Mulai Menulis Ala Haeriah Syamsuddin

Friday, 15 April 2016


Bagaimana saya mulai menulis? Pertanyaan itu termasuk pertanyaan yang paling banyak ditanyakan pada saya. Secara pribadi, saya mulai dan bisa menulis karena kegilaan saya membaca. Terus terang saya tidak pernah secara serius mengikuti pelatihan menulis. Kalaupun pernah, semua teori yang dipaparkan sekadar masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Dari kenyataan itu, saya mengambil kesimpulan kalau saya termasuk golongan “learning by doing”. Alias tipe gak bisa dibilangi kalau cuma teori doang. Saya harus melihat, meraba dan menerawang (lha kok kayak ngetes duit, ya?)


Karenanya jangan pernah menanyakan teori menulis pada saya karena saya benar-benar tidak tahu. Lalu bagaimana saya bisa menulis? Ya itu tadi dari kebiasaan saya membaca dan membaca. Kebiasaan membacaku sejak saya mulai bisa membaca. Saking sukanya membaca, waktu SD dulu, saya mampu menghabiskan novel Khoo Ping Hoo yang super tebal itu dalam waktu sehari. Uang jajanku pun habis untuk menuntaskan hasratku akan bacaan. Bobo, Ananda, Kuncung, Anita Cemerlang, Aneka Ria, Mode, Gadis, Hai, bahkan terkadang Kartini atau Femina tidak akan bisa lewat begitu saja dari pandanganku. Bahkan koran bekas bungkus tarajjong atau cabe harus saya baca dulu sebelum dibuang ke tempat sampah. atau kalau menarik, ya saya kumpul buat arsip.  Saya juga tercatat sebagai  anggota di beberapa tempat penyewaan buku. 

Oke kembali ke topik. Dari kebiasaan membaca itulah, secara alami otak saya dapat mengklasifikasikan sebuah tulisan. Apakah tulisan itu bagus atau biasa-biasa saja. Kebiasaan itu juga membuatku kemudian bisa memberi gambaran bagaimana agar tulisan yang biasa-biasa saja itu bisa lebih oke. Tanpa sadar saya pun menjadi seorang pengamat tulisan (waktu kuliah masih sebatas fiksi). 

Sebagai ajang latihan menulis, saya menggunakan diary sebagai medianya. Diary adalah tempatku curhat-curhatan. Apa saja kutulis di sana. Lagi berantem sama sahabatku, kutulis. Sebal sama guru, kutulis. Dijewer mama, kutulis. Bertengkar dengan adik-adik, kutulis.  Pokoknya everything…..

Kebiasaan menilai, mengamati dan memberi masukan serta menulis di diary itu kemudian memberikan satu kesadaran tersendiri. Kenapa saya tidak kemudian ikut membuat tulisan yang MENURUTKU bagus? Saya pun menjawab tantangan itu. Dan, lahirlah sebuah cernak (cerita anak) yang dua hari kemudian dimuat di koran Harian Pedoman Rakyat. Tulisan pertamaku dimuat di tahun 1994, saat saya duduk di semester satu.

Sedekah Plus Edisi 27 (Maret 2016)
Sejak itu saya ketagihan menulis. Hampir tiap minggu tulisanku dimuat di harian tersebut ataupun Harian Fajar. Qadarallah, kebiasaan menulisku terhenti saat saya menikah di 1998. Saya kembali aktif menulis di akhir 2011 dan di awal 2012 lahirlah antologi pertamaku, “Terapi Menulis”. Alhamdulillah saat ini saya telah menghasilkan 4 buku solo, 10 antologi, 2 terjemahan, beberapa tulisan di media cetak, aktif sebagai contributor tetap sebuah majalah dakwah serta tetap asyik sebagai ghost writer. 

 
Buku Solo Pertamaku
 
Buku Solo Keduaku
Buku Solo Ketigaku


Buku Solo Keempatku

Jadi, bagaimana saya memulai menulis? Baca, baca dan teruslah membaca maka engkau pun akan bisa menulis. 





No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...