CINTA DALAM SEPIRING PISANG GORENG

Thursday, 26 January 2017



Suamiku adalah penggemar berat pisang. Pisang apa saja. Mau itu pisang raja, kepok, ambon, emas pokoknya apapun jenisnya. Tapi dari semua jenis pisang yang paling digemarinya adalah pisang raja. Suamiku juga suka sekali dengan semua olahan pisang. Mau itu dibuat gorengan, direbus maupun dibuat cake, beliau suka semuanya. Tapi dari semua olahan itu yang paling disukainya ialah pisang goreng.


Kegemaran inilah yang  pertama kali yang diperkenalkan keluarga suami ketika untuk pertama kalinya aku resmi menjadi bagian dari keluarga besar mereka. Saat itu kami berbincang terkait dengan kegemaran dan kebiasaan suami, maklum aku belum tahu banyak tentang suamiku kala itu.

Waktu itu aku hanya tersenyum memakluminya.  Aku juga suka pisang meski sedikit berbeda dari suamiku karena aku paling tidak suka pisang raja, pisang kesukaannya. Aku lebih suka pisang ambon untuk dimakan langsung dan pisang kapok jika ingin dibuat gorengan.

Menurut suamiku sejak kecil ia sudah suka  dengan pisang. Uniknya, saat masih duduk di TK, bekal hariannya adalah pisang rebus.  Padahal saat itu orang tuanya  mampu memberikan bekal yang lebih ‘wah’ dari sekadar pisang rebus. Ia pun merasa cukup dengan pisang rebusnya itu meski saudaranya yang lain selalu membawa aneka jajanan yang dibeli di toko kue ternama di kota kami.

Seiring bertambahnya waktu aku semakin tahu, ternyata suamiku bukan hanya penyuka pisang sepertiku. Menurutku beliau sudah masuk “stadium ekstrem”. Tak heran bila hampir di setiap  pagi dan sore aku harus menyajikan sepiring pisang goreng  kesukaannya plus segelas teh maupun kopi instant. Tanpa itu semua maka hari-harinya serasa tak lengkap. Kalau sudah begitu. Beliau akan segera mencari penjual pisang mentah maupun gorengan terdekat. Untungnya hal itu bukanlah hal yang sulit karena penjual pisang bisa dengan mudah ditemui di kota kami.

Pernah karena bosan maka aku mengganti menu wajib itu dengan singkong maupun ubi jalar goreng. Beliau tidak menolaknya dan tetap memakannya dengan lahap. Tapi setelah itu beliau akan pergi dan kembali dengan pisang mentah maupun pisang goreng ditangannya. Aduh....

Meski bukan pekerjaan berat namun terkadang ada rasa kesal juga melayani hobi ngemilnya itu. Saat pagi atau sore terlewatkan tanpa kehadiran pisang goreng kupikir mungkin suamiku sedang bosan atau lagi malas makan pisang goreng. Eh tiba-tiba agak siang atau selepas maghrib beliau muncul sambil menenteng kresek berisi pisang meski biasanya cuma setengah sisir atau terkadang malah cuma dua atau tiga buah pisang.

Biasa, dibuat gorengan ya istriku yang cantik” dengan senyum manisnya ia menyerahkan buah itu ditanganku.

Aku hanya bisa tersenyum kecut menerimanya. Tanpa berkata apa-apa dengan cekatan tanganku segera mengolah pisang tersebut. Mau menolak juga rasanya tidak tega karena kutahu  suamiku yang akan berjibaku sendiri menggoreng pisang tersebut. Dan hasilnya biasanya cuma ada dua kemungkinan, kalau tidak masih mentah biasanya malah hangus.


Sepiring pisang goreng cinta” demikian puji suamiku bila hidangan itu telah tersaji  dihadapannya. Mungkin juga karena sebenarnya dia tahu kalau aku tadi setengah hati menggorengnya.

Segera, suamiku mencomot potongan pisang goreng yang biasanya ditemani dengan campuran gula pasir dan mentega. Gayanya seakan tengah menikmati makanan terenak di dunia yang sudah lama tidak ditemuinya. Kalau sudah begitu maka otomatis semua rasa kesalku hilang. Bukankah tak ada yang lebih menyenangkan  bagi seorang istri bila melihat suaminya sangat menikmati hidangan yang dihasilkan dari olahan tangannya sendiri.

Karenanya ketika kami kemudian dipisahkan oleh jarak maka dua waktu itu menjadi saat yang paling menyiksaku. Pagi dan sore. Waktu dimana biasanya aku sedang sibuk di dapur menyiapkan cemilan serta segelas minuman hangat kesukaan suamiku.

Dua tahun yang lalu, beliau mendapat kesempatan untuk melanjutkan studinya di negeri jiran. Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan meski sebagai konsekuensinya  harus meninggalkan kami, istri dan keempat anaknya.

Menjalani hari demi hari tanpa suami di sampingku  terasa sekali seperti ada yang hilang. Selama ini kami tak pernah berpisah jauh dan lama. Paling lama hampir dua pekan yaitu  saat aku akan melahirkan di kota kelahiranku sementara suami tidak bisa meninggalkan kota tempat tugasnya yang  berjarak sekitar 400 km.

Meminjam istilah Anang, rasanya separuh jiwaku pergi. Tak ada lagi yang menemaniku menjaga anak-anak. Tak ada yang mengantarku ke sana kemari. Dan yang selalu membuat mataku sembab bila mengingatnya ialah tak ada lagi yang datang secara tiba-tiba sambil mengacungkan sesisir pisang raja. “Digoreng, ya Beib.....” 

Aku sangat merindukan momen itu. Momen menggoreng pisang dan menyajikannya dengan segenap cinta. Terkadang aku masih menggoreng pisang, terlebih bila mendapat kiriman dari tetangga atau keluarga. Tapi aku tak pernah bisa memakannya dengan lahap. Hanya sepotong gigitan yang bisa melewati kerongkonganku, itupun terasa pahit.  Selebihnya  kuberikan semua pada anak-anakku yang ternyata seperti abahnya juga sangat suka dengan pisang goreng.

Saat itu kembali kusadari betapa momen kecil seperti itu ternyata memberi bekas yang sangat mendalam. Aku kembali menyadari betapa aku sangat mencintai ayah dari anak-anakku itu. Kesadaran yang  sering baru kusadari bila beliau telah jauh dariku.

Diam-diam aku bergumam dalam hati “Cepatlah pulang sayang dan berkumpul kembali bersama kami. Di sini, aku akan selalu menyediakan sepiring pisang goreng penuh cinta kesukaanmu”






 
.



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...