PLEASE, JANGAN NGARET

Thursday, 7 September 2017



Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, senang rasanya program Collaborative Blogging KEB hadir kembali. Meski saya telat karena satu dan lain hal, tapi yakinlah...... program ini sangat menyenangkan buat saya pribadi yang notabene masih bergelar blogger moody. Ngisi blognya tergantung mood. Duh...

Sebagai pembuka program, hadir tulisan dari Mak Irly dengan judul Tidak Bisa Tepat Waktu? Lakukan Hal Ini Jika Terlambat Datang Saat Janjian. Sebuah judul yang mestinya menjadi tamparan karena kali ini saya pelaku telat itu. Maafkan ya teman-teman Gank Retno Lestari.

Biar gak semakin telat, langsung aja yuk baca-baca tulisan curcol-ku berikut....

Dulu saya termasuk orang yang paling benci dengan jam karet. Saking bencinya, saya sanggup dan tega meninggalkan orang yang telah membuat janji denganku gara-gara tidak menepati janji. Saya tak peduli, meski beberapa kali temanku complain karena kutinggalkan saat kami janjian akan berangkat bersama menuju sebuah acara. Salah sendiri sih, siapa suruh pakai jam karet.


Didikan Bapak Rahimahullah yang selalu menerapkan on time membuatku sangat menghargai waktu. Saking disiplinnya dengan waktu, waktu kecil saya sempat berpikir kalau-kalau Bapak sebenarnya pernah bercita-cita menjadi militer namun gak kesampain. Semuanya karena ke’galak’an Bapak, hehehe.

Pernah loh, satu ketika, tangan Bapak mendarat di kepalaku alias saya kena tabok. Gara-garanya, saya lupa menyalakan lampu depan di sore hari. Jadi, salah satu tugasku di rumah adalah menyalakan lampu depan setiap jam 5 sore. Namun karena keasyikan main, saya melupakan tugas tersebut. Nah, kena deh...

Salah satu ke on time-an Bapak yang lain yang juga sangat kurasakan sewaktu kecil adalah urusan tagih menagih utang. Jadi begini, Bapak yang berprofesi sebagai pemilik toko kelontong mempunyai beberapa pelanggan yang rutin berutang dengan kesepakatan akan membayar sehabis gajian setiap bulannya.

Karena pengertian sehabis gajian yang sangat absurd, maka Bapak membuat kesepakatan sebelumnya, kapan waktu yang tepat para pelanggannya itu akan membayar utang. Lewat dari batas waktu tersebut, Bapak akan mengirim debt collector yang akan menjambangi rumah mereka masing-masing.


Meski debt collector Bapak sangat imut dan manis tapi jangan ditanya soal keteguhan hatinya saat menagih. Ia akan rela berlama-lama mengetuk pintu bahkan sampai menunggu di depan rumah sampai si empunya utang keluar. Ia juga rela dimarahi, diomeli bahkan diancam demi mendapatkan hak bapaknya. Pokoknya, she was the best collector in the world, hehehe.

Dari pengalaman kena tabok dan menjadi debt collector itulah, saya belajar bagaimana pentingnya menghargai waktu. Saya pernah menjadi korban jam karet. Karenanya, saya tidak mau orang lain mengalami hal yang sama. Bukan apa-apa, banyak sekali kerugian yang ditimbulkan akibat ngaret.

Kalau dari pengalaman masa kecil, setidaknya jatah bermainku menjadi berkurang gara-gara harus mendatangi satu persatu rumah-rumah pelanggan Bapakku yang ngaret bayar utang. Belum lagi urusan hati, si pengutang meminta keringanan bayaran sementara Bapakku ngotot harus dibayar sesuai kesepakatan.

Bukan, bukan Bapakku gak punya hati. Namun, sama dengan Bapakku, saya tahu kalau si pengutang itu sebenarnya mampu membayar utangnya namun sepertinya sudah menjadi penyakit bagi sebagian orang untuk senang menunda-nunda pembayaran utangnya. Nyebelin bangets.


Namun, seiring waktu, saat ini saya merasa kalau saya pun termasuk pelaku jam karet. Mungkin, akibat ‘terkontaminasi’ para pelaku jam karet lainnya. Bagaimana tidak, sering kali saat menghadiri sebuah acara, baik itu acara resmi apalagi nonresmi, namun jadwalnya melar bahkan sampai berjam-jam dari jadwal semula.

Akibatnya, selain bete harus menunggu, saya pun merasa rugi waktu. Waktu yang mestinya dapat efektif digunakan untuk keperluan lain menjadi nonefektif karena digunakan untuk menunggu.

Iya sih, terkadang saya masih dapat memproduktifkan waktu menunggu tersebut. Saya masih bisa menulis, menggali ide atau menyelesaikan tugas-tugas kepenulisan lainnya. Namun tetap saja, jadwal yang sudah kususun sebelumnya harus ‘terbongkar’.

Belum lagi kalau terpaksa saya harus meninggalkan acara yang baru saja dimulai atau sedang memasuki topik hangat di saat semestinya acara tersebut sudah berakhir karena penjemput sudah menunggu di luar ruangan. Hufh..

Karenanya, saya pun kadang ikut-ikutan ngaret apalagi kalau tahu bakal berhadapan dengan si tukang ngaret. Atau misalkan dalam sebuah acara, saya tahu kalau acaranya bakalan ngaret gara-gara harus menunggu si A, si B dan si si lainnya yang menjadi pembuka acara atau pemberi kata sambutan. Kalau kayak gini mah, percuma datang on time. Bakalan jadi pemanis ruangan aja kita. Hehehe.  

Tapi bagaimanapun, seyogyanya budaya ngaret ini dihilangkan dari negeri ini. Teman dekat saya pernah punya pengalaman buruk  tentang jam karet saat berhubungan dengan orang luar. Jadi ceritanya, teman saya ini ngaret beberapa menit (ingat, cuma beberapa menit loh...) dari jadwal yang telah disepakati. Begitu wajahnya nongol, ia langsung didamprat dan tahu apa kata orang tersebut......

"Kalian orang Indonesia suka sekali ngaret, untung saya masih mau menunggu karena saya tahu budaya kalian. Coba saja kalian berbuat seperti ini dengan orang Jepang. Telat sedetik saja, kalian ditinggal....." 

Duh, malu-maluin banget kan. Sampai-sampai bawa-bawa nama negara pula. Padahal gak ada hubungannya karena gak semua orang Indonesia suka ngaret. Saya salah satunya, hahaha.


Tulisan ini diikutkan dalam Program Collaborative Blogging #KEBBloggingCollab Kumpulan Emak Blogger Kelompok Retno Lestari.



  




6 comments:

  1. Ngaret itu emang bisa nular ya Mbak, heheheh. Moga kita gak ngaret2 lg yah, saya jg sekarang ini terus berusaha sebisanya gak ngaret, krna menunggu itu membosankan deh ihh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih ngaretnya menular padaku, abis kalau on time, planning yang lain sering terbongkar gara-gara waktunya habis buat menunggu.

      Delete
  2. Ampooonnn, ternyata Mak Haeriah imut2 mantan debt collector xixixi ^_^V
    Aku pun msh berusaha tdk ngaret, soalnya gak enak kalau sampai merigikan org lain ya maaakkk TFS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, mantan debt collector kesayangan Bapak Rahimahullah, hehehe.

      Delete
  3. Ah.. Baca tulisan tentang debt collector itu jadi ingat tulisan tentang utang, tulisan untuk Collaborative writing sebelumnya juga kan Mak, cuma lupa-lupa ingat itu tulisan siapa. Kayaknya sih Mak Haeriah, semoga saya tidak salah.. Hehe

    Bener kan nular, duh.. Bener-bener harus diubah kebiasaan ngaret gitu.. Orang luar saja sampai ngomong itu budaya kita, menyedihkan. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, rupanya masih diingat juga cerita tentang debt collector itu di CW batch 1. Iya nih, budaya ngaret jangan sampai jadi ikon bangsa kita. Menyedihkan sekaligus memalukan.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...