Mengenang Bapak

Thursday, 13 November 2014


Yang tergambar di benakku setiap kali disebutkan kata Bapak ialah seorang lelaki gagah, tegap, sangat tekun mencari nafkah untuk keluarga serta hanya sedikit berbicara. Itulah sosok Bapak yang telah menemaniku semenjak aku lahir ke dunia ini hingga aku menginjak bangku kelas 2 SMA. 


Bapak, Rahimahullah sangatlah keras dan  tegas. Entah berapa kali sentuhan kayu mendarat di badanku jika aku lalai melaksanakan perintahnya. Meski demikian, aku sadar Bapak melakukan itu demi untuk menjadikanku anak yang tangguh terlebih aku adalah anak sulung yang tentu saja sangat tidak diharapkan tumbuh menjadi anak yang cengeng dan lemah. Meski aku anak perempuan.

Meski terlihat sangar namun Bapak mempunyai sisi kemanusiaan yang sangat menyentuh. Beliau mempunyai "langganan" pengemis yang rutin datang meminta jatah di rumah. Pengemis tersebut adalah para mantan penyandang penyakit kusta. Dan, bukan hanya dengan sukarela Bapak memberikan sumbangan bahkan Bapak senantiasa menyambut mereka seakan-akan mereka adalah dua orang sahabat yang lama tak berjumpa.

Pernah suatu ketika aku protes dengan sikap Bapak. 

"Mereka adalah orang-orang yang terbuang. Lihatlah betapa banyaknya orang yang menutup diri dari menerima kehadiran mereka. Jika kita juga bersikap demikian, maka kemana lagi mereka harus pergi. Lihatlah senyum dan tawa mereka. Betapa indahnya melihat kebahagiaan terukir di wajah mereka"  Bapak menasehatiku yang sedang protes ataupun sedang mogok dan pura-pura tidak mendengar salam mereka dengan harapan mereka segera pulang tanpa bertemu bapak yang berarti mereka tidak akan mendapatkan apa-apa dari Bapak.

Sikap Bapak itu mengajarkan aku untuk untuk tidak merasa malu berteman dengan orang-orang pinggiran. Bahkan Bapak lebih mengutaman berteman dengan mereka ketimbang dengan orang-orang yang lebih berada. Kata Bapak "kehadiran mereka membuat kita akan lebih banyak bersyukur dengan semua limpahan rahmat yang diberi-Nya"

Selain langganan pengemis, Bapak juga punya langganan lain. Kalau yang ini aku tidak pernah protes. Mereka adalah langganan poteng dan ka'do bulo, dua penganan khas Makassar dan sekitarnya. Karena bapak, aku juga jadi suka dengan penganan tersebut. Hmm, nyummy...

Banyak ajaran yang telah diberikan Bapak. Semoga ajaran-ajaran tersebut mampu kujalani bahkan kuteruskan pada anak-anakku. Dengan demikian amal kebajikan yang kami lakukan dapat menjadi amal jariyah bagi Bapak. Amal yang pahalanya tetap mengalir meski Bapak tidak bersama kami lagi di dunia ini. 

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
Artinya
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”


















No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...