Sepotong Catatan Rindu Tentang Puang

Friday, 13 June 2014

Sebentar lagi ramadhan tiba.....satu hal yang paling mengingatkanku akan ramadhan ialah sosok puang rahimahullah. Meski dalam beberapa hal kami berbeda namun satu yang kukagumi dari beliau, kehebatannya membaca dan menulis setiap pengetahuan baru yag diperolehnya.

Puang (beliau adalah ayah dari ibuku) klik untuk mengenal beliau lebih lanjut  mempunyai kebiasaan membaca yang sangat luar biasa. Bahkan beliau sanggup membaca hingga larut malam ketika kantuk datang menyerang beliau seringkali tertidur sementara buku di hadapannya dalam keadaan terbuka. Jika dibangunkan, beliau langsung memperbaiki duduknya dan....kembali membaca.

 " Daumo tuling manonton, Pia" (mudah2an saya tidak salah tulis) tegur Puang setiap kali melihatku duduk cantik di depan tivi. Kalau Puang punya kebiasaan membaca sampai tengah malam maka saya punya kebiasaan menonton sampai tengah malam... 

"Tidak nontonka, belajarka artikan bahasanya" ucapku ngeles setiap kali Puang berniat menekan tombol untuk mematikan tivi.

Biasanya kalau sudah seperti itu Puang langsung ngeloyor pergi. Apalagi kalau melihatku nonton ditemani kertas dan pulpen. Hm, selamat deh. Eh, tapi benaran lho, salah satu tujuanku menonton selain karena hobi juga untuk memperlancar Bahasa Inggris baik dalam hal liestening maupun speaking. Kata pepatah, sambil menyelam minum air. 

Atau jika Puang berangkat tidur lebih cepat maka tengah malam, beliau pasti terbangun. Usai shalat tahajjud, beliau kemudian membaca hingga pagi menjelang. Kalau sudah begini jangan harap bisa bangun telat, guyuran air siap membangunkan hari.

"Tidak sholatja " elakku jika kebetulan pagi itu sedang kena jadwal "cuti shalat"

Apa alasan itu dapat membuatku kembali melanjutkan mimpi? Tidak....seketika Puang akan berceramah tentang keutamaan bangun pagi, tentang segarnya udara pagi, tentang orang-orang yang mulai berburu rezeki di subuh hari, dan banyak lagi. 
Pokoknya tidak ada alasan untuk bangun telat!!!!!!!

Kembali ke soal kebiasaan unik Puang yaitu menulis. Beliau mempunyai buku catatan khusus yang berisi jadwal ceramahnya yang seabrek (beliau seorang dai dengan jam terbang yang lumayan padat) serta hal-hal yang dirasakannya penting untuk dicatat. 

Misalnya dari hasil membaca beliau kemudian menemukan kata atau kalimat yang membingungkannya  maka beliau segera mencatatnya dan mencari tahu arti atau maksudnya. Biasanya kalau tidak menemukannya dalam kamus, beliau akan bertanya pada kami anak atau cucunya.

Khusus untukku, yang paling sering ditanya adalah urusan pernak-pernik dalam Bahasa Inggris. "Kenapa kalimat ini pakai s?", "Kenapa kalimat ini seperti ini, kalau seperti itu bagaimana? boleh tidak?" dan sebagainya. 
Kalau sudah begini, serasa ujian meja deh. Karena kalau saya menjawab tidak tahu maka Puang akan balik bertanya "Kenapa tidak tahu?Apaji pade ko tahu?" Huhuhu...

Kembali ke Puang.....seandainya beliau masih hidup rasanya ingin mengajak beliau membuat buku atau setidaknya berduet dengannya membuat buku. Sayang, saat kami masih bersama saya belum lagi seperti ini. Belum pernah membuat buku dan nulisnya juga sebatas cerpen-cerpen khas remaja dan anak.   Belum tertarik pada persoalan agama sebagaimana halnya Puang.

Insya Allah, jika diberi umur panjang ramadhan kali ini menjadi ramadhan kedua yang kami sekeluarga lewati tanpa sosok Puang. Namun begitu, kami akan senantiasa merindukan beliau bahkan terkadang sepertinya beliau masih berada di tengah-tengah kami. 

Puang bersama dua cucunya







 















No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...