KESETIAAN MAMA

Thursday, 2 July 2015


Aku tersenyum memandang sejumlah uang  yang kini berada dalam genggamanku. Hari ini, tepat sebulan sejak tulisanku dimuat di koran harian di kotaku. Itu artinya, aku sudah bisa mengambil honor tulisan tersebut. Kebijakan redaksi koran tersebut memang memberikan waktu sebulan bagi setiap tulisan yang dimuat untuk mengambil honor pemuatan.

Sebelum pulang, aku menyempatkan diri membeli sesuatu. Langkahku menuju sebuah toko yang berada tak jauh dari kantor redaksi koran tersebut

“Berapa, Mba?” tanyaku sembari meletakkan barang belanjaanku di samping kasir.

Mba kasir menyebutkan sejumlah harga. Aku pun mengeluarkan selembar uang  dari saku celana panjangku. Untung saja  siang itu pengunjung toko tidak sedang ramai sehingga aku tidak perlu berada terlalu lama di toko tersebut.

Usai urusan bela-beli, dengan  riang aku keluar dari toko. Buru-buru tanganku melambai mencegat angkot yang lewat di depanku. Aku ingin segera tiba di rumah. Menyerahkan apa yang baru saja kubeli pada mama. Aku tahu pasti, mama akan senang menerimanya.
*
Kenangan di atas adalah kenangan dua puluh tahun yang lalu. Saat itu aku masih duduk di bangku kuliah.  Aku yang aktif menulis sesekali membelikan sesuatu untuk mama saat honor tulisanku cair. Kali ini aku membelikan  makanan kesukaan mama.  

Saat itu aku membeli sekotak keju dan sebungkus roti tawar. Mama memang suka sekali keju. Saat itu merk keju belum sebanyak saat ini. Bentuknya pun masih kotak persegi. Saat itu ketika menyebut keju maka yang ada hanyalah keju kraft. Keju ya kraft. Itu saja yang kami tahu.


Biasanya mama menikmati keju dengan cara dipotong tipis-tipis sebagai cemilan. Terkadang juga mama  menjadikannya teman makan roti tawar. Saat itu belum ada  kemasan keju dalam bentuk lembaran sehingga keju berbentuk kotak itu harus dipotong atau diiris sebelum dikonsumsi.

Sewaktu bapak masih ada, aku sering melihat bapak membawakan keju kraft khusus untuk mama sepulang berbelanja kebutuhan toko di pasar. Bapak yang lidah ndeso, tidak terlalu cocok dengan makanan tersebut. Bapak tidak suka keju.

Dari sana lah aku tahu kalau mama suka sekali keju.  Sesekali Bapak juga membawakan sekotak keju untuk kami anak-anaknya. Kalau sudah begitu, kami akan berebut untuk bisa menikmati kenikmatan keju kraft. Rasanya yang asin-asin gurih bikin kami ketagihan.

Saat itu keju adalah makanan yang mewah bagi kami. Aku terlahir bukan dari keluarga kaya. Keluarga yang cukup sederhana. Bahkan semakin sederhana ketika Bapak, sang kepala keluarga menghadap ilahi di saat kami masih sangat membutuhkannya. Karenanya, mama pun terpaksa tampil sebagai kepala keluarga, the single parent dengan sembilan orang anak.

Susah payah, mama membesarkan kami. Alhamdulillah, kini semua berhasil dilewati dengan baik. Satu persatu anak mama telah menikah  sehingga beban mama semakin berkurang.  Kini tersisa tiga orang lagi yang masih bersama mama, itu pun ketiganya berhasil meniti karier dengan cemerlang.     

Meski kini mama tidak lagi kesulitan menikmati makanan kesukaannya yang serba keju namun aku tahu pasti, keju kraft tetap menyimpan kenangan manis di hati mama. Mama tetap setia pada rasa keju kraft yang sulit untuk disamai merk keju lainnya.

Dan, kesetiaan mama pada keju kraft ternyata menurun ke anak-anakku. Kelima anakku suka sekali keju kraft. Berulang kali aku mencoba menyajikan keju dengan merk lain namun selera anak-anakku sama persis dengan mama. Susah berpindah ke lain hati kalua menyangkut urusan keju.
          
“Ummi, kita maunya keju kraft. Lebih enak….” protes anak-anakku jika aku kembali menyajikan keju merk lain. Maklum, namanya emak-emak kadang harga murah menjadi prioritas. Hehehehe.

Aku pun kapok coba-coba menyajikan keju merk lain. Kapok ditolak, hehehe. Biarlah mahal dikit yang penting anak-anak senang. Toh, sebenarnya aku pun sependapat dengan anak-anak. Tak ada yang menyamai rasa keju kraft.
 Keju Kraft yang paling sering kami konsumsi
*
“Jadi, nenek juga suka keju kraft kayak kita?” celutuk Nusaibah, anak ketigaku usai aku bercerita tentang kesamaan mereka dan neneknya.
  
Aku mengiyakan.

“Bukan nenek yang kayak kita, kita yang kayak nenek. Nenek kan lebih tua jadi nenek lebih dulu doyan keju kraft dong…” protes si sulung.

Protes si sulung disambut cekikikan adik-adiknya. Termasuk si bungsu yang baru berumur 2.5 tahun. Meski aku tahu, si bungsu ikutan cekikikan bukan karena ngerti namun ikut-ikutan melihat tingkah keempat kakaknya.

Si bungsu sedang menikmati selembar keju

Dua anakku berebut lembaran keju kraft

Terima kasih Mama yang sudah mengenalkan dan membuatku jatuh cinta pada keju kraft. Kesetiaan mama pada keju kraft ternyata juga diikuti anak-anakku. Keju kraft yang senantiasa di hati kami, dari generasi ke generasi.
           
                     



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...