INSIDEN NASI

Saturday, 31 December 2016

Gambar: Pixabay

Di tahun kedua pernikahan kami, suamiku ditugaskan ke sebuah kota kecil. Karena saat itu  fasilitas rumah  belum ada, maka untuk sementara kami sekeluarga menempati rumah salah seorang kawan suami. Namanya Pak Ridwan.  Kebetulan saat itu anak dan istrinya sedang berada di luar kota untuk waktu yang cukup lama. Sementara itu, Pak Ridwan  memilih tinggal bersama sepupunya  yang rumahnya berada hanya beberapa rumah dari rumah Pak Ridwan.


Maka untuk pertama kalinya sejak menikah, aku harus mengurus suami dan anakku yang saat itu berusia setahun  seorang diri.  Benar-benar seorang diri.  Sebelumnya, usai  menikah,  aku tinggal bersama mertua sehingga tidak terlalu pusing dengan urusan dapur.
Mertua yang cekatan, hanya memberiku tugas bantu-bantu sementara urusan meracik bumbu plus tata caranya dikerjakan sendiri oleh beliau. Kini tak ada lagi mama maupun mertua yang selama ini kujadikan tempat bertanya. Terutama bertanya urusan seputar dapur.
Terus terang sejak gadis   aktivitas dapur  tidak pernah menarik hatiku. Apalagi mama tidak pernah memaksaku untuk ikut membantunya di dapur. Apalagi saat itu tugas utamaku adalah mencuci pakaian seluruh anggota keluarga. Eits, jangan dikira ringan lho. Mencucinya masih manual, pakai kekuatan kedua tanganku. Dan....karena kami bersepuluh (aku sembilan bersaudara plus mama) maka setiap kali mencuci, cucianku satu baskom besar yang menghabiskan waktu sekitar 2 jam-an untuk menyelesaikannya.  
Karena tugas utamaku mencuci makanya aku hanya tahu makan dan sesekali cuci piring. Padahal waktu zaman kuliah, tiga sahabatku jago masak semua. Namun imbauan bahkan ejekan mereka tak menggoyahkan hatiku untuk betah di dapur.  Setiap ada kegiatan bersama, aku lebih memilih tugas mencuci piring ketimbang masak. 
Dan, drama itu pun dimulai. Saat itu belum lazim digunakan rice cooker atau magic com untuk memasak nasi. Maka untuk memasak nasi, aku menggunakan panci dan kukusan. Panci untuk membuat nasi aron dan kukusan untuk menyempurnakannya.

Gambar: Pixabay
Alhamdulillah, aku sukses mengaronkan nasi. Aku kemudian memasukkan nasi aron itu ke dalam kukusan yang telah kupanaskan terlebih dahulu. Setelah itu aku pun mengerjakan pekerjaan lainnya.
Beberapa saat kemudian, aku dikejutkan dengan suara serta  luapan air yang keluar dari kukusan. Air meluber keluar sehingga nyala api di kompor hampir padam. Buru-buru kumatikan kompor. Aku bingung, tak tahu apa yang barusan terjadi.
Setelah tenang, aku kembali menyalakan  kompor. Namun beberapa saat kemudian kejadian yang sama terulang kembali. Aku pun kembali mematikan  kompor.
“Gimana Ma,  nasinya udah matang? Katanya Pak Ridwan ingin ikut makan di sini. Tuh, dia bawa lauknya ….” tiba-tiba suamiku telah berada di belakangku.
“Eh ah, belum. Tunggu sebentar lagi, ya ” jawabku tergagap. Aku betul-betul bingung dan juga malu. Bingung harus bagaimana mengatasi masalah ini. Malu kalau ketahuan gak becus masak. Mana cuma masak nasi juga.
“Ya udah kalau gitu. Mama panggil aja ya kalau nasinya udah matang” suamiku pun beranjak ke depan. Diletakkannya kiriman lauk dari Pak Ridwan di dekatku.  

Aku kemudian beranjak hendak melongok hasil masakanku di dalam kukusan. Aku benar-benar pasrah bila nantinya yang nampak bukan nasi tapi bubur. Kalau memang itu yang terjadi, sekalian aja aku bikin bubur ayam. Nanti aku bilang saja ke suami dan Pak Ridwan kalau tiba-tiba aku kepengen makan bubur ayam. Mereka pasti bisa menerimanya.  Tapi….gimana caranya bikin bubur ayam ya? Duh… 
“Hah?” aku terkejut bukan main. Tak ada nasi lembek yang terendam air seperti dugaanku.  Tak ada juga bubur, apalagi bubur ayam. Aku benar-benar tak percaya dengan penglihatanku. Buru-buru kuambil sejumput nasi kemudian memakannya.
Ini nasi. Beneran nasi. Hm enak…” aku sangat terharu. Yes, untuk pertama kalinya aku berhasil menanak nasi tanpa bantuan siapa-siapa. Tapi, kemana air kukusan yang tadi meluber itu?

Gambar: Pixabay

Ah, lupakan sejenak kecelakaan tadi. Entah apa yang tadi terjadi. Namun yang jelas aku  berhasil menanak nasi. Aku  segera menyiapkan nasi beserta lauk untuk suami dan Pak Ridwan. Mereka pastinya telah menunggu hidangan ini tersaji dari tadi. 
Usut punya usut, ternyata aku memasukkan air melebihi batas maksimal untuk mengukus nasi. Akibatnya, air tumpah ruah keluar dari kukusan. Dan hal ini kuketahui ketika keesokan harinya, insiden ini kembali terulang. 

Karena bingung, aku  memanggil suami. Suamiku juga bingung. Ia juga baru kali ini melihat kejadian seperti itu.  Suamiku kemudian  memanggil Pak Ridwan yang kebetulan bertandang. Pak Ridwan bergegas ke dapur dan melihat apa yang terjadi. Sambil tersenyum, Pak Ridwan menjelaskan apa yang terjadi.  Duh, malunya diajar sama bapak-bapak..........

4 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...