu berdoa di sana. Semoga Allah ijabah semua doa kita. Aamiin.

    BalasHapus
  9. Masyaa Allah.. Saya kalau membaca dan mendengar cerita, kisah saudara, teman yg berhaji maupun umroh pasri sangat terharu.. Kapan saya bisa menginjakkan kaki ke Tanah Suci.. Bismillah, semoga Allah mudahkan kami sekeluarga menyusul ke Makkah.. Aamiin..

    BalasHapus
  10. masyaallah, tabarakallah, doakan saya um, bisa segera menyusul memenuhi panggilan-Nya.

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah ya mbak diberi kesempatan untuk umroh. Dan selain ibadah, kita juga bisa menambah teman baru selama perjalanan umroh. Semoga bisa nular ke saya untuk bisa umroh. Aamiin

    BalasHapus
  12. Masyaallah, seneng sekali ya Mba bisa Umrah ama keluarga. Semoga saya juga dikasih kesempatan buat ke Tanah Suci. Wah beneran berarti ya kalau lantai di sana mampu meredam panas. Saya juga penasaran ama patung tiang Masjid yang bisa dibuka tutup

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang baik. Happy Blogging