Menyemai Cinta di Negeri Jiran

Saturday, 15 June 2013

Sebut saja namanya Ayu. Aku mengenalnya 13 tahun yang lalu saat kami sekeluarga pindah di sebuah kota kecil tempat suami bertugas. Ayu sekeluarga adalah keluarga baru kami selama berada di kota tersebut selama 8 tahun.  Keluarga Ayu, semuanya akrab dengan kami (mereka 13 bersaudara). Dan, persahabatan kami tetap berlanjut meski kemudian kami tak lagi menetap di kota kecil tersebut.

Sebenarnya aku tidak terlalu akrab dengan Ayu. Maklum, aku hanya sebentar mengenalnya karena tak lama kemudian ia kembali merantau dan bekerja di negeri Jiran, Malaysia. Berikutnya aku mengenalnya lewat cerita para saudaranya yang telah akrab denganku.

Ayu sendiri mempunyai saudara kembar, Sri. .Dengan Sri aku cukup akrab. Mungkin karena kami seumuran dan juga mempunyai anak yang seumuran (hihihi, kita pernah iseng ngejodohin anak masing-masing).  Dalam keseharian kami pun mempunyai tugas yang sama yaitu mengajar di PAUD. Qadarallah, beberapa bulan usai melahirkan anak ketiga Sri telah dipanggil Yang Maha Kuasa.

Singkat cerita, suami kemudian berkesempatan melanjutkan study S 3 nya di Malaysia. Setelah setahun sendiri di negeri tersebut, suami kemudian membawa kami sekeluarga ikut berhijrah di sana. Tentu saja di tempat baru ini kami tidak mempunyai sanak family. Tapi bukankah Imam Syafii telah mengatakan bahwa merantaulah maka di tempat baru nanti engkau akan mendapatkan keluarga yang baru. Ya udah, yuk merantau....

Setelah setahun di sini, aku pun teringat kalau Ayu pun menetap di Malaysia. Sebenarnya  sudah  beberapa kali aku meminta  alamatnya pada keluarga namun sayang mereka tahunya bahwa Ayu menetap di Selangor, Malaysia. Padahal Selangor kan nama negeri semacam provinsi kalau di negara kita. Kebayang kan seumpamanya di Indonesia, sama-sama Sulawesi Selatan tapi yang satu berada di Makassar satunya lagi di Luwu Utara. Jauh kan? Hayo yang di luar Sulawesi pasti bingung, hihihi....

Suatu hari sebuah panggilan masuk ke hp suami. Kebetulan suami yang mengangkatnya dan beliau langsung melonjak begitu tahu yang menelepon adalah Ayu. Segera telepon diangsurkan padaku namun hanya sesaat kuterima. Sungguh, aku tak paham dia cakap apa. Bahasanya bukan lagi bahasa Indonesia tapi melayu lengkap dengan logat dan istilah-istilah yang tidak kupahami. Pastilah, waktu 13 tahun telah mengubah gaya bicaranya.

Akhirnya suami yang melanjutkan percakapan tersebut. Dan diketahuilah bahwa ternyata Ayu tinggal sekota dengan kami. Hanya saja kami berada di daerah pinggiran sedangkan ia berada di pusat kotanya.  Alhasil, Ayu berjanji akan datang mengunjungi kami setelah diberikan alamat lengkap.

Malamnya, Ayu menepati janji. Dengan ditemani anak perempuannya yang berumur 6 tahun dan seorang kawan asal Bandung yang telah lama menetap di sini bahkan bersuamikan lelaki Malaysia lengkap dengan ketiga anaknya, rombongan kecil itu tiba di rumah.  Seperti biasa yang dikeluhkan orang yang baru pertama kali berkunjung ke rumahku. Capek naik tangga..... (kami tinggal di flat lantai 4).

Segera saja kedatangan rombongan kecil itu menyemarakkan rumah kami. Anak-anakku juga senang karena mendapat kawan baru, 4 sekaligus. Tentu saja aku dan suami juga sangat senang. Berbagai cerita kemudian bergulir. Tentang kerinduan akan tanah kelahiran. Tentang suka duka berada di negeri orang. Maupun kisah-kisah ringan lainnya.

Sebagai balasannya, beberapa hari kemudian kami mengadakan kunjungan balik. Namun karena suami yang bertindak sebagai driver belum hapal jalanan maka kami janjian untuk bertemu di sebuah tempat dan dari sana kami menuju kediaman Ayu.

Sejak itu, kami sering mendatangi rumah Ayu. Ayu yang dalam kesehariannya kini bekerja untuk dirinya sendiri dan tidak lagi bergantung pada orang lain. Setiap hari ia membuat aneka jenis makanan yang kemudian dijualnya sendiri di gerai (lapak)nya yang terletak di sebuah persimpangan jalan tak jauh dari rumahnya.

Meski hanya menjual aneka cemilan seperti gorengan dan kue basah namun penghasilan yang diperoleh Ayu terbilang fantastis untuk pekerjaan sejenis itu di negeri kita. Rata-rata perhari Ayu bisa mendapat 500 RM (sekitar 1,5 juta perhari). Belum lagi bila musim cempedak tiba maka ia bisa memperoleh lebih banyak karena cemilan cempedak goreng sangat diminati oleh penduduk negeri ini.

Dengan penghasilan sebanyak itu, maka Ayu kemudian memasukkan anaknya ke sekolah Cina bukan ke sekolah kerajaan. Alasannya sangat mulia, ia ingin anaknya itu mendapatkan bekal pendidikan yang baik  sehingga dikemudian hari menjadi orang yang lebih baik dari kedua orang tuanya. Tentu saja dengan masuk ke sekolah tersebut mendapatkan konsekuensi. Ayu harus membayar biaya sekolah lebih mahal padahal jika anaknya masuk ke sekolah kerajaan maka anaknya tidak dipungut biaya apapun alias free (anaknya sudah termasuk warga negara Malaysia sementara Ayu dan suaminya masih mengajukan permohonan untuk berganti kewarganegaraan). Belum lagi aneka jenis tuition yang harus diikuti seperti tuition Bahasa Cina, Bahasa Inggris, Tennis dan sebagainya.

Tentu saja penghasilan Ayu yang besar ditunjang dengan kerja keras. Bayangkan, sendirian ia membuat puluhan jenis kue, diantaranya kue bugis, koci, lapis, klepon, donat, lepet ubi, telur kodok. Belum lagi aneka jenis gorengan seperti ubi, pisang, kerupuk lekor serta cempedak goreng. Apalagi setelah membuat kue tersebut ia tidak bisa beristirahat karena harus segera membawa jualannya itu ke gerainya. Sampai di sana ia masih harus menggoreng sembari melayani para pelanggannya.

Sebenarnya Ayu pernah beberapa kali mempunyai asisten. Namun karena ketidakjujuran mereka maka Ayu kemudian memutuskan hubungan pekerjaan dengan mereka. Ada yang senantiasa menyelipkan  uang pemasukan ke saku pribadinya bahkan ada yang pernah menggondol semua perhiasannya yang disimpan di dalam lemari. Karenanya Ayu kemudian sulit untuk menerima orang baru dan memilih untuk bekerja sendiri. Sementara suaminya tidak bisa terlalu diharap karena ia mempunyai bisnis sendiri dan hanya sesekali bisa membantu istrinya.

Kembali ke soal hubunganku dengan Ayu. Usai pertemuan demi pertemuan tersebut tentu saja hubungan kami semakin akrab. Apalagi setiap kali bertemu dengannya aku seakan melihat kembali sosok Sri (Rahimahullah). Kerinduanku pada tanah kelahiran, pada orang-orang tercinta yang berada di sana seakan terobati setiap kali aku mengunjunginya.

Kedekatan kami juga ternyata menggembirakan para keluarga Ayu yang berada di tanah air. Dengan kehadiran kami setidaknya mereka bisa sedikit lega karena Ayu tak lagi sendiri di negeri orang. Begitupun dengan Ayu, kehadiran kami membuat kerinduannya akan keluarga bisa terobati. Terlebih aku masih suka menggunakan logat serta bahasa daerah setelah cukup pegal berbahasa melayu. Ayu pun sangat antusias untuk menggunakan bahasa daerah tersebut meski jadinya terdengar aneh karena pengaruh bahasa melayu yang telah kental dalam dirinya.

Alhamdulillah, benarlah perkataan Imam Syafi'i tersebut. Di negeri jiran ini kami mendapatkan keluarga pengganti. Ayu sekeluarga dan juga beberapa keluarga para pendatang maupun warga tempatan lainnya. Karenanya jangan pernah takut merantau. Merantaulah dan semailah cinta di tempat barumu.  

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Niken Kusumowardhani

6 comments:

  1. Inna lillah. Turut berduka atas berulangnya saudari kembar ta'.

    Subhanallah, salut sama Ayu. Mudah2an persahabatan kalian langgeng ya. Oya, saya juga ikut GA ini :)
    Eh, jangan lupa gambar banner GAnya, Bu. Itu syarat lho ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bu Niar, kok saudara kembarku sih? (waduh, jangan2 saya salah tulis nih...) yang meninggal tuh saudara kembar Ayu, Sri.
      oya, saya sudah pasang banner-nya di sisi kanan. Udah benar kan?
      Bu Niar ikutan juga? mudah2an kita berdua menang ya.....*hadiahnya bagus2 sih...*

      Delete
  2. Semoga persahabatan mnak Haeriah dan ayu langgeng dan membawa keberkahan buat keluarga.

    Terima kasih atas partisipasinya, sudah tercatat sebagai peserta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih juga udah bikin event ini...

      Delete
  3. keluarga baru di tempat rantau, benar sekali! beberapa kali pindah kota, selalu saja aku dapat orang orang yang bisa menerima aku seperti keluarganya sendiri...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ternyata kita tak perlu takut untuk merantau ya,Pak... Justru dengan merantau keluarga baru, teman baru maupun pengalaman baru akan didapat. terima kasih atas kunjungannya.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...