Menulis, Hobi Berbayarku

Friday, 26 January 2018

Buku-Buku Kebangganku

Hobi adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang tanpa adanya paksaan maupun bujukan dari orang lain. Hobi dilakukan karena suka dan ada rasa bahagia ketika mengerjakan pekerjaan tersebut. Itulah hobi, menurut kacamata saya.


Lalu hobiku apa? Banyak sih, saya suka membaca,  menulis, berada di tengah orang baru, mengamati tingkah laku orang, bercengkrama dengan anak-anak, jalan-jalan putar-putar kota, gangguin suami, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak hobiku, adakah yang dibayar? Tentu saja, semua hobiku dibayar. Ada yang dibayar dengan pelukan dan ciuman dari suami dan anak-anak, ada yang dibayar dengan ucapan terima kasih oleh orang-orang sekitarku, ada yang ……. Ups, bukan itu…maksudnya dibayar dengan materi. Kasarnya, dibayar pakai duit. DUIT alias UANG.

Hm, kalau hobiku yang dibayar pakai duit adalah MENULIS. Alhamdulillah, nikmat dan bangganya ketika hobi menulisku dibayar pertama kali saya rasakan saat kuliah. Didorong oleh kebiasaanku membaca sejak kecil, saya pun akhirnya bisa menulis. Kebiasaan membaca, membuat perbendaharaan kataku menggunung. 


Dari kebiasaan ini juga, saya bisa mengetahui mana tulisan yang enak dibaca dan tidak. Dari kebiasaan membaca, saya jadi bisa mereview sebuah tulisan, memberi tanggapan sebaiknya tulisan ini seperti ini, dan sebagainya.

Dan, kebisaanku menulis pun lahir dengan sendirinya.  Untuk bisa menulis, saya tidak pernah sekalipun ikut kursus menulis atau pelatihan menulis. Bahkan, terus terang saja, untuk membaca pedoman penulisan yang baik pun, saya malas. 

Karenanya, ketika ditanya bagaimana cara menulis yang baik, saya pun tak tahu. Eh, udah gitu, saya malah dituduh gak mau berbagi ilmu. Yaelah, saya gak sepelit itu juga, kali. 

Paling  kalau ditanya begitu, saya hanya bisa bilang... “resepnya, membaca, membaca, dan membaca.” Memang kiatku untuk bisa menulis ya membaca itu saja. Benar-benar otodidak alias mengalir dengan sendirinya tanpa belajar ini itu.

Semuanya bermula dari keprihatinanku atas buruknya beberapa tulisan yang pernah kubaca. Daripada sibuk mencela, saya pun menantang diri sendiri

"Bisakokah bikin yang lebih bagus?"

Maka, saya pun memberanikan diri menulis sebuah cerita.

Dan....jadilah sebuah cerita anak pertamaku. Berbekal pengetahuan mengirim tulisan ke redaksi koran yang kudapat saat SD, saya pun memberanikan diri mengirim tulisanku ke redaksi Pedoman Rakyat. Koran ini merupakan koran lokal terbesar  saat itu. Sayangnya, kini sudah tidak terbit lagi.

Saya ingat sekali, saat itu saya mengirim tulisan di hari Kamis. Dan, Alhamdulillah pada hari Ahad, ceritaku dimuat di rubrik SAHABAT, rubrik khusus untuk anak.

Tuh, kan, apa saya bilang. Bisa tonja menulis….” Pujiku pada diri sendiri.
Meski senang, namun ada rasa was-was yang tiba-tiba muncul.

Bagaimana kalau ternyata orang tidak suka membaca tulisanku?”

Bagaimana kalau ternyata ceritaku norak?”

“Bagaimana kalau ternyata ceritaku membosankan?”

Dan banyak lagi was-was lainnya. Tahu tidak, saat itu saya bahkan tidak berani keluar rumah. Takutnya diserbu pembaca koran tersebut yang komplain dengan tulisanku.


Tapi ternyata, kekhawatiranku tidak berlangsung lama. Esoknya , di hari Senin, semua berjalan seperti biasa. Tidak ada yang complain dengan tulisanku. Tidak ada yang marah dengan tulisanku. Bahkan, tidak ada yang minta tanda tanganku…*aposeh.

Dan....menulis itu memang candu. Setelah tulisan pertamaku dimuat, saya terpacu untuk kembali menulis dan lagi dan lagi……

Alhamdulillah, senang rasanya punya hobi yang dibayar. Kalau Kamu, apa hobi dibayarmu?


***


*Tulisan ini merupakan tanggapan atas tulisan Mak Diah Alsa dalam event #KEBloggingCollab untuk kelompok Retno Marsudi



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...