MAKAN PUAS DI PROFESSOR CENDOL

Sunday, 25 December 2016

Welcome to Professor Cendol

Beberapa hari yang lalu suami memberitahukan kalau ada tempat makan baru tak jauh dari tempat tinggal kami di daerah Kuala Nerus. 


"Murah kok. Udah gitu  percuma  tambah sampai kenyang..." ucap beliau sembari mempromosikan tempat baru tersebut ala sales-sales gitu.


Tentu saja saya jadi  penasaran. Kayaknya gak boleh dilewatkan nih. Apalagi kalau mengingat nafsu makan si nomor dua yang suka bikin shock abahnya. Hihihi. Maklum nafsu makan doi gak tanggung-tanggung deh. Apalagi kalau jatah makannya dibandingkan jatah makan abahnya. Beda 3-4 kali. Gak heran kalau badannya membengkak melebihi badan abahnya tetap sukses kerempeng sejak dulu. Ampun cinta, hihihi....😍😍😍😍


Dan, siang ini keingian itu kesampaian juga. Nama tempat tersebut adalah Professor Cendol. Please, jangan dibawa ke istilah bahasa kita yang pastinya konotasinya agak gimana gitu. Professor kok cendol, cendol kok professor. Ampyun deh....



Alhamdulillah, waktu kami datang para pengunjung masih kurang. Maklum, tempat yang buka setiap hari antara pukul 10.00-16.00  itu baru buka sejam yang lalu ketika kami datang. Dan...seperti biasa saya langsung nyari tempat strategis, tempat yang aman buat muslimah bercadar seperti saya. Pojokan gitu...


"Yaelah kok pada pesan cendol sih...?" keluhku begitu lima mangkuk cendol dibawa si nomor dua ke tempat duduk kami. Iya sih, menu utama di tempat ini adalah cendol tapi mereka juga menyediakan menu-menu lainnya. Ada laksa penang, rojak buah, dan nasi goreng. Kok gak pesan masing-masing satu jenis. Malahan kompakan pesan cendol. Mana cuaca lagi mendung. Mana si kecil rada batuk. Mana perut lapar. Ih gemas deh.


Saat mencoba es cendol, saya merasa kurang manis. Dan ternyata boleh kok minta tambahan gula merah. Dan setelah ditambah pemanis, jadilah es cendolku nikmat banget. 


Es cendol ala Professor Cendol


Es cendolnya agak beda dengan yang biasa kami konsumsi di Indonesia. Biasanya kami menikmati es cendol dengan campuran tape ketan. Nah yang ini es cendolnya ditambah kacang merah, sagu mutiara  dan ketan putih. Agak aneh sih tapi enak juga, hehehe.


Tak lama kemudian si abah muncul dengan semangkuk laksa penangnya. Tak dinyana, anak-anak malah menyerbu laksa yang dibawa abahnya. Es cendol masing-masing yang banyak tersisa disisihkan begitu saja. Dalam sekejap tentu saja laksa penang tersebut ludes.

"Gih, minta tambah sana." perintah abah pada si nomor dua.


Si nomor dua menurut. Tak lama kemudian ia kembali dengan semangkuk laksa di tangannya. Lagi-lagi adik-adiknya menyerbu.

"Masih boleh minta tambah?" tanya si nomor dua ketika makanan di hadapannya hanya tersisa kuahnya.

"Tentu saja, pergilah kat akak yang pakai baju merah tuh. Bilang nak tambah..." jawab si abah.

Kali ini si nomor tiga yang pergi minta tambah. Dan benar saja, tak lama kemudian ia kembali datang dengan semangkuk laksa di tangannya.


Saat menikmati hidangan masing-masing, sekonyong-konyong pengunjung terus bertambah. Yang datang rata-rata sama seperti kami, sekeluarga. Bahkan ada yang sampai  tiga generasi, kakek-nenek, ayah-ibu dan anak-anaknya. Ramai pokoknya.


Alhamdulillah dengan 13 RM, kali ini kami makan dengan puas. Masing-masing 2 RM untuk cendol (kami pesan 5 mangkuk) dan 3 RM untuk laksa penang dengan dua kali nambah. Sayangnya kami tidak sempat mencoba jenis makanan yang lain. Tapi kayaknya enak, soalnya laksa penangnya enak banget dan biasanya kalau satu jenis makanan enak jenis lainnya enak juga. Insya Allah, next time lah...



Saat hendak pulang, parkiran yang tadinya masih lapang kini udah sesak. Kedai makan ini memang telah disesaki para pengunjung. Ini sekalian menjadi tips bagi kami agar jika ke sini lagi datanglah di waktu seperti tadi, sekitar pukul 11-an. Semakin siang sepertinya tempat ini semakin ramai. Khawatir gak kebagian kursi, hehehe.




    

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...