MENGEJA KENANGAN BANGI KAJANG

Monday, 31 October 2016


Selalu ada kerinduan setiap kali nama Bangi-Kajang tereja dalam lafadz. Bangi-Kajang sebenarnya  merupakan dua nama kota kecil yang berada dalam wilayah Negeri Selangor. Kebetulan ketika menetap di Malaysia, kami tinggal di perbatasan kedua  kota kecil tersebut. Jadi saya menyebutnya Bangi-Kajang. Daerah tersebut berjarak sekitar 22 km Kuala Lumpur. Ya, sekitar setengah jam-an lah. Dengan catatan tidak jam alias macet.

Ketika pertama kali pindah ke negeri tetangga ini, kami sekeluarga menetap di Bangi. Bangi juga sebuah kota kecil tempat salah satu universitas terkenal negeri ini Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Kebetulan wilayah tempat tinggal kami merupakan daerah perbatasan antara Bangi Kajang sehingga mau dibilang masuk wilayah Bangi boleh, masuk wilayah Kajang juga boleh. (kan udah dibilangi di atas, hehehe)

Selama dua tahun kami tinggal di lantai tiga Flat A Taman Tropika. Tak jauh dari flat ada stasiun KTM (kereta tanah melayu) UKM. Hanya sekitar lima menit berkendaraan. Pokoknya akses dari flat nyaman banget. Dekat dari mana-mana. Tentu saja yang paling penting dekat dari UKM karena di situlah tempat suami beraktivitas sehari-hari.   


Saat menyelusuri kota, sempat juga kami mendatangi flat tempat tinggal dulu. Qadarallah, hari yang basah membuatku malas meninggalkan mobil dan mengunjungi teman yang masih tinggal di flat tersebut. Next time lah.


Kembali ke Kajang. Ketika pertama kali mengetahui nama Kajang tentu saja saya langsung teringat Kajang yang ada di Sulawesi Selatan. Kajang yang saya maksud adalah sebuah   kecamatan yang terletak di   Kabupaten Bulukumba. Kajang yang ini terkenal dengan kebudayaannya yang unik dan sarat dengan magis.

Entah apa hubungannya antara Kajang di Malaysia dengan Kajang di Indonesia. Mungkin hanya kebetulan kesamaan nama belaka. Karena setelah saya browsing mencari hubungannya ternyata memang tidak ada. Jadi ya anggap saja memang hanya kebetulan.

Berada di kota ini tentu saja yang pertama kali teringat dan kami datangi adalah Yayuk, sahabat saya yang menetap di Kajang. Yayuk sudah sangat lama menetap di sini, sekitar 15 tahunan. Meski sudah lama mengajukan permohonan pindah negara namun qadarallah sampai sekarang ia dan suaminya masih tetap tercatat sebagai WNI. Alhamdulillah putri semata wayangnya yang lahir di negeri tersebut  telah menjadi warga negara Malaysia. Dengan demikian anaknya berhak mendapatkan fasilitas sebagaimana warga tempatan. Salah satunya berbagai fasilitas sekolah yang tidak didapatkan anak-anakku karena bukan warga negara. Hikz…


Plaza Metro Kajang




Menunggu Abah di Depan MU Pasaraya Kajang

Secara umum, kota Bangi Kajang tak banyak berubah. Namun satu yang pasti.  Jam semakin banyak terjadi di titik yang dulu kendaraan masih dapat melenggang dengan bebas. Ini menunjukkan bahwa semakin banyaknya penduduk di kota ini. Salah satu sebabnya adalah dibangunnya    proyek MRT. Kebayang kalau proyek itu sudah selesai. Wah, pastinya kota ini akan semakin padat dan ramai.

Dua bangunan yang belum ada saat kami meninggalkan Bangi

Bangi Gateway

Greenview Islamic School

Kenangan lama yang kami eja berikutnya adalah mendatangi Putrajaya. Qadarallah hujan turun dengan deras saat kami tiba di kota cantic itu. Rencana untuk mengunjungi Masjid Merah Muda batal. Kami pun berbelok mendatangi mall baru, IOI Mall. Cerita tentang masjid merah muda pernah saya ulas dan dimuat di Harian Republika.   


Sebenarnya saya agak malas sih kalau mengunjungi mall. Menurutku di mana-mana yang namanya mall yang sama aja. Mau di IOI Mall international maupun Mall Panakukang di Makassar secara garis besar sama aja. Sama-sama penuh dengan jualan dan pengunjung. Iya gak? Hihihi, maksa…

IOI City Mall



Lantai 1 IOI City Mall

Kalau saya sih lebih suka mengunjungi wisata alam. Istilahnya tadabbur alam. Biar bisa semakin bersyukur dan banyak-banyak mengingat Allah. Even rekreasi sekalipun. Allah gak boleh lepas dari ingatan maupun tujuan hidup kita.


Pas lagi bingung-bingungnya mau ke mendatangi apa di mall, suami memanggilku. Rupanya beliau berjumpa dengan salah seorang temannya bekerja di sebuah booth yang menyediakan ice cream special rasa durian. Eits, jangan salah lho, perempuan melayu yang terlihat ahli mencampur adonan ice cream itu candidate doctoral lho. Kegiatan ini dilakoninya di sela-sela kesibukannya menyelesaikan desertasinya.






Kebetulan saat itu booth-nya lagi promo, beli 1 gratis 1 sehubungan dengan hari raya Deepavali. Ya udah, kami pun beli dua dan dapat empat. Pas dengan jumlah anak-anak. Saya dan suami kebagian icip-icip doang. Lumayan sih porsinya, anak-anak sampai tidak bisa menghabiskan porsi masing-masing.  Ya udah, sisanya jatah kami. *menolak mubasir.

Ice Cream Rasa Coklat (maaf yang durian keburu ludes)

Tak lupa, kami mengunjungi teman-teman suami yang masih menetap di sana. Ada sepasang suami istri asal Lombok dan Surabaya. Lumayan lah, berkenalan dengan mereka sembari bernostalgia karena istri teman suami yang  dari Surabaya sudah saya kenal sebelumnya. 

Alhamdulillah, acara mengeja kenangan berlangsung seru meski ditemani rinai hujan yang terus mengguyur bumi Allah. Senang rasanya bisa kembali berada di kota kenangan. Meski jika disuruh memilih,  rasanya kota baru yang kami tempati sekarang terasa lebih nyaman. Salah satu sebabnya karena jam itu tadi.   

Dan di ahad pagi sekitar pukul 9.30, kami pun kembali menyusuri jalan menuju tempat kediaman kami untuk saat ini, Kuala Terengganu. Alhamdulillah sekitar pukul 16.00 kami pun tiba kembali di rumah. Bila sudah begini maka hanya ada satu yang kami inginkan. REHAT.....

Home Sweet Home


  







30 comments:

  1. Aaaaah mau es krim cokelatnya, enak sekali keliatannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. nyummi bangets mba, apalagi yang meramu calon doktor jadinya selain enak juga intelek, hihihi

      Delete
  2. Ais krim nye yummy sangat lah tuh.

    Aku juga bosen, Mba. Di Jakarta jalan2nya ke mall terus. Suamiku kalu diajak ke tempat terbuka pasti alesannya panas, kasian anak2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak2ku malah suka panas-panasan, suami sih gak masalah. Menurutku mall itu sama aja dimana-mana makanya ngebosenin, Mba.

      Delete
  3. Tulisannya mengalir banget Mba, saya jadi terasa ikut jalan bareng sama Mba. Dan keren ya temen suaminya, meski sedang menyelesaikan disertasinya, gak malu untuk berdagang/bekerja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya. Saya pun kaget lho mba, calon doktor gitu lho. Keren...

      Delete
  4. Wadaw itu eskrim cokelatnya besar sekali mbak porsinya pasti kenyang dan muantappp deh jadi pengen juga nih nyoba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. porsi jumbo, Kang. Makanya anak-anak gak bisa habiskan....

      Delete
  5. Keren kak haeriah... pengen jalan2 ke malaysia deh (saya sudah punya paspor *pamer) siapa tau bisa bersilaturahim dengan kakak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tawwa na yang sudah punya passport. Sering2ki browsing tiket murah supaya bisa jokka2

      Delete
  6. Secara penampakan bangunan, Malaysia dan Indonesia tak jauh beda, ya, Mbak. Bangunannya, macetnya, bahkan Mallnya mirip banget dengan Mall di Surabaya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mall-nya mirip ya mba? Berarti saya gak salah dong menganggap semua mall sama aja, hehehe. Kalau penampakan bangunan ya mirip juga, namanya serumpun. Kalau macet, di sini belum separah Indonesia.

      Delete
  7. Es krimnya seporsi berapa Mak, kok kayaknya jumbo gitu ukurannya. Saya seneng baca tulisan yang berlokasi di LN, sambil mempelajari perbedaan kehidupannya. Kayaknya asik dan unik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seporsi sekitar 10 RM, kisaran 30 ribuan lah. Jumbo beneran, makanya waktu mau beli teman suami coba memastikan apa kami beli 1 atau 2 soalnya esnya banyak.dan memang, anak2 gak bisa habiskan

      Delete
  8. Ice durian nya kok ludes mbk, kalo masih saya pesen satu yah,, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak sempat difoto abis ngiler duluan. Masih ada kok di Putrajaya....

      Delete
    2. Gak sempat difoto abis ngiler duluan. Masih ada kok di Putrajaya....

      Delete
  9. AKu belum pernah ke Malaysia mb. Mudah2an ada rejeki dan bisa mampir Kajang :)

    Btw ternyata namanya sama ya di Sulawesi hehehe
    Oh ya aku malah suka kalau ngemall

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, mudah2an bisa segera ke Malaysia. Iya nih, heran juga kok bisa sama namanya.

      Delete
  10. Malaysia ga jauh beda ya dengan Indonesia. Aku juga kurang suka ngemall. syukurnya di sini justru aku kebih sering wisata alam atau seni. Salam kenal dariku mbak ๐Ÿ˜Š

    www.womanofcourage.net

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal kembali, Mba. Kalau disuruh milih saya juga lebih suka wisata alam, bikin fresh dan semangat kembali.

      Delete
  11. Mbak ini sekarang tinggal di Malaysia lagi ya?

    Mau tanya, itu yang anak Warga Negara Malaysia, sementara orang tua WNI, kalau orang tua kembali ke Indonesia, nanti si anak yang WNM gimana Mbak?

    Salut saya Mbak tinggal tahunan di Malaysia tapi menulis Bahasa masih EYD.

    Ada banyak teman saya (TKI) yang kerja di jiran, eh pulang bahasa dan tulisannya melayu-melayu gitu, EYD nya amburadul...

    Salam dari Cianjur,
    Selamat HCPSN meski tinggal di negeri orang tetap cinta tanah air ya ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, kami kembali lagi ke Malaysia. Temanku yang WNI itu sudah sangat kepengen jadi WNA makanya waktu anaknya lahir langsung diurus jadi WNA dengan harapan peluangnya untuk jadi WNA semakin besar. Temanku sudah tidak ingin kembali ke tanah air, alhamdulillah hidupnya di sini udah makmur sangat beda jika ia harus kembali. Kalau bahasa, malah suamiku yang bahasa indonesianya amburadul. Maklum, doi tiap hari berinteraksi dengan orang tempatan bahkan ngajar mahasiswanya pakai bahasa Malaysia campur Inggris. Tapi kalau di rumah, teteup dialek Makassar, hihihi

      Delete
  12. iya ih. es krimnya menggoda. porsi jumbo gitu cepat leleh ga mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Es krimnya memang enak banget. Esnya gak sempat meleleh soalnya keburu dihabisin, hehehe

      Delete
  13. Wuah ini cerita jalan-jalan kemarin ya?

    Kalau nyebut Bangi Kajang saya teringat 2 hal, Bangi K*pi dan sama.. Kajang di Sulsel. Hehe..
    Saya fokus ke teman yang kerja di booth ice cream. Hebat! ^^

    ReplyDelete
  14. Saya pun penasaran dengan Bangi Kopi, pengen nyoba satu hari nanti. tentang teman itu? Hebat ya, jarang lho candidate doktor mau kerja seperti itu.

    ReplyDelete
  15. Jalanan nya besar dan bersih
    Eh iya kalo daerah sudah ada MRT di jamin pasti akan berkembang cepat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berkembang pesat dan biasanya dibarengi dengan kemacetan. Hufh, saya paling sebal dengan macet....

      Delete
  16. kota kecil yang deketan kota besar biasanya ngikut perkembangan kota besarnya ya mbak

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...