KETIKA CINTA ITU HANYA SAMPAI DI SINI

Friday, 5 May 2017


Berkunjung ke tempat teman lama, apalagi sebagai sesama perantauan, memang sangat menyenangkan. Berbagi cerita seputar kampung halaman, berbagi pengalaman saat sama-sama berada di perantauan seakan tak ada habis-habisnya dibahas dan diulik. 

Dan itulah yang saya lakukan beberapa hari yang lalu, berkunjung ke rumah teman, sebut saja Fulanah. Singkat cerita, saya tiba menjelang petang di rumah teman lama saya tersebut. Usai duduk-duduk sekejab, saya langsung disajikan dengan sebuah berita buruk, berita perpisahan.

Saya sudah membawa urusan ini ke pengadilan agama. Keluarga di kampung juga sudah tahu dan mereka menyerahkan sepenuhnya keputusan padaku...”

Haruskah ada yang terkoyak?

Ya, ini cerita  tentang rumah tangga. Rumah tangga Fulanah dan suaminya, Fulan memang sudah lama bermasalah. Pusat permasalahan terletak pada terbaliknya fungsi masing-masing.  Tulang rusak bertugas sebagai menjadi tulang punggung. 

Permasalahan ini terus menerus berlarut. Kadang selesai namun lebih banyak menggantung. Hingga akhirnya, keputusan Fulanah untuk segera menyelesaikan urusan ini. Fulanah merasa lelah dengan beban yang harus dipikulnya. Belum lagi konflik batin dengan sikap Fulan yang tak juga mengambil alih tugasnya sebagai pemimpin di istana kecil mereka.

Saya syok. Saya tak bisa berbicara banyak. Cerita tentang perpisahan tentu saja akan selalu menyertakan luka. Luka yang entah kapan dapat disembuhkan. 

Namun, bagaimanapun saya tak bisa mengukur kekuatan Fulanah dalam menghadapi permasalahannya. Saya tak berani menyarankan Fulanah untuk terus bertahan. Namun saya juga tidak berani untuk menyarankan sebuah perpisahan. 

Saya pun akhirnya  hanya bisa berpesan, agar sebelum mengambil keputusan final, Fulanah mengadu dulu kepada Sang Khaliq. Shalat istikharah, meminta petunjuk agar diberi jalan yang terbaik. Dan yang tak kalah pentingnya, Fulanah juga harus memikirkan Dinda, gadis kecil 11 tahun buah perkawinannya.

Fulanah mengangguk. Katanya, semua jalan yang kusarankan sudah ditempuhnya. Fulanah pun meminta didoakan agar semuanya berjalan dengan baik dan apapun keputusan yang final nantinya merupakan keputusan yang terbaik. Bagi bagi Fulanah, baik bagi Fulan dan baik bagi Dinda.

Pembicaraan kami kemudian berlanjut. Belum hilang sepenuhnya keterkejutanku atas keputusan yang baru saja kudengar, kembali Fulanah memberiku kabar mengejutkan. Lagi-lagi berita seputar kekisruhan rumah tangga. Kali ini tentang rumah tangga Aminah (tentu saja bukan nama sebenarnya) yang juga merupakan teman lama kami.

Kata Fulanah, sudah 3 bulan Aminah dan suaminya tidak saling menegur. Kejadiannya bermula ketika Aminah menemukan bukti-bukti kalau suaminya terlibat perjudian. Mungkin bagi orang biasa hal ini tidak terlalu mengejutkan. Namun bagaimana dengan orang yang selama ini telah tahu hukum-hukumnya lewat pengajian yang sering dihadirinya.

Saya tergugu. Mau tak mau ingatanku melayang ke masa beberapa tahun silam. Saat itu bahtera rumah tangga Aminah dan suaminya hampir saja karam. Qadarallah, di tengah perpisahan yang sudah berjalan selama beberapa bulan, Aminah baru tahu kalau ternyata ia telah hamil anak kedua mereka. Itulah yang menjadi salah satu penyebab keduanya kembali bersatu hingga kini telah memiliki empat orang anak.

Ya Allah, rintihku tanpa sadar. 

Ingatanku pun mau tidak mau melayang ke masa beberapa hari yang lalu. Hari itu sebuah kabar duka juga datang dari teman lamaku yang lain, sebut saja Arini. Biduk rumah tangganya ternyata sudah kandas beberapa tahun yang lalu. Meski kini, ia telah merajut kembali tali pernikahan sebagai istri kedua namun tetap saja yang namanya perpisahan membuatku hatiku serasa diiris-iris sembilu. 

Sakit, perih, luka, itu yang saya rasakan. Terbayang, kami pernah melewati satu masa bersama-sama. Berbagi beragam cerita bersama. Entah itu cerita duka, perih dan bahagia. 

Masih terbayang dengan jelas dalam ingatanku. Sosok Aminah yang pemalu namun sangat mandiri. Sosok Arini yang pemberani dan lugas. Dan sosok-sosok lain, yang pernah bersama kami di masa itu. 


Duh Rabbi......



Sebegitu sulitnya mempertahankan sebuah mahligai pernikahan setelah hari demi hari bahkan tahun demi tahun telah dilewati bersama. Begitu mudahkah rasa cinta yang di awal-awal pernikahan sangat kuat melekat di hati sepasang insan itu meluber, menguap entah ke mana. Di mana mawaddah? Di mana rahmah? Di mana sakinah?

Ya Rabbi,

Saya sadar  bahwa setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Tak bijak rasanya menyamaratakan apapun itu. Sama seperti sebuah biduk rumah tangga, setiap rumah tangga memiliki kisahnya masing-masing. Setiap rumah tangga memiliki duka dan sukanya sendiri-sendiri. Dan setiap rumah tangga juga memiliki keputusannya sendiri-sendiri.


Akhirnya, hanya pada Allah jualah kita mengadukan segala keresahan, kegundahan, kegalauan dan keluh kesah. Hanya pada-Nya kita memohon dan mengharapkan apa-apa yang terbaik bagi diri-diri kita, pasangan kita dan anak keturunan kita.

Aamiin, Ya Rabbal 'Alamin.








12 comments:

  1. Replies
    1. Terima kasih udah jadi pertamax, hehehe

      Delete
  2. Kabar perpisahan seperti itu memang menyisakan perih ya, Mbak. Semoga kita yg masih bersama, bisa selalu menjaga sakinah mawaddah dan Rohmah dan rumah tangga kita. :)

    ReplyDelete
  3. apalagi kalau lihat kehidupan seleb ya, seperti mudah sekali memutuskan untuk berpisah.

    Setelah sekian lama menikah, sekarang saya juga sadar bahwa pernikahan ini butuh pengorbanan, upaya dan doa yang kenceng. Semoga rumah tangga dan pernikahan kita sakinah, mawaddah wa rahmah ya Mbak Haeri. :)

    ReplyDelete
  4. trkadang prpisahan jalan trbaik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat Pak. Tapi apapun keputusan yang diambil hendaknya sudah dipertimbangkan masak-masak.

      Delete
  5. jadi teringat lagu "Harus ku tinggalkan cinta Ketika ku bersujud ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagunya siapa tuh? Kudet saya kalau urusan lagu

      Delete
  6. mudah2an kita semua terutama yang sudah berkeluarga, bisa mengambil hikmah dari apa yg menimpa teman2 yg sudah berpisah itu ya mbak. Aamiin...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...