Shalat Ied Dan Penjual Balon

Wednesday, 30 September 2015

Hari ied telah tiba, iedul adha 1436 H kali ini jatuh bertepatan pada hari kamis tanggal 24 September 2015.  Meski tidak semeriah dan seheboh iedul fitri namun tetap saja hari raya umat islam tersebut disambut dengan gembira. Namanya juga hari raya, hari bergembira. Apalagi umat islam hanya mengenal dua hari raya, iedul fithri dan iedul adha.
Kegembiraan juga dirasakan oleh kami sekeluarga, terutama anak-anak, tak terkecuali  putriku yang paling kecil, Hilyah (2,7 th). Usut punya usut ternyata yang paling membuatnya bahagia adalah……balon. Rupanya Hilyah masih mengingat bahwa saat kami shalat iedul fitri di jalanan depan rumah banyak penjual balon yang melintas. Waktu itu aku sempat membeli dua buah balon untuknya.
“Balon..balon, mauka saya balon…” celotehnya tak putus-putus. Kedua kakaknya, Nunu dan Awa juga terus memprovokasi adiknya agar minta dibelikan balon. Hm, jangan-jangan kedua kakaknya yang sebenarnya mengingatkan Hilyah akan balon.

Dan tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Dengan mengenakan busana muslim serba pink sebagaimana yang dipakai saat iedul fitri kemarin, aku dan ketiga putriku berangkat menuju ruas jalan Rappocini Raya yang dijadikan tempat penyelenggaraan shalat ied bagi kami yang berada di kawasan seputar Masjid Dakwatul Khaer.
“Balon…balon. Itu adami penjual balon” ups baru juga keluar dari lorong dan belum menggelar tikar untuk tempat shalat tapi ketiga putriku sudah mulai kasak kusuk melihat penjual balon.
“Sebentar beli balonnya. Cariki dulu tempat shalat” ucapku menenangkan mereka.
Ketiganya menurut. “Good girls” bisikku dalam hati melihat kepatuhan mereka. Lucu juga melihat mereka kemudian memilih tempat duduk dan membantuku menghamparkan karpet hijau untuk tempat shalat kami.
“Ok semua beres, sekarang balon….”
Hahaha, rupanya balon tak pernah dilupakan. Kebetulan dua shaf di depan kami ada seorang ibu separuh baya yang berjualan balon. Si ibu itu mengenakan mukena dan sarungnya. Sepertinya si ibu baru kali ini berjualan di sini karena selama aku dan keluarga shalat ied di tempat ini baru kali ini aku melihatnya. Biasanya yang berjualan adalah anak-anak muda laki-laki.
“10 ribu” ucap ibu itu dengan ramah pada beberapa anak yang  mendekatinya. Tentu saja mereka hendak membeli balon, hehehe
Surprise mendengarnya. Pelaksanaan shalat ied masih lama, jamaah juga belum padat karena masih banyak tempat yang kosong tapi si ibu telah menjualnya dengan harga normal. Pengalaman iedul fitri yang lalu, para penjual balon menaikkan harga balonnya menjadi 15 ribu di saat seperti ini. Dan harga kembali normal saat khatib telah berkhutbah dan para jamaah bersiap-siap kembali ke rumah.
Dengan harga normal tersebut, tentu saja dagangan si ibu cukup laris manis. Sementara telingaku sempat menangkap kalau harga balon yang dijual para penjual balon lainnya untuk sementara tetap bertahan di angka 15 ribu. Cara berdagang si ibu tadi membuatku salut. Beliau tidak mempermainkan harga pasar meski permintaan sedang banyak-banyaknya sebagaimana yang dilakukan para pedagang lain. Padahal bisa saja ia ikut menaikkan harga jual demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar. (Ups, kok malah jadi pengamat ekonomi sih. Hehehe, maklum si emak baik hati ini dulu kan pedagang juga…)
Untuk menenangkan si kecil Hilyah yang sudah tidak sabar ingin segera memiliki salah satu balon jualan si ibu itu, iseng-iseng aku memintanya memilih kira-kira balon mana yang disukainya. Berhasil, Hilyah mulai tenang namun yang rebut malah kedua kakaknya. Keduanya saling mempengaruhi Hilyah agar memilih sesuai pilihan mereka.
Mula-mula Hilyah menurut. Pilihan pertamanya jatuh pada balon bermotif Puteri Aurora sesuai pilihan Nusaibah. Tapi kemudian ia beralih pada balon bermotif Angry Bird sesuai pilihan Khaulah. Namun akhirnya, Hilyah ngotot dengan pilihannya sendiri. Balon berbentuk sapi. Tak dihirakaunnya bujuk dan rayu kedua kakaknya agar mengubah pilihan. Hilyah tetap keukeuh memilih sapi. Mungkin biar matching dengan iedul adha, hehehe.
Usai melayani seluruh pembelinya, ibu kemudian berjalan ke belakang, ke arah kami. Dengan raut wajah keletihan, si ibu berusaha untuk tetap tersenyum. Langkahnya terseok-seok, ia seperti kepayahan membawa balon yang cukup banyak. Aku mendadak trenyuh. Diam-diam sejumput doa terukir semoga jualan si ibu membawa berkah. Jualannya habis sehingga si ibu bisa ikut merasakan kebahagiaan di hari raya ini.
“Iye 10 ribu ji, Nak. Yang mana kita mau? Sapi? Sebentar saya ambilkanki…” dengan jelas kudengar si ibu melayani putriku Khaulah yang mewakili adiknya membeli sebuah balon.
Si ibu sempat melemparkan seulas senyum padaku saat melewati shafku menuju pembeli lainnya yang ada di belakangku. Entahlah, mungkin si ibu itu tahu kalau diam-diam aku memperhatikannya.
Tak berapa lama kemudian si ibu yang telah berada dua shaf di belakangku terlihat gelisah. Beberapa kali ia maju mundur cantik dan sepertinya hendak menuju ke suatu tempat. Rupanya si ibu berniat mengambil tasnya yang berada di bagian shaf depan karena sebentar lagi shalat ied akan dimulai. Untung ada salah seorang ibu yang bersedia dititipi balon jualannya sementara si ibu mengambil barangnya.
“Nakkepa pa’baluna” ibu yang dititipi itu terkekeh sembari mendekatkan balon jualan si ibu yang kini tersisa sedikit ke dekat tempat shalatnya.
Setelah itu aku tak lagi memperhatikan si ibu penjual balon. Waktu shalat sudah tiba. Jadi aku harus merapikan tempat shalatku dan berusaha menenangkan Hilyah yang mendadak gelisah melihat orang-orang di sekitarnya satu persatu berdiri dan mengambil posisi shalat.     

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...