PIKNIK BERBUAH NYASAR

Monday, 5 October 2015


Twin Tower
Siapa sih yang tidak suka piknik, kayaknya semua orang pasti menyukai aktivitas tersebut. Tentu saja tidak terkecuali aku dan keluargaku. Kami juga suka piknik. Apalagi saat masih menetap di Malaysia, boleh dibilang hampir tiap weekend kami blusukan nyari tempat piknik. Mumpung di negeri orang.

Salah satu pengalaman  terunik dan takkan terlupakan ialah saat kami sekeluarga baru seminggu di Malaysia.  Karena penasaran ingin melihat  icon Malaysia, Twin Tower, aku mendesak si Abah untuk segera mengajak kami ke sana. Tapi karena aku harus beberes rumah dan si Abah juga harus kerja, jadinya tunggu weekend dulu.

Sebenarnya si Abah agak ragu mengajak kami ke KL. Alasannya, beliau belum hapal jalan di kota tersebut. Selama ini kalau ke KL, si Abah bareng teman-temannya.  Maklum, meski sudah setahun lebih dulu dari kami berada di Malaysia namun rute si Abah hanya berkutat seputaran rumah dan kampus yang berjarak sekitar 5-10 menit ditempuh dengan kendaraan. Jadinya, gak heran kalau si Abah gak hapal jalanan. Ya, kecuali jalanan menuju kampusnya tentu saja.

Namun demi istri dan anak tercinta, akhirnya si Abah luluh juga. Dengan mengucap bismillah, kami berenam meninggalkan flat tercinta menuju Kuala Lumpur.  Twin Tower, we are coming…..

Alhamdulillah setelah hampir sejam,  kami berhasil menginjakkan kaki di areal Twin Tower. Setelah beberapa lama mengubek-ubek Twin Tower  si Abah kemudian nekad mengajak kami ke Menara KL. Kenapa nekad? Iyalah, karena si Abah sebenarnya baru sekali ke tempat tersebut dan tentu saja belum hapal benar jalanan ke sana.
 
Di bawah Twin Tower



Aku dan anak-anak sih ayuk aja. Gak masalah kaki gempor yang penting mata puas kecengin KL. Lumayan, buat cerita-cerita kalau pulang kampung nanti.

Ternyata kami di KL Tower atau Menara KL hanya sebentar. Hanya sempat menengok hutan lindung, mejeng di depan rumah adat serta berburu cemilan di bawah Menara.

“Yang penting sudah tahu jalannya. Next time, kita ke sini lagi…” janji si Abah yang mulai bosan. Do’i memang gak begitu suka berada di tempat keramaian. Piknik doi ya di perpustakaan bukan di tempat rekreasi seperti ini.




Kami menurut dan berniat pulang. Membayangkan flat kami yang berada di lantai 3 yang nyaman sembari meluruskan kaki dan menikmati hidangan sore khas si Abah, segelas teh tarik dan sebakul cemilan. (sst, sepiring cemilan mah gak cukup buat keempat anakku yang cemilakers…)

“Abah, kapan sampainya?” keluh si kecil Khaulah. Keluhannya langsung disambut ketiga kakaknya. Rupanya keempat anakku sudah kecapekan.

“Iya ya, kok gak sampai-sampai sih. Perasaan tadi dari Kajang ke KL cuma 45 menit, ini sudah hampir dua jam kita masih di jalan. Hah, dua jam? Kita sudah  mutar-mutar di jalan selama dua jam?” aku mulai panik menyadari lamanya kami di jalan. Jangan-jangan…….

“Sepertinya kita nyasar….” Ucap si Abah tertahan. Si Abah tetap melajukan mobilnya.

Ucapan si Abah tentu saja mengundang kepanikan. Ya Allah, nyasar di negeri orang? Gak banget. Dalam pikiranku mulai bermain bayang-bayang ketakutan. Berulang kali suami mengingatkanku untuk tenang karena kepanikanku membuatnya ikut-ikutan panik.

Saat itu kami serasa berada di tengah lautan tol yang terlihat tak ada putus-putusnya. Kami tak tahu harus berbuat apa selain hanya bisa terus berjalan dan berjalan. Mobil berjalan lambat sedikit saja, mobil lain siap membunyikan klakson sebagai tanda teguran. Parahnya, kami tidak tahu di mana kami saat ini. Sementara kami pun tidak bisa berhenti dan bertanya.

“Ummi, seperti ada bau terbakar” beritahu si sulung menyadarkan kami. “Di belakang mobil banyak asap….” sambungnya.

Aku yang melihat hal tersebut tentu saja semakin panik. Si Abah pun segera menepikan mobil. Serentak kami segera keluar dari mobil.

Benar saja, bagian belakang mobil kami mengeluarkan asap. Bau sangit tercium sangat keras. Entah apa yang terjadi dengan mobil tersebut. Tentu saja, si Abah yang gak ngerti urusan mesin mobil hanya bisa berdiri kebingungan.

“Cegat mobil yang lewat, minta bantuan mereka” usulku yang langsung ditanggapi si Abah dengan mencoba menghentikan beberapa kendaraan yang lewat.

Namun alih-alih berhenti, mobil-mobil tersebut tetap saja melaju. Bahkan mereka tidak mengurangi kecepatannya sedikit pun. Beberapa kali si Abah harus bergegas mundur agar tidak tertabrak.

Aku dan anak-anak sedari tadi menepi di pinggir jalan yang tidak beraspal. Beberapa kali kami menyemangati si Abah agar tidak putus asa meminta bantuan. Sebenarnya tadi si Abah sudah menghubungi salah seorang temannya untuk minta dijemput. Namun saat ditanya kami  berada di mana, si Abah jadi bingung. Hanya satu yang kami ketahui, kami berada di tol. Dan gak mungkin kan teman si Abah ngubek-ngubek seluruh tol di Malaysia ini.

Dimana kami?


Bagaimana dengan anak-anak? Dasar anak-anak, mereka malah enjoy menikmati acara nyasar ini. Tahu tidak, mereka malah piknik di pinggir tol. Mereka main tebak-tebakan, lempar-lempar batu malah sempat main kejar-kejaran.
berusaha menikmati piknik nyasar

Alhamdulillah, perjuangan si Abah membuahkan hasil. Seorang bapak pengendara motor terbuka hatinya untuk menepi dan melihat keadaan mobil kami. Si Bapak itu kemudian menjelaskan kalau mesin mobil kami kepanasan sehingga terbakar. Tapi sebenarnya tidak apa-apa yang penting mesin mobil didinginkan terlebih dahulu. Lewat si Bapak itu pula kami tahu kalau kami berada di daerah Seremban. Si Bapak itu kemudian memberitahu tahu arah yang harus ditempuh jika ingin kembali ke Bangi atau Kajang, tempat kami. Dan sebagai bantuan pamungkas, si Bapak berjanji akan mengirimkan mobil derek setibanya ia di rumahnya di daerah Puchong.

Tentu saja si Bapak tak bisa berlama-lama, apalagi matahari sudah semakin condong ke barat. Meski begitu bantuannya sangat berarti bagi kami.

“Kita coba jalan pelan-pelan saja sampai ke pom bensin. Kata si Bapak tadi di depan ada pom bensin. Kalian juga bisa beristirahat di sana…”

Tak ada pilihan lain. Meski takut, kami bergegas masuk ke mobil. Tak henti-hentinya mulut kami berdzikir, memohon pertolongan dan perlindungan Allah.

Alhamdulillah, setelah berjalan ibarat keong dibanding kendaraan lainnya, kami pun menemukan pom bensin yang dimaksud. Bergegas kami menuntaskan hajat masing-masing. Si Abah membetulkan mobil, aku dan anak-anak bergegas ke toilet. Kebelet nih…

Setelah semuanya beres, kami pun meninggalkan pom bensin dengan pikiran dan tenaga lebih fresh. Dengan mengantongi petunjuk yang diberikan Si Bapak tadi, si Abah menjalankan mobil dengan hati-hati. Kali ini tidak ada lagi acara nyasar.

Alhamdulillah, piknik kali ini berakhir bahagia meski harus melewati beberapa babak drama. Kapok piknik? Hm, tentu tidak….

Alhamdulillah kini selain bekerja di Malaysia, si Abah juga part time di Bogor. Semoga berikutnya, kami sekeluarga berkesempatan liburan di Bogor. Tapi…tidak pakai acara nyasar.

Tulisan ini diikutkan pada “Lomba Blog Piknik itu Penting” www.murtiyarini.staff.ipb.ac.id



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...