LIBURAN DI BATU BUROK

Sunday, 1 May 2016

Pantai Batu Burok? Namanya aneh. Entah mengapa dinamakan demikian, yang jelas nama dengan penampakan pantai sangat jauh berbeda. Pantai ini cantik, sangat cantik. Dengan deburan ombak serta hamparan pasirnya yang putih,  bentangan luas langitnya yang membiru serta jaringan wifi nya yang gratis (hihihihi.....)





Kami sekeluarga tiba di lokasi sekitar jam 11 an pagi menjelang siang. Kebetulan hari itu bertepatan dengan cuti Terengganu sehubungan dengan hari ulang tahun Sultan Terengganu. Ya, hari libur lokal lah....

Begitu memasuki area pantai, perhatianku langsung disita oleh kereta kencana yang ditarik seekor kuda yang berada di tepian pantai. Keretanya cantik. Tentu saja, kami harus berada di dalamnya. Dan....inilah penampakannya




Setelah melewati satu kali putaran, kami pun turun dari kereta. Ongkosnya lumayan, untuk anak-anak 3 RM dan dewasa 5 RM. 

Belum puas berkereta kencana, kami kemudian mencoba menunggang kuda. Nunu dan Awa berdua di atas kuda sementara saya dan Tholhah masing-masing mencoba menunggang sendiri kuda masing-masing (tentu saja dengan  pengawasan pemilik kuda) 





Gimana rasanya naik kuda? Mula-mula agak takut juga. Tapi karena penasaran, ya udah rasa takutnya ditinggal dulu. Saya berusaha bersikap setenang mungkin soalnya pernah baca kalau hewan (kuda) bisa merasakan kegelisahan yang kita rasakan. Khawatirnya kalau si kuda ini tahu kalau saya takut dia bakal gak nyaman dan langsung membawaku kabur.....(imajinasinya kejauhan...)

Alhamdulillah, meski kagok ternyata asyik juga berkuda. Sebenarnya pengen naik kuda berdua dengan Pak Suami biar kelihatan romantis gitu. Tapi boro-boro Pak Suami melotot. Naik kuda bersamamu? Gak lah....hikz sungguh teganya dirimu..teganya teganya teganya .......

Bosan berkuda, saya mengajak Tholhah, Nusaibah dan Khaulah menuju tepian pantai. Sebenarnya sudah sedari tadi saya tergoda untuk menjenguk air laut  tapi karena akan-anak keburu heboh melihat kuda so kita berhenti di tempat penyewaan kuda terlebih dahulu.

"Masya Allah, indah sekali....." ucapku tak putus-putusnya. Bentangan langit biru serta hamparan laut lepas di hadapanku benar-benar membuatku semakin kagum dengan Sang Pencipta keindahan ini. Hamparan pasir putih yang berada di bawah kami membuatku rasanya ingin berguling-guling di atasnya. Anak-anak tertawa senang melihat pasir putih karena biasanya kami hanya melihat pasir hitam di pantai. 

"Mi, fotoki cepat" ujar Tholhah setelah hampir usai menulis namanya di atas pasir. Sayangnya, tepat ketika kamera hpku siap merekam tiba-tiba datang ombak yang menyapu semuanya. Sedetik kemudian nama tersebut ikut terhapus.

Saya dan Tholhah terbahak. Tapi anak muda itu tidak putus asa. Ia kembali menulis namanya dan saya pun segera mengabadikannya. Eh, Nusaibah dan Khaulah pun ikut-ikutan menuliskan nama mereka. 

Add caption

berlomba menulis nama di pasir
 
penjual wauw di tepian pantai

Setelah beberapa lama di tepian pantai  Laut Cina Selatan, saya dan anak-anak kembali naik ke permukaan, hehehe. Setelah itu kami pun membawa anak-anak ke area playround yang dipenuhi dengan aneka jenis rumah-rumah perosotan. Ada yang berbentuk perahu, ada bentuk kaki seribu, bentuk ikan, dan banyak lagi. Anak-anak (terutama Hilyah) sampai bingung mau nyoba yang mana terlebih dahulu. Tak lupa teriakan-teriakannya membahana sehingga sesekali orang melirik ke arah kami. Bukan bising sih, mungkin mereka heran dengan bahasa kami yang nge-Makassar banget. "Wei, manako......." hehehe






Bermain di tepian pantai memang sangat mengasyikkan. Anak-anak terutama Hilyah bahkan beberapa kali menolak ketika kami ajak pulang. Katanya masih mau main dan main terus di tempat itu, hehehehe

Alhamdulillah, akhirnya Hilyah mau juga diajak pulang setelah pake acara teriak-teriak plus nangis yang sekencang-kencangnya. Tentu saja dengan satu janji, 'Datangki lagi nanti ke sini nah......." 

Oke, Insya Allah we will back....






No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...