LEBIH NYAMAN DENGAN BERJILBAB

Monday, 20 February 2017


Tulisan ini terdapat dalam salah satu bab  dalam buku antologi "The Miracle Of Hijab". Buku yang berisi kisah-kisah para muslimah yang akhirnya memutuskan untuk berhijab, menutup aurat sebagaimana perintah Allah dan Rasul-Nya. 


Kisah selengkapnya adalah ......

LEBIH NYAMAN DENGAN BERJILBAB 

Serius kamu mau berjilbab? Gak gampang,lho!” ucap Nana,salah seorang sahabatku dengan nada tak percaya. Berdua dengan Sari,sahabatku yang lain, mereka kini telah duduk tepat di hadapanku. Keduanya menatapku lekat-lekat usai mendengar penuturanku barusan.

Pagi itu aku baru saja tiba di kampus ketika keduanya langsung menggiringku ke ruangan kelas yang masih kosong. Di sana mereka menginterogasiku, mempertanyakan kembali keputusanku untuk berpakaian lebih syar’i. Suasana seakan di gedung DPR, saat para wakil rakyat itu meminta pertanggungjawaban aparat negara yang membuat satu keputusan yang menurut mereka tidak popular.

Insya Allah,doa’kan aku istiqomah, ya…”aku menjawab mantap. Kubalas tatapan mereka. Kuingin mereka tahu kalau keputusan yang kuambil itu bukan main-main.

Kemudian keduanya berbisik dengan serius. Aku tahu mereka tengah  meragukanku. Aku tahu keputusanku memang bukanlah hal yang mudah tapi aku pun sadar, aku harus berubah.

Aku bisa memahami ketidakpercayaan mereka. Mengingat siapa diriku selama ini. Cewek super tomboy yang senantiasa berpakaian seadanya. Aku lebih suka berpakaian ala cowok. Cukup dengan kaos oblong,celana jeans dan bersandal jepit. Lebih praktis menurutku ketimbang harus berpenampilan feminim seperti kawan-kawan perempuanku yang lain.

Dari segi penampilanpun seadanya. Aku paling malas berdandan. Paling aku hanya memakai pelembab untuk melindungi wajahku karena kebanyakan aktivitasku outdoor. Rambutpun senantiasa dipotong pendek.  Selain karena merasa lebih nyaman, mama dan tante senantiasa menjulukiku mirip Indian bila rambutku mulai sedikit melewati bahu.
wanita Indian


Akibatnya, di kampus aku sering diledek bila musim ujian tiba. Kampus kami mewajibkan mahasiswinya   mengenakan rok di saat ujian. Kalau sudah begitu aku terpaksa mengenakan simpanan rokku satu-satunya. Rok hitam lipit yang sebelumnya milik adikku yang sudah tidak terpakai lagi.

Lha, ternyata kamu cewek, toh?” goda kawan-kawanku bila melihatku tampil dengan rok tersebut.
Aku hanya bisa tersenyum kecut diledek seperti itu. Mereka menggodaku seperti itu karena kami memang telah terbiasa untuk saling meledek bila menemukan hal yang sedikit lain dari biasanya. 

Tapi tentu saja keputusanku untuk berpakaian lebih syar’i tidak datang begitu saja. Semuanya melalui proses dan pergulatan batin. Aku pun tahu dan sadar sepenuhnya resiko apa yang akan aku hadapi sehubungan dengan perubahanku nantinya.

Semuanya bermula dari semakin intensnya aku bergaul dengan para akhwaat, ikut pengajian  serta sharing berbagai hal dengan mereka. Hal ini yang kemudian banyak mempengaruhiku. Aku mulai memperhatikan agamaku, sesuatu yang selama ini tidak terlalu kupahami meski agama ini telah kuanut sejak lahir. Aku pun sadar untuk lebih banyak lagi belajar karena ternyata pengetahuan keagamaanku sangatlah sedikit.

Berbekal ilmu yang telah kuketahui, tentu saja tak cukup hanya sekadar dipelajari tanpa diamalkan. Maka mulailah aku mengaplikasikan ilmu yang kuperoleh itu terutama untuk diriku sendiri.   

Untuk itu aku sudah mempersiapkan segalanya. Mulai dari fisik maupun mental. Dimulai dari mempersiapkan pakaian yang berbeda dari biasanya. Yah, aku ingin total berubah tidak setengah-setengah. Pakaian ala cowok akan kuganti  dengan busana muslimah syar’i. Gamis panjang yang dipadu dengan jilbab lebar dengan panjang menutupi dada.

Alhamdulillah, semua faktor pendukung itu telah tersedia. Kini, tak ada lagi alasan untuk tidak segera berubah menjadi lebih baik.  Tanpa mengeluarkan sepeser uangpun aku bisa mendapatkan busana syar’i tersebut. Beberapa orang teman yang mendukung perubahanku  kemudian menghadiahkan busana syar’i mereka. Tentu saja aku sangat berterima kasih karena pemberian itu sangat bermanfaat. Terlebih saat itu aku tak bisa membeli pakaian syar’i itu karena keterbatasan dana.

Pertama kali mengenakan busana syar’i itu aku merasa sangat canggung. Setiap kali angin bertiup agak kencang aku akan  langsung memegang gamisku serta ujung jilbabku  erat-erat. Aku takut keduanya akan terangkat naik karenanya. Belum lagi, beberapa kali aku hampir terjatuh karena menginjak bagian bawah gamisku.

Teman-teman yang melihatku pun terbagi dua. Yang mendukung, memberikan ucapan selamat dan berdo’a agar aku bisa tetap istiqomah dengan perubahanku. Sedang yang lainnya malah mencibir. Mereka menudingku sok suci, sok alim dan berbagai tuduhan lainnya.

Alhamdulillah, semua telah kuantisipasi sebelumnya. Apalagi aku memiliki teman-teman yang senantiasa mendukungku. Mereka menguatkanku, termasuk dua orang sahabatku, meski mereka belum bisa berhijrah sepertiku.

Satu lagi yang kusyukuri dengan perubahanku itu ialah  timbulnya perasaan aman dan tenteram dengan berbusana seperti ini. Dalam balutan busana syar’i aku tidak  lagi menarik hati para cowok iseng yang biasanya senang menggoda. Sesekali memang masih ada yang iseng tapi sudah sebanyak dulu lagi. Itupun paling hanya iseng mengucapkan salam, tidak lebih.

Yang paling sering adalah menjawab pertanyaan ibu-bu yang kebetulan satu angkot denganku. Biasanya aku memang naik angkot kalau ke tempat kajian. Kebanyakan  mereka bertanya dengan nada nyinyir meski ada juga yang bertanya karena penasaran. 

Duh, panasnya. Kamu kok tahan sih pakai pakaian seperti itu saat panas begini” kira-kira seperti itu pertanyaan mereka.

Biasanya aku menjawab dengan santai. Aku katakan saja kalau neraka Allah lebih panas ketimbang hawa siang hari di angkot. Atau kalau yang bertanya itu serius maka aku jawab juga dengan serius. Aku katakan semua ini adalah perintah Allah dan sebagai hamba-Nya kita hanya bisa taat dan patuh pada semua perintah tersebut. 

Ternyata tanpa aku sadari, busana syar’i yang kukenakan adalah bagian dari dakwah islam itu sendiri. Aku bisa berdakwah di jalan, di angkot, di kampus bahkan dimanapun aku berada tanpa perlu banyak bicara.

Karenanya, aku juga senantiasa berusaha memperbaiki sikapku. Sebisa mungkin aku menyebarkan salam, menyapa para muslimah yang kutemui. Tak semuanya membalas salamku memang tapi setidaknya aku ingin mereka tahu  kalau stigma bahwa muslimah yang dalam balutan busana syar’i adalah sombong dan menganggap hanya dirinya yang suci adalah tidak benar sama sekali. Kalaupun ada yang seperti itu, biasanya kembali ke pribadi masing-masing karena ajaran islam sendiri tidak mengajarkan yang seperti itu.


Alhamdulillah, tak terasa sudah hampir lima belas tahun aku mengenakan busana syar’i ini. Semoga aku  senantiasa istiqomah mengenakannya hingga maut menjemput. Aamiin ya Rabbal Alamin.


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...