MOMEN LEBARAN MOMEN BERKUMPUL

Sunday, 31 July 2016

Tak ada yang paling menggembirakan bagi seorang muslim selain menyambut kedatangan hari raya khususnya hari raya Iedul Fitri.  Setelah sebulan berpuasa, menahan diri yang biasanya dihalalkan di siang hari  demi meraih ridho dan rahmat-Nya.

Ternyata pahala puasa berbeda lho dengan pahala amal ibadah lainnya. Pahala puasa akan dibalas sendiri oleh Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan:
Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari dan  Muslim)

Bagi kami, aku, suami dan kelima anakku hari raya juga membawa kebahagiaan tersendiri. Di moment inilah, keluarga kami berkumpul lagi sebagaimana keluarga lain yang utuh. Lho, memangnya keluargaku hancur gitu sampai gak utuh?

Jadi gini, sejak suamiku melanjutkan study nya di negeri tetangga, kami terpaksa LDR an. Yang senasib denganku, pasti tahu deh serunya (susahnya kali) LDR an. Paling terasa sesaknya LDR an kalau kita lagi sakit. Boro-boro ada yang perhatiin. Yang ada malah, kita harus cepat-cepat sembuh soalnya kasihan anak-anak jadi gak ada yang perhatiin.

Nah, moment lebaran inilah yang senantiasa  dimanfaatkan suamiku tuk balik kampung, berkumpul bersama keluarga besar di Makassar. Alhamdulillah sejak berpisah tak satu lebaran pun yang terlewat tanpa kehadiran suami tercinta.

Namun tidak seperti keluarga lain yang dapat menunaikan shalat ied bersama, kami biasa melaksanakannya di dua tempat yang berbeda. Sebagai seorang dai, jauh hari sebelum hari ied suami biasanya mendapat tugas untuk membawakan khutbah ied di masjid atau tanah lapang yang telah ditentukan oleh yayasan tempat kami biasa mengikuti kajian.

Sebenarnya bisa saja saya ikut bersama suami. Namun ketiga putriku yang masih kecil membuat langkahku terbatas. Belum lagi dua putraku yang lain.  Sementara  kendaraan andalan kami hanya motor. Kebayang kan ajaibnya jika kami pergi bersamaan, sekeluarga gitu (gak mungkin jugalah, memang muat?)

Sebagai solusinya, kedua anak laki-laki ikut dengan abahnya. Yah sekalian pembelajaran agar saat dewasa kelak, Insya Allah mereka juga akan menjadi dai, sudah punya bekal. Setidaknya pernah ngeliat abahnya di atas mimbar. Nah, kalau ketiga putriku pastinya ikut bersamaku.  


Ketiga Putriku Bersama Mami Mertua
Alhamdulillah, pelaksanaan shalat ied dilaksanakan tak jauh dari lingkungan rumah kami. Sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun, masyarakat lingkungan rumahku mengerjakan shalat ied di sepanjang jalan raya yang berdekatan dengan masjid. Kebetulan jamaah masjid senantiasa membludak sehingga meluber sampai keluar. Mau tak mau, jalan raya yang ada di depan masjid digunakan sebagai untuk menampung jamaah yang tidak mendapatkan tempat di masjid. Tentu saja, jalan raya tersebut telah ditutup bagi pengguna kendaraan bermotor sejak selesainya shalat subuh.

Saya dan ketiga putriku melaksanakan shalat ied di tempat itu. Lokasinya yang tidak jauh dari rumah membuat saya dapat menuntun anak-anak dengan tenang tanpa harus terburu-buru. Cukup keluar dari lorong (rumah kami di dalam lorong) maka sampailah di tempat pelaksanaan shalat ied. Tinggal memilih tempat yang ternyaman (di tengah jalan ataukah di emperan ruko yang berjejeran sepanjang jalan). Setelah itu melempangkan tikar atau koran di bawah sajadah lalu duduk menunggu pelaksanaan shalat ied dimulai.

Memilih Tempat Di Tengah Jalan

Saat berjalan menuju tempat pelaksanaan shalat, tak jarang kami sekalian bertegur sapa dengan para tetangga. Bahkan bila ada yang telah siap,  maka kami sekalian menuju tempat shalat bersama-sama.

Moment ini juga mempertemukan kami, para tetangga yang justru di hari-hari biasa jarang bertemu atau bertegur sapa karena kesibukan masing-masing. Belum lagi para tetangga yang sehari-hari berada di luar kota bahkan luar negeri dan di momen ini memanfaatkannya untuk berkumpul bersama keluarga besar.

Bila sudah begitu, akan banyak cerita mengalir. Sepanjang jalan hingga menunggu pelaksanaan shalat ied cerita seakan tak ada habis-habisnya. Belum lagi salam-salaman, cipika cipiki maupun undangan jamuan makan yang beterbaran di momen indah itu. Semua berkumpul, semua bergembira di hari yang mulia ini.

Balon Dan Anak-Anak
Kegembiraan juga dirasakan anak-anak. Momen lebaran adalah saat mereka tampil secantik atau setampan mungkin. Pakaian baru dan sepatu baru menemani langkah-langkah mereka menuju tanah lapang.

Kegembiraan anak-anak itu bertambah ketika beberapa penjual balon memamerkan jualan mereka. Balon beraneka bentuk meliuk-liuk ditiup udara pagi. Balon berbentuk menyerupai tokoh-tokoh kartun  menjadi favorit anak-anak. Ada tokoh Upin Ipin, Frozen, Boboboy, dan sebagainya.
Penjual Balon Panen

Penjual Balon


“Saya mau yang balon sapi” pekik Hilyah begitu matanya menangkap sosok  penjual balon lengkap dengan jualannya.

Sebagaimana anak-anak lainnya ketiga anakku juga tergoda dengan balon-balon beraneka bentuk tersebut. Meski demikian, Nusaibah (10 th) dan Khaulah (7 th) tidak tertarik untuk membelinya. Katanya balon-balon itu hanya cocok untuk anak kecil. Berbeda dengan Hilyah (2 th) yang langsung merengek meminta dibelikan balon begitu kami keluar dari ujung lorong.

Dan, setelah mengambil tempat ternyaman, keinginan Hilyah akan balon sapi pun terwujud. Senyumnya merekah. Ia terlihat sangat senang memegang seutas tali yang diberi pemberat batu agar balon tersebut tak lepas di udara.

 “Ada  balon terbang” pekik Khaulah sembari menunjuk ke langit.

“Di sana juga ada” tambah Nusaibah menunjuk ke arah yang lain.

Aku dan Hilyah segera melihat ke arah yang ditunjuk. Beberapa pasang mata juga melihat ke arah langit. Satu persatu balon beraneka bentuk menyemarakkan langit.   Rupanya balon-balon itu terlepas dari pemiliknya.

“Lho, balon Hilyah mana?” Nusaibah yang terlebih dahulu menyadari kalau balon berbentuk sapi yang tadi diikatnya di tas sudah tidak ada lagi.

“Aih balonnya terbang” celutuk salah seorang ibu yang berada tepat di belakang kami.

Benar saja, balon berbentuk sapi kepunyaan Hilyah pelan-pelan naik menjauhi kami. Sebenarnya kami masih bisa menjangkaunya namun barisan jamaah shalat yang duduk di depan kami membuat kami tak punya pilihan lain selain memandang balon itu menjauh.

Tentu saja yang paling sedih adalah Hilyah. Matanya mulai berkaca-kaca melihat balonnya yang semakin menjauh. Sebelum air matanya jatuh dan ia mengamuk, saya segera membujuknya. Memintanya mengiklaskan balon tersebut.

“Dadah balon” ucap Hilyah mengharu biru. Sebuah janji telah kusematkan di 
hatinya. Saya akan menggantikan balon tersebut tapi nanti setelah shalat ied karena saat itu shalat ied akan segera dimulai.

Usai melaksanakan shalat ied, aku kemudian meminta Nusaibah dan Khaulah untuk kembali membeli balon. Kali ini Hilyah meminta balon bentuk burung. Terlihat para penjual balon tak lagi dikerubuti para calon pembeli balon sebagaimana di awal pelaksanaan shalat ied. Balon-balon yang dijual juga sudah berkurang, tidak sebanyak tadi.

Para jamaah juga sebagian besar telah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat duduknya. Adapun kami, saya selalu menekankan anak-anak untuk menunggu hingga khatib menyelesaikan khutbahnya sebelum kami ikut bersiap pulang.

Alhamdulillah, selesai sudah pelaksanaan shalat iedul fitri kali ini. Harus buru-buru kembali ke rumah nih sebelum suami dan anak laki-laki tiba terlebih dahulu. Beragam agenda telah menunggu untuk dilaksanakan. Terutama agenda halal bihalal,  mendatangi satu persatu rumah orang tua dan kerabat dekat. Agenda rutin yang wajib untuk dikerjakan.

Anak-anak juga sudah tidak sabar untuk segera berkunjung ke rumah kerabat. Bertemu para opa, oma, om dan tante serta sepupu-sepupu mereka. Dan yang paling utama, mandapatkan  angpau yang akan memenuhi dompet mereka. Hore, kita kaya……


Salah Satu Momen Kumpul-Kumpul Yang Selalu Dinanti
Momen lebaran memang senantiasa menghadirkan keceriaan bagi siapa saja. Oh ya jangan lupa,  buat kalian yang berada di Jakarta dan sekitarnya jangan sampai ketinggalan untuk bergabung di satu momen seru, event dari Diaryhijaber yaitu Hari Hijaber Nasional yang akan dilaksanakan pada:

Tanggal     : 07 Agustus 2016 - 08 Agustus 2016
Tempat      : Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat

Jangan Sampai Ketinggalan.






  

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...