Ketika Abdullah Ketumpahan Minyak Panas

Sunday, 9 October 2016


Kejadian yang menimpa Aisyah-nya Mba Naqiyyah Syam membuatku teringat pada masa kecil sulungku, Abdullah. Meski tidak sama persis kejadiannya namun hanya Abdullah lah, anakku yang membuat aku dan suami menjadi langganan rumah sakit dan dokter.  

Dibanding keempat adiknya, Abdullah adalah anakku yang paling banyak menyimpan kenangan di masa kecilnya. Banyak sekali kejadian yang membuat kami bolak balik rumah sakit. Salah satunya kejadian seperti ini.

Waktu itu kami sekelurga telah berpindah ke sebuah kota kecil tempat suami ditugaskan. Kebetulan kota kecil itu merupakan kampung halaman keluarga mamaku dan salah seorang tanteku tinggal di sana. Karena belum ada tempat tinggal, maka kami pun menumpang sementara di rumah tante.

Suatu hari, seperti biasanya saya menyiapkan cemilan sore untuk suami. Cemilan kesukaan suami, pisang goreng. Kebetulan persediaan pisang tante sedang banyak karena suaminya baru saja datang dari kebun mereka. Tante pun menyuruhku menggoreng pisang agak banyak.



Saat sedang menggoreng itu, Abdullah rewel. Ia yang tadinya bersama abahnya mendadak ingin bersamaku. Mulanya saya menolak, soalnya saya harus bolak balik menengok gorengan. Tapi karena Abdullah bersikeras, saya pun mengalah. Saya pun membawa Abdullah bersamaku di dapur.

Mulanya Abdullah tetap berada di gendonganku. Namun saat akan membalik pisang, saya menurunkan Abdullah agar ia tidak terkena percikan minyak dan juga saya bisa lebih leluasa membolak balik pisang.

Qadarallah, wajan penuh minyak yang kupakai tiba-tiba miring sehingga minyaknya tumpah ke mana-mana. Sigap, saya melompat mundur. Namun (Ya Allah, kalau ingat kejadian ini saya masih sering bergidik) saya lupa, benar-benar lupa kalau ada sosok mungil tepat di bawahku.  Abdullah yang saat itu kulepaskan dari gendonganku berada tepat di bawahku sehingga minyak panas itu mengenainya. Innalillah…

Seketika saya menjerit ketakutan diikuti Abdullah yang menjerit kesakitan. Buru-buru dari ruang tamu berlarian suami, tante dan om. Dalam kepanikan saya hanya bisa pasrah ketika tante dan om berusaha menolong Abdullah. Suami pun hanya bisa mengikut saja apa kata mereka.




Telpon Pak Usdi, cepatki….” Tiba-tiba saya teringat sahabat suami yang seorang mantri kesehatan di tengah kencangnya tangis Abdullah.

Tanpa membuang waktu suami segera menelpon. Alhamdulillah beliau berada di rumah padahal biasanya beliau berada di tempat tugasnya di daerah pelosok yang sangat terpencil.

Sekitar 15 menit kemudian, Pak Usdi telah tiba. Berbekal pengetahuan dan keterampilannya sebagai mantri professional, beliau pun menangani Abdullah. Ketenangannya membuat kami ikut-ikutan tenang padahal sejak tadi paniknya luar biasa. Jika saja semua tenaga kesehatan seperti beliau, insya Allah tingkat kesehatan di negeri ini akan meningkat dengan cepat.

Tidak apa-apa, Insya Allah cepat sembuh. Abdullah anak kuat, kok” ucapnya pada Abdullah.  

Abdullah memang sudah agak tenang. Seperti yang dikatakan Pak Usdi, Abdullah memang hebat, anak yang kuat. Tangis kejernya sudah berhenti, hanya sesekali sisa-sisa isaknya terdengar lirih. Mungkin rasa sakit yang dirasakannya sudah berkurang seiring dengan bekerjanya obat yang diberikan Pak Usdi.

Dalam ketenangannya, mata mungil Abdullah tak pernah lepas dari memandangi punggung tangannya yang melepuh, menggelembung penuh air. Saya pun sesekali memandang tangan itu dengan pandangan perih. Selaksa rasa bersalah akan keteledoranku yang berakibat melukai buah hatiku sendiri.

Jangan dipecahkan gelembung itu, biar nanti saya yang tangani. Sekarang saya harus pergi, insya Allah nanti datang lagi” ucap Pak Usdi setelah merasa cukup memberikan perawatan pertama.

Pak Usdi menepati janji. Malamnya beliau datang bersama istrinya. Kedatangan keduanya betul-betul sangat berarti bagi kami. Istri Pak Usdi pun berulang kali menenangkanku atas rasa bersalah yang kurasakan. Beliau menyemangati dengan mengatakan bahwa kejadian seperti ini bisa menimpa siapa saja bisa. Toh, saya pastinya tidak pernah menginginkan kejadian ini terjadi.

Alhamdulillah, apa yang kami khawatirkan tidak terjadi. Sebelumnya kami takut bila malam itu Abdullah tidak akan bisa tidur karena rasa sakitnya. Namun nyatanya, Abdullah bisa tidur dengan nyenyak seakan tidak terjadi apa-apa. Entah pengaruh obat tidur atau karena Abdullah memang anaknya suka sekali tidur.

Alhamdulillah, perawatan yang diberikan Pak Usdi membuat luka Abdullah terawat dengan baik sehingga cepat sembuh.

Ada satu kejadian tidak mengenakkan ketika saya bersama Abdullah dan seorang teman berangkat bersama menuju tempat pengajian. Saat di pete-pete (sebutan untuk angkot di wilayah Makassar dan sekitarnya), beberapa orang penumpang terkejut melihat luka Abdullah yang sudah mulai mengering.

“Kena minyak panas…” jawabku ketika ada yang bertanya mengenai luka Abdullah tersebut.

“Bisanya seperti ini, di mana mamanya?”

“Pasti mamanya ceroboh, masak anak kecil begini bisa kena minyak panas..”

“Iya, mama-mama zaman sekarang suka tidak becus mengurus anak…”

Masih banyak lagi yang mereka bicarakan. Pembicaraannya sambung menyambung. Tapi yang jelas mereka menyalahkan mama anak itu, mamanya Abdullah, ya saya lah…

“Sabar ki, Kak” ucap temanku menenangkan. Hikz.

Sampai sekarang kejadian itu masih sangat membekas dalam ingatanku meski kejadian itu telah berlangsung enam belas tahun yang lalu. Hingga kini bekas tumpahan minyak itu masih dapat dilihat di punggung tangan kiri Abdullah. Meski samar namun bekas itu akan selalu menjadi pengingat bagiku.

Sejak saat itu saya lebih baik tidak memasak daripada harus memasak sambil mengeloni anak. Abahnya pun lebih bisa bersabar bila pulang namun makanan tidak tersedia di rumah karena saya sibuk mengurus empat anak kecil waktu itu (alhamdulillah sekarang sudah besar tinggal di bungsu yang tiga tahun). Alhamdulillah, gak masak berarti membagi-bagi rezeki buat penjual makanan jadi yang banyak di sekitar rumah kami. Insya Allah makanan mereka halalan thayyiban karena mereka para tetangga kami sehingga kami mengenal mereka lebih banyak.

                                                   Mengenang kejadian 16 tahun silam








6 comments:

  1. duh Mba, ngebayangin ketumpahan air panas itu kok saya bergidik ngeri yah Mba, gak kebayang gimana perihnya, hiks :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meski sudah 16 tahun berlalu tapi kalau ingat kejadian itu mendadak bergidik dan ngilu. Ya Allah, jangan sampai terulang .....

      Delete
  2. Ya alloh sedih bacanya, trus ibu ibu yg ngomongin pengen ikut mites aja rasanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagian ibu-ibu memang ada yang gampang banget menghakimi. Padahal, setiap ibu pastinya akan memberikan semua yang terbaik yang ia punya untuk anak-anaknya. Saya sempat nyesek dingomongin kayak gitu...

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...