CERITA DI BALIK RADIO

Monday, 18 September 2017


Di radio aku dengar lagu kesayangmu
Kutelepon ke rumahmu,
Bla bla bla

Emak-emak yang seumuran denganku pastinya membaca kalimat di atas dengan mengikuti nada lagu Radio punya Almarhum Gombloh. Iya kan? Ngaku aja deh, Mak. Saya juga begitu kok, hihihi.


Radio adalah benda yang dulunya sangat dekat di hatiku. Tahu tidak, saya sampai bela-belain mengumpulkan uang tabungan, bela-belain gak jajan, bela-belain berjalan kaki saat pergi dan pulang sekolah, dan banyak lagi bela-belaan yang lain demi apa coba? Demi membeli sebuah radio dengan speaker suara yang makjleb.

Dan, hadirlah sebuah radio bermerk *ol*tron, salah satu brand radio yang menjawarai dunia elektronik waktu itu. Rasanya keren banget kalau sudah memiliki radio merk ini di rumah. Rasanya seperti memiliki iphone X untuk ukuran saat ini. 

Kebiasaan mendengar radio sepertinya tertular dari kebiasaan Bapak Rahimahullah yang juga sangat mengandalkan radio sebagai media hiburannya. Saya ingat, Bapak paling suka merekam lagu-lagu yang dinyanyikan di acara Aneka Ria Safari, Kamera Ria dan sejenisnya. Biasanya para artis yang tampil di acara tersebut sekaligus launcing lagu terbaru mereka. Jadi, Bapak bisa mendapatkan banyak lagu baru tanpa harus membeli kaset-kaset mereka.
Kembali ke urusan radio-ku, selain membeli radio saya juga sekaligus membeli kaset-kaset penyanyi favoritku. Biar gak rugi, saya suka membeli album evergreen yang lagu-lagunya tak lekang dimakan zaman. Beberapa kali sih, saya sempat membeli album kaset yang meledak di pasaran.

Membahas urusan radio, tentu saja tidak sah tanpa membahas stasiun radio. Nah, saya salah satu fans beberapa radio di kotaku. Dari beberapa stasiun radio yang aktif di kotaku, salah satu yang paling sering saya datangi adalah Radio Bharata. Alasannya, paling dekat dengan rumah, lokasi radio tersebut dekat dengan Pantai Losari jadi bisa sekalian jalan-jalan ke sana, dan penyiarnya juga ramah-ramah.

Kembali ke radioku

Kehadiran radio yang masih kuingat kubeli seharga Rp 150.000 itu cukup menghingar-bingarkan rumahku. Kebetulan kamarku berada di tingkat dua sementara kegiatan sehari-hariku lebih banyak kuhabiskan di warung kelontong yang ada di bawah. Jadi biar gak naik turun, radio-ku kunyalakan cukup kencang biar suaranya nyampe ke bawah.

Mamaku sih tidak keberatan, adik-adikku apalagi. Paling Mama kalau sebel dengan suara radioku, beliau segera hengkang ke rumah tetangga. Lain soal kalau yang datang kakekku yang kupanggil Puang. Kalau beliau mah, begitu terlihat di luar rumah buru-buru saya naik dan mematikan radioku. Beliau kan merangkap kepala keluarga menggantikan posisi Bapak yang sudah tiada. Dan tentunya beliau tidak suka rumah dipenuhi hingar bingar musik.
Kebiasaanku mendengarkan radio, terutama musik sejak pagi hingga pagi kembali membuatku menjadi seorang maniak musik. Rasanya hidup hampa tanpa musik walau sehari.

Dulu saya bahkan menghapal semua frekuensi radio di kotaku

Dan, tahukah kalian apa yang terjadi seiring dengan kebiasaanku tersebut? Entah sejak kapan, saya senantiasa merasa kalau ada sesuatu yang aneh padaku. Hampir setiap malam, setiap kali akan terlelap saya merasa seolah-olah tengah diayun-ayun. Tempat tidur kayu yang kutiduri terasa berayun sehingga saya merasa seakan tengah dibuai.

Mulanya sih ada rasa takut. Kok begini? Tapi lama-lama saya malah menikmatinya. Asyik aja rasanya dibuai sehingga tidurku semakin lelap. Pernah sih rasa takut membuatku ingin melompat dari tempat tidurku. Namun karena rasa penat yang amat sangat, saya lebih memilih terlelap daripada beranjak dari tempat tidurku.

Hingga suatu malam...

Seperti biasanya saya kembali tidur di atas ranjang kesayanganku. Aktivitas yang padat sepanjang hari membuatku tidak pernah kesulitan tidur. Pokoknya begitu kena bantal langsung molor.

Dalam keadaan tidur, tiba-tiba saya merasa sangat sesak. Saya kesulitan bernapas. Saat itulah saya melihat ada makhluk kuntet menyeramkan yang menindih badanku sambil tertawa-tawa senang. Sekuat tenaga, saya berusaha mendorongnya. Namun rasanya tenaganya terlalu kuat untuk ditaklukkan.

Namun, bukan Ria namanya kalau cepat berputus asa. Saya terus berusaha melawan makhluk yang seakan mengejekku. Alhamdulillah, saya berhasil mendorongnya menjauh.

Makhluk itu kira-kira seperti ini. Seram, gak?

Saat itu juga saya terbangun. Tanpa berpikir panjang, saya segera berlari turun. Saya menuju kamar Mama yang berada di bawah.

Ada yang menindih saya. Sesak sekali rasanya” aduku pada Mama.

Mamaku belum terlelap. Rupanya beliau  baru saja bersiap naik ke kamarku. Dari dalam kamar, Mama mendengar suaraku yang terengah-engah, sangat kepayahan. Mama pun berniat menengok apa yang terjadi denganku.

Malam itu saya numpang tidur di kamar Mama, berhimpitan dengan adik-adikku yang masih kecil.

Meski ketakutan, namun nyatanya saya tidak kapok untuk kembali tidur seorang diri di kamarku. Meski nyatanya, ayunan demi ayunan kembali terjadi hampir setiap malam. Namun untungnya, makhluk menakutkan itu hanya sekali menampakkan diri.

Semua Karena Musik

"Bisa jadi kehadiran jin tersebut karena kecintaanku pada musik" demikian kesimpulan yang kudapat ketika hidayah Allah menyapaku dan saya pun mulai rutin ikut kajian.
Kesimpulan ini bukan tanpa alasan. Karena setelah menikah dan pindah rumah, dua orang adikku kini yang giliran dihantui makhluk menyeramkan tersebut. Rupanya, keduanya meneruskan kebiasaan burukku, sangat suka mendengarkan musik.

Alhamdulillah, sejak rajin mengikuti kajian, saya pun paham akan hukum musik. Tidak secara frontal namun pelan-pelan saya mulai mengurangi frekuensi mendengarkan musik, berpindah aliran musik dari pop rock plus dangdut ke lagu-lagu anak, hingga kemudian berpaling ke nasyid lalu lebih sering memutar murattal.

Ngaji, Yuk....

Dan sejak saat itu, hidupku menjadi lebih tentram dan damai. No music no devil. 







   

4 comments:

  1. Serem banget, mb Ria. Aku juga pernah kena ketindihan. Rasanya sesak nafas tapi nggak bisa bangun. Jadi habis itu banyakin doa sebelum tidur biar ga diganggu lagi. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, seram banget kalau diingat-ingat kembali. Mudah-mudahan gak terulang lagi ya Dek Ila? Pokoknya, jangan pernah lepas doa deh biar gak diganggu makhluk itu lagi.

      Delete
  2. Ini ngeri banget Mbak Ria, seriusan. Pada masa remaja dulu saya juga termasuk pecinta musik keras, Alhamdulillah saya nggak pernah ngalamin yang serem-serem. Sekarang udah jadi emak, kuping maunya denger yang adem-adem aja :D
    Btw, tulisan awalnya bikin saya bernostalgia sesaat ke era 80-90an. Nice post Mbak Ria :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius, Mba Ane. Yang bikin bingung, tuh makhluk kemudian berpindah mengganggu adikku yang kebetulan juga music mania. Saya tahu karena saat adik-adik cerita, ciri-cirinya sama dengan yang mengusikku dulu.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...