SEPOTONG CATATAN DARI SENYUM BUNDA

Thursday, 18 June 2015

Waktu belum menunjukkan pukul sembilan pagi ketika saya dan kedua putri kecilku tiba di Hotel Grand Clarion and Convention yang berada di Jalan Pettarani Makassar. Sesaat saya bingung karena di lokasi yang sama ternyata ada dua acara yang berbeda. Hampir saja saya ikut masuk dalam antrian yang cukup panjang, untungnya nalar saya bekerja, “hm, kayaknya gak mungkin deh pesertanya sudah sebanyak itu sementara saat ini jam belum juga menunjukkan pukul Sembilan, waktu yang tertera di undangan”

Benar dugaan saya, tak jauh dari antrian tersebut berdiri sebuah palang kecil bertuliskan “Montessory School”. Hm, mungkin acara perpisahan sekolah tersebut, pikirku lagi.

“Ummi, yang itue acara Senyum Bunda” celutuk Nusaibah, putriku yang duduk di kelas 3 sd.

Nusaibah benar. Di bagian depan ruang sebelah terdapat spanduk acara. Bertiga kami pun bergegas ke tempat tersebut dan meninggalkan tempat yang hampir saja kami salah masuk.

“Silahkan registrasi dulu, Bu…” dengan ramah salah seorang panitia acara menyambutku.

“Oh, Ibu Haeriah ya? Ini namanya ada di nomor 201…” Mba Rara, salah seorang karyawan OCBC Bank yang dua hari lalu mendatangiku di rumah untuk mendataku sebagai peserta buru-buru mendatangiku.

Dengan cepat, saya melewati meja registrasi. Ketika akan memasuki tempat acara, kedua putriku ditawari bermain di kids corner. Anakku yang doyan main tentu saja tidak melewatkan tawaran tersebut. Keduanya langsung menuju kids corner dan “tenggelam” di sana.

Melihat keduanya anteng, saya pun memasuki tempat acara. Sebelumnya saya berpesan pada kedua putriku untuk tidak meninggalkan tempat mereka sebelum saya datang menemuinya keduanya.

kids' corner

 “Jangan pergi kemana-mana dan ikut dengan siapa-siapa, ya…” pesanku. Keduanya mengangguk tanda mengerti. Saya pun melangkah dengan tenang. Sebelumnya take a picture dulu. Jepret….

Suasana ketika saya masuk ruangan

“Assalamu alaikum, boleh duduk sini, Bu….” Sapaku pada tiga orang ibu. Masih ada lima kursi kosong di sebelah mereka.
Dengan ramah mereka mempersilahkan. Saya pun mengambil tempat yang nyaman sembari menunggu acara dimulai. Saat itu saya membuka hp untuk melihat jam. “Hm, pukul 8.58 menit”





Hampir satu jam saya harus menunggu sebelum MC yang ditunggu-tunggu hadir dan membuka acara. Saat itu, saya kembali melirik jam di hp, “pukul 10.15”
Sang MC, Andrew Malvino (mudah-mudahan tidak salah) kemudian menyapa para peserta. Setelah itu, ia menjelaskan event Cermin  Bunda yang ternyata merupakan kota  kedua diadakannya acara serupa. Masing-masing kota yang mengadakan event ini ialah Medan, Makassar dan akan berakhir di Surabaya. Tak lupa MC menjelaskan sepintas akan tabloid Mom and Kiddies yang merupakan salah satu penyelenggara acara ini serta OCBC Bank, lengkap dengan event-event yang digelar bank tersebut.

Dan…..acara yang sudah sangat saya tunggu-tunggu dari tadi tiba juga. Di jam 10.45, mba Tika Bisono pun terlihat menaiki panggung. Usai berbasa-basi dengan menyapa para peserta talkshow, mba Tika pun memulai acara yang sudah ditunggu dari tadi.

Akhirnya mba Tika Bisono pun naik ke panggung

Dengan gaya khasnya (kata salah seorang panitia, saat saya tanyakan mengapa tak ada kursi di atas panggung sebagaimana acara talkshow pada umumnya), mba Tika pun berjalan mendatangi meja-meja peserta sembari membawakan materi talkshow yang berjudul “Edukasi Seks Untuk Anak di Era Digital”

“Saya paling sebal dengan gaya bertepuk tangannya orang Indonesia….” Mba Tika memprotes tepuk tangan yang diberikan peserta. Gaya tepuk tangan yang terlihat malas-malasan dengan raut wajah yang terkesan tidak ikhlas.
Mba Tika kemudian memberikan tips tepuk tangan yang baik…
1.     Spontan dan full
2.     Memperlihatkan wajah yang berseri-seri
3.     Mulutnya berbunyi (yeah, ouwh, dsb)    

Mencontohkan gaya bertepuk tangan Orang Indonesia


“No execuse…” ucap Mba Tika menanggapi keluhan orang tua bekerja yang kerepotan mendidik anak.
“Siapa suruh punya anak. Kalau tidak mau repot jangan punya anak, jangan menikah…” ucapnya pedas.  

Mba Tika mengkritisi pola asuh sebagian orang tua yang maunya serba instant. Tuntutan kerja yang full time, hanya menyisakan waktu sekadar merebahkan badan saat tiba di rumah, membuat orang tua kemudian tak ada waktu untuk bersama anak. Urusan pendidikan anak diserahkan pada orang lain.
Ada juga orang tua yang memberikan gadget mahal kepada anak-anaknya yang masih kecil. Akibatnya, orang tua tersebut sering menjerit-jerit ketika anaknya berlarian sembari membawa-bawa gadget mahal tersebut. Padahal di mata anak-anak kecil itu, mereka tahunya gadget tersebut adalah mainan. Jangan heran kalau kemudian gadget tersebut bisa saja dibanting, dilempar, diduduki bahkan dipipisi, hihihi….
Di tempat yang lain, ada orang tua yang merasa tenang ketika tahu anak-anaknya anteng berada di kamar. Mereka pikir tempat teraman bagi anak adalah di rumah, di kamarnya.  

Berbagai tips kemudian disebutkan psikolog yang juga bisa bernyanyi ini. Ia pun memberi contoh keseharian yang diterapkan dalam keluarganya. Bahwa begitu tiba di rumah, semua gadget dilepaskan dan disimpan di area publik. Jadi benda-benda tersebut tidak dibawa ke kamar, termasuk benda lain seperti tv ataupun telepon. Tak jarang, ia ikut bermain game bersama anak-anaknya meski sebenarnya gak ngerti aturan game tersebut. Hal ini penting untuk merasakan mengapa anak betah dengan mainan tersebut. 

Mba Tika juga memaparkan pentingnya membatasi penggunaan gadget bagi anak. Jadi anak jangan dibiarkan  seenaknya memainkan gadget namun juga jangan sama sekali dilarang. Karena bagaimanapun gadget hanyalah sebuah tekhnologi, sebuah alat yang salah satu fungsinya sebagai komunikator. Sementara sebaik-baiknya komunikator adalah manusia. 
Gaya Mba Tika Menyampaikan Materi 

Sayangnya waktu yang harus berhenti di pukul 12 siang, membuat mba Tika terpaksa terburu-buru menjelaskan slide yang diperlihatkan satu persatu pada peserta. Mba Tika juga menyesalkan pihak panitia yang tidak menyiapkan materi untuk peserta. Sebagai solusinya, Mba Tika mempersilahkan para peserta untuk meminta materi  di alamat email yang di ada di salah satu slide.

Alamat email Tika Bisono

Sesi tanya jawab yang kemudian diadakan usia mba Tika memaparkan materinya juga berlangsung sangat cepat. Hanya dua peserta yang diberi kesempatan bertanya. Padahal tema yang diusung sangat up to date yang tentunya banyak menimbulkan pertanyaan. Sayang sekali memang.  

Setelah talk show selesai, saya pikir acara akan berakhir namun rupanya pihak panitia masih mempunyai agenda-agenda lainnya. Terus terang saya sudah tidak bersemangat mengikuti acara selanjutnya karena terus terang keikutsertaan saya dalam acara ini semata-mata untuk mengikuti acara talkshow dan melihat sendiri mba Tika Bisono yang namanya sudah kuakrabi sejak saya masih SMA.

Untungnya setelah acara, peserta dijamu makanan ala hotel berbintang. Hm nyummi... Dan, ternyata saya gak sendiri di acara ini, dua jawara blogger Makassar, Mugniar dan Aidha juga hadir di acara ini. Sayangnya kita tidak bisa berlama-lama ngobrol karena usai makan saya harus segera ke sekolah Nusaibah untuk mengambil raport. Gal enak sama wali kelasnya karena udah telat banget. Hm, next time kita kopdaran plus ngobrol panjang ya....

Dan....bertiga dengan anakku, kami pun meninggalkan tempat acara. Semoga di lain kali acara seperti ini digelar lagi dan waktunya lebih panjang lagi. 



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...